Catatan Kajian Mengenali dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia

Alhamdulillah pada hari Senin, 5 Mei 2014, bertepatan dengan salah satu hari libur dalam rangkaian Golden Week di Jepang, KMI-S dapat menyelenggarakan kajian spesial dengan tema “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia.” Kajian ini disampaikan langsung oleh salah satu Ketua harian MUI Pusat, Al-Ustadz (Prof. Dr.) Yunahar Ilyas, yang membidangi Divisi Kajian dan Penelitian MUI Pusat.

kmis-5mei2014

Sedikit ulasan seputar profil pemateri, Ustadz Yunahar adalah pengarah utama dari penulisan buku yang diterbitkan oleh MUI Pusat seputar penyimpangan sekte Syi’ah. Selain itu, beliau adalah salah satu ketua PP Muhammadiyah, ormas Islam terbesar kedua di Indonesia. Dengan kapasitasnya tersebut, beliau menyampaikan pandangan berbagai komunitas ulama maupun organisasi tempat ulama berhimpun mengenai penyimpangan Syi’ah dan tidak semata-mata sebagai klaim sepihak dari perorangan yang kadang-kadang bisa mengelabui orang yang awam dengan permasalahan Syi’ah.

Misalnya, dari yang kita baca atau dengar dari media, terkadang ada klaim “Muhammadiyah menyatakan Syi’ah tidak sesat,” atau “MUI tidak pernah mengeluarkan buku panduan yang menerangkan penyimpangan Syi’ah”, dst, padahal sebenarnya pernyataan-pernyataan tersebut bukanlah pernyataan resmi dari lembaga. Bisa jadi pula, pernyataan-pernyataan tersebut merupakan rekaan dari orang-orang Syi’ah atau orang-orang yang (secara tidak sadar) tersusupi paham Syi’ah untuk mengadu domba sesama muslim, ahlussunnah wal jama’ah.

 Kajian di Sendai kali ini berlangsung sangat intensif dan menarik sehingga waktu selama 3 jam nyaris tak terasa. Alhamdulillah, Ustadz Yunahar yang begitu bersemangat dan sangat menguasai ilmu ushuluddin membuat warga KMI-S tetap seksama mengikuti kajian hingga selesai. Selain membagikan secara gratis buku panduan MUI seputar penyimpangan Syi’ah, Ustadz Yunahar juga menyediakan slide presentasi yang kini dapat disimak dari halaman berikut:

Di bawah ini, kita akan sedikit membahas beberapa catatan penting berdasarkan kajian ini yang perlu kita ketahui seputar Syi’ah dan bagaimana kita perlu menyikapi jika mengetahui ada rekan-rekan kita yang mengikuti paham Syi’ah.

Semoga bermanfaat.

Baarakallah fiikum
Divisi Tarbiyyah KMI-S 2013/2014

Kontroversi tentang Syi’ah: Tinjauan Historis dan doktrin

Di atas segala permasalahan seputar Syi’ah, poin terpenting yang perlu kita catat adalah bahwa paham Syi’ah TIDAK pernah dikenal semasa Rasulullah shallallaahu’alaihi wa Sallam. Syi’ah adalah produk sejarah pasca kenabian sebagai dinamika sosial politik yang terjadi saat itu. Oleh karenanya, kita terlebih dulu harus paham bagaimana Syi’ah bisa muncul sehingga kita bisa mengambil sikap yang tepat dan akhirnya mengetahui hakikat penyimpangan paham ini.

Fakta Sejarah

Runtutan berikut ini sesuai catatan presentasi dari Ustadz Yunahar yang disusun secara singkat, ditambahkan dengan beberapa penjelasan dari rekaman kajian:

  1. Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam wafat.
  2. Peristiwa Tsaqifah Bani Sa’ad, yaitu berkumpulnya para shahabat utama (seperti Abu Bakar, Umar, dll) untuk membicarakan suksesi kepemimpinan umat pascca wafatnya Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam). Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu diputuskan secara bulat oleh seluruh shahabat untuk menjadi Khalifah.
  3. Abu Bakar dibaiat menjadi Khalifah. Penting diketahui bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu turut membaiat Abu Bakar DENGAN SUKARELA di Masjid Nabawi dan bahkan MEREKOMENDASIKAN kepemimpinan Abu Bakar. Fakta ini mematahkan klaim Syi’ah bahwa Ali bin Abi Thalib “sakit hati” tidak menjadi khalifah.
  4. Sebelum wafat, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu menjadi Waliyu al-‘Ahdi untuk menjamin akan ada kepemimpinan yang jelas agar menghindari konflik politik setelah wafatnya beliau.
  5. Abu Bakar wafat, Umar dibaiat menjadi Khalifah Kedua. Lagi-lagi, Ali bin Abi Thalib turut serta dan antusias dalam pembaiatan ini.
  6. Panglima Sa’ad bin Abi Waqas berhasil menaklukkan Persia dan menyebarluaskan Islam di sana. Namun, bisa jadi dalam proses penyebarannya kaum muslimin yang baru saja masuk Islam masih mengadaptasi budaya-budaya Persia yang sebelumnya beragama Zoroastrianisme dan Majusi. Dengan demikian, tidak mengherankan jika saat ini kita lihat beberapa ritual ibadah Syi’ah yang berasal dari Iran banyak kesamaannya dengan ritual ibadah agama nenek moyang mereka.
  7. Husain bin ‘Ali radhiyallahu’anhuma menikahi Syaharbanu, puteri Kisra Persia Yazdajurd. Dari Syaharbanu lahir Abu Muhammad, Ali bin Husain bin Ali Zainul Abidin (38-95), yang dianggap sebagai imam keempat dari 12 imam Syi’ah. Mungkin ini salah satu faktor juga mengapa Husain lebih mendapat banyak penokohan dalam literatur Syi’ah daripada Hasan bin ‘Ali radhiyallahu’anhuma.
  8. Tidak seperti Abu Bakar, kali ini Umar membentuk tim formatur untuk memilih Khalifah penerusnya ketika wafat. Tim formatur terdiri dari enam orang shahabat paling disegani saat itu, yaitu Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin ‘Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, radhiyallahu’anhum. Hal yang menarik dari tim formatur ini, Umar menyatakan bahwa Khalifah sepeninggal beliau harus merupakan anggota tim formatur tersebut sehingga Khalifah dipilih dari sesama tim formatur sendiri. Faktanya, setelah Umar wafat, semua shahabat dalam tim formatur ini buru-buru menyatakan tidak ingin jadi khalifah. Abdurrahman bin ‘Auf paling terlambat menyatakan keinginannya untuk tidak jadi khalifah sehingga ia didaulat untuk memilih siapa yang layak jadi khalifah.
  9. Setelah Umar wafat, tim formatur yang dipimpin oleh memilih Abdurrahman bin ‘Auf memutuskan Utsman bin ‘Affan sebagai Khalifah Ketiga.
  10. Masa kelam dalam politik kepemimpinan di masa Khulafaur Rasyidin dimulai ketika Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman (pura-pura) masuk Islam. Kemudian, ia pergi menemui Utsman di Madinah, tapi tidak mendapat sambutan. Lalu dia pergi ke Bashrah, Syam dan Mesir. Di Mesir, Abdullah bin Saba’ mendapat tempat dan mulai menanamkan kultus individu kepada Ali bin Abi Thalib dan mengatakan Ali-lah yang dapat wasiat dari Nabi untuk menjadi Khalifah, tetapi haknya itu dirampas oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bisa kita bayangkan, tanpa akses media informasi semudah masa sekarang, tentu kaum muslimin saat itu mudah sekali terhembus isu dan tidak mudah memverifikasi kebenaran isu tersebut kepada pemimpin negara dalam jarak yang begitu jauh.
  11. Setelah terhembus isu dari Abdullah bin Saba’, sekitar 600 demonstran datang dari Mesir ke Madinah, mereka membunuh Utsman bin ‘Affan dan memaksa Ali menjadi Khalifah. Ali menyadari bahwa para demonstran ini sebenarnya adalah pembangkang dan pembunuh Utsman. Namun, dengan potensi kekuatan mereka yang menurut Ali cukup besar di saat umat saat itu belum mampu berkonsolidasi karena terkejut dengan pembunuhan ‘Utsman, maka Ali menerima untuk dibaiat sebagai Khalifah dan membiarkan para demonstran ini bergabung dengan pasukan Ali. Beliau khawatir jika para pembunuh ini diadili sebelum tegaknya fakta dan kuatnya konsolidasi para shahabat, maka ada potensi pemberontakan yang lebih besar dari Saba’iyyah (pengikut Abdullah bin Saba’) yang cukup kuat di Mesir dan ada potensi kaum muslimin lebih terhasut isu yang menyesatkan. Para shahabat lainnya di Madinah yang saat itu mengetahui kejadian sebenarnya terkait wafatnya Utsman pun mendukung Ali menjadi Khalifah serta turut serta mengikuti sikap Ali terhadap para demonstran. Dalam pandangan Ali, ia perlu mengumpulkan dulu seluruh kekuatan kaum muslimin sebelum bisa mengadili para demonstran dan pembunuh Utsman. Namun, akibat sikapnya ini, ‘Aisyah radhiyallahu’anha yang saat itu baru pulang dari Makkah dan belum mengetahui duduk perkara yang sebenarnya tidak bersedia membaiat Ali dan menuntut dulu pembunuh Utsman dieksekusi. Demikian pula sikap Mu’awiyyah radhiyallahu’anhu di Syam yang menuntut agar perkara pembunuhan Utsman diselesaikan secepatnya. Mu’awiyyah baru akan membaiat Ali jika Ali mengeksekusi para pembunuh Utsman.
  12. Thalhah dan Zubair (yang juga dulunya termasuk tim formatur sepeninggal Umar) bergabung bersama ‘Aisyah menentang Ali agar segera menuntut balas atas kematian Utsman. Mereka bertemu di Irak untuk bernegosiasi. Namun, satu insiden (yang sangat besar kemungkinannya oleh penghasut) terkait terbunuhnya kurir pesan Ali menyebabkan Ali menyatakan perang terhadap Aisyah dkk. Pasukan ‘Aisyah dapat dikalahkan oleh pasukan Ali dalam satu hari saja, dan setelah itu ‘Aisyah memahami apa yang diinginkan Ali dalam menyelesaikan masalah kepemimpinan. Setelah perang tersebut, terlebih dengan wafatnya Thalhah dan Zubair dalam perang, ‘Aisyah memutuskan untuk menghindar dari segala urusan politik dan memilih menyepi untuk mengajarkan Islam saja (dalam masa inilah ‘Aisyah banyak meriwayatkan hadits). Setelah insiden perang tersebut pula, Ali memindahkan pusat kepemimpinan ke Irak dan menyiapkan diri menyelesaikan konflik dengan Mu’awiyyah.
  13. Mu’awiyah yang saat itu menjadi gubernur Syam berperang dengan Ali dalam perang yang dikenal dengan nama perang Shiffin. Lagi-lagi Ali mampu menyelesaikan masalah ini dan perang berakhir dengan tahkim. Pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari dan pihak Mu’awiyah oleh ‘Amru ibn ‘Ash. Walau tidak ditunjukkan dalam aksi fisik secara langsung, dari sini bibit-bibit konflik politis semakin membesar di antara sesama kaum muslimin. Para shahabat sebagai insan yang terdidik langsung oleh Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam memang akhirnya mampu menyelesaikan konflik di antara mereka. Namun, para pengikut yang kebanyakan tidak tahu akar masalah konflik menyimpan bermacam bara dendam yang kelak merembet ke penyimpangan aqidah.
  14. Meskipun Mu’awiyyah dan Ali menyelesaikan konflik politis mereka dengan tahkim, ribuan pengikut Ali justru menolak tahkim. Mereka keluar dari barisan Ali sehingga dikenal sebagai kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan baik Ali maupun Mu’awiyyah dan memandang halal darah keduanya. Oleh karenanya, Khawarij dikenal sebagai gerakan ekstrem radikal.
  15. Khawarij berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib. Meski demikian, sering kali kita dengar pula klaim pihak Syi’ah bahwa Ali dibunuh oleh agen Mu’awiyyah. Ini berlawanan dengan fakta sejarah.
  16. Masalah suksesi kepemimpinan terjadi lagi pasca meninggalnya Ali dengan ketidakjelasan siapa yang harus memimpin umat. Hasan bin Ali yang sangat difavoritkan tidak bersedia diangkat jadi Khalifah karena ingin umat Islam bersatu. Ia malah memandang Mu’awiyyah sangat layak menjadi khalifah. Hanya saja, Hasan bin Ali meminta agar kelak Mu’awiyyah jangan pernah memilih pengganti berdasarkan keturunan. Dengan demikian, Mu’awiyyah dikukuhkan sebagai Khalifah dan menggantikan Ali. Tahun itu disebut ‘Am al-Jam’i (tahun persatuan). Fakta ini pun turut membantah klaim Syi’ah bahwa Mu’awiyyah merebut kekuasaan semena-mena tanpa persetujuan umat.
    Catatan: Semasa Mu’awiyyah, kekhalifahan Islam semakin luas dan pemerintahan relatif stabil. Hanya saja para pengikut Ali yang masih sakit hati tetap menunggu kesempatan untuk mengambil kepemimpinan. Selain itu, Mu’awiyyah dengan kekhawatirannya mengenai suksesi kepemimpinan akhirnya malah menunjuk putranya sendiri, Yazin bin Mu’awiyyah, sebagai calon khalifah sepeninggalnya.
  17. Setelah Mu’awiyyah wafat, Yazid mengambil alih kepemimpinan. Di saat itu, tersisa Husain bin Ali sebagai keturunan utama dari Ali bin Abi Thalib. Sisa-sisa Saba’iyyah dan penghasut dari pendukung Ali menghembuskan isu kepada Husain bahwa dirinya sepantasnya menentang kepemimpinan Yazid karena Yazid mendapatkan kepemimpinan berdasarkan keturunan. Mereka kemudian membentuk pasukan untuk menemui Yazid bersama-sama dan hendak bernegosiasi dengan Yazid. Dalam perjalanan, pasukan Yazid terhasut fitnah dan membantai Husain beserta keluarganya di Karbala di saat para pengikut Husain justru kabur meninggalkan perjalanan. Beberapa anggota keluarga keturunan Ali yang tersisa ada yang selamat. Namun, para pengikut Husain yang kabur justru melebih-lebihkan kisah kematian Husain dan akhirnya kini menjadi ritual tersendiri dalam agama Syi’ah, yaitu peringatan tragedi Karbala.

Wafatnya Husain bisa dianggap sebagai titik awal paling besar dalam pembentukan aqidah Syi’ah yang berbeda dengan ahlussunnah wal jama’ah. Padahal, persoalan wafatnya Husain merupakan persoalan politik yang seharusnya tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Sangat masyhur pula dalam catatan sejarah bahwa Yazid, meskipun dikenal sebagai pemimpin yang kurang cakap, sangat merasa bersalah dan menyesali wafatnya Husain, apalagi saat itu Yazid tidak terlibat langsung dalam insiden Karbala dan tidak mengetahui pasukannya akan menyerang Husain beserta keluarganya.

Seputar Istilah Syi’ah

Syi’ah secara bahasa berarti pendukung, pengikut, penolong seseorang, golongan. Jama’-nya syiya’un, dan jam’ul jam’i-nya asyya’un. Kata syi’ah, syiya’u dan asyya’u terdapat 13 kali dalam Al-Qur’an, antara lain:

ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا

Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 69)

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan… (Al-An’am: 159)

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 51)

Dalam teks tahkim antara Ali dan Mu’awiyah digunakan istilah syi’ah untuk kedua golongan, yaitu Syi’atu Ali dan Syi’atu Mu’awiyyah. Penggunaan Syi’ah secara khusus untuk pengikut Ali baru terjadi setelah kematian Ali atau setelah kematian Husain (ini pendapat yang tampaknya lebih kuat).

Syi’ah terpecah ke dalam banyak sekali aliran (firaq), yang secara garis besar dapat dikelompokkan dalam tiga kategori:

  1. Ghaliyah: Sampai mempertuhankan Ali. Di antara kategori ini adalah Nusyairiyyah dan Alawiyyah di Suriah, yang menjadi agama penguasa di sana. Meskipun mereka minoritas, dengan kekuasaannya sering menyiksa kaum muslimin.
  2. Rafidhah atau Imamiyah: Menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman, bahkan menganggap mereka kafir. Meski demikian, sering kali Rafidhah menyembunyikan anggapan kekafiran para khalifah ini dalam pernyataannya, tidak terang-terangan (taqiyyah), hanya ketika berada sesama mereka saja Rafidhah mencaci maki para shahabat selain Ali dan orang-orang yang mereka anggap suci.
  3. Zaidiyah: Mengutamakan Ali dibanding Abu Bakar, Umar dan Utsman tetapi tidak menolak kekhalifahan mereka. Zaidiyah sebenarnya pada awalnya muncul sebagai salah satu madzhab fiqh, bukan aqidah, sehingga sering juga dianggap bagian dari ahlussunnah wal jama’ah.

Syi’ah yang dominan pada masa kini, seperti di Iran, dan juga di Indonesia adalah kategori nomor dua, lebih spesifiknya istilahnya adalah Syi’ah Al Imamiyah Al-Itsnay ‘Asyriyah (dua belas imam).

Persoalan Imamah (kepemimpinan) setelah Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam

Menurut Ahlus Sunnah, Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam tidak pernah menunjuk atau memberi wasiat kepada siapapun untuk menjadi Imam setelah beliau meninggal dunia. Imamah/kepemimpinan setelah beliau meninggal dunia diserahkan kepada umat yang akan memilihnya dengan musyawarah. Proses musyarwarah ini salah satunya ditunjukkan dalam peristiwa Tsaqifah Bani Sa’ad ketika para shahabat sepakat menunjuk Abu Bakar radhiyallahu’anhu sebagai khalifah.

Namun, menurut Syi’ah, Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam telah berwasiat bahwa yang akan menjadi Imam setelah beliau adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian diteruskan oleh anaknya Hasan dan Husain dan keturunannya. Mereka menyatakan bahwa hak Ali itu telah dirampas oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman, yang masing-masing justru telah dibaiat oleh para shahabat (termasuk Ali sendiri). Kaum Syi’ah membuat-buat banyak hadits untuk mendukung opini mereka ini. Dari sinilah kemudian muncul kebencian kepada Abu Bakar, Umar, Utsman dan hampir semua sahabat Nabi. Termasuk kebencian terhadap ‘Aisyah dan Hafsah yang banyak meriwayatkan hadits untuk Ahlus Sunnah (Sunni). Semua doktrin dan ajaran dalam Syi’ah berpangkal dari persoalan imamah ini, serta ditambah pula faktor luar seperti pengaruh doktrin yang disebarluaskan oleh Abdullah bin Saba’.

Sebagai konsekuensi dari pandangan Syi’ah terhadap Ali seperti itu, serta pandangan bahwa Abu Bakar, Umar dan Utsman telah merampas hak Ali, ketiga khalifah terdahulu ini kemudian dinyatakan sebagai orang-orang yang zalim dan fasiq sehingga riwayat hadits mereka ditolak. Karena banyak shahabat membai’at tiga khalifah ini, para shahabatpun dianggap zalim dan fasik sehingga riwayat hadits mereka juga ditolak. Syi’ah dikenal hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait atau dari beberapa shahabat saja yang tidak mereka kafirkan seperti Salman Al-Farisi yang (mungkin karena berasal dari Persia) diterima riwayatnya. Mereka pun memiliki hadits tersendiri untuk membantah fakta bahwa Ali telah membaiat para khalifah yang terdahulu.

Teks celaan terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai contohnya dapat ditemukan dengan mudah dalam kitab-kitab rujukan utama Syi’ah sendiri. Contohnya dalam kitab hadits versi mereka untuk riwayat yang berasal dari Imam Dua Belas, yaitu Kitab Al-Kafi (silakan cek slide presentasi Ustadz Yunahar). Anehnya, jika kaum Syi’ah dikritisi dengan kitab Al-Kafi ini, mereka sering berkelit kitab itu bukan kitab rujukan utama yang tidak pernah salah, dan mereka sering berkelit bahwa kitab hadits rujukan mereka sama saja seperti Sunni, yaitu Bukhari-Muslim dan kitab hadits lainnya.

Konsep Imam Dua Belas

Menurut Syi’ah, pemimpin mereka hanyalah para imam dua belas, dimulai dari Ali bin Abi Thalib, yaitu:

  1. Abu Hasan, Ali bin Abi Thalib, Al-Murtadha (23 SH-40H)
  2. Abu Muhammad, Hasan bin Ali , Az-Zakiy (2-50)
  3. Abu ‘Abdillah, Husain bin Ali, Asy-Syahid (3-61)
  4. Abu Muhammad, Ali bin Husain bin Ali, Zainul Abidin (38-95)
  5. Abu Ja’far, Muhammad bin Ali bin Husain, Al-Baqir (57-114)
  6. Abu Abdillah, Ja’far bin Muhammad bin Ali, Ash-Shadiq (83-148)
  7. Abu Ibrahim, Musa bin Ja’far bin Muhammad, Al-Kazhim (128-183)
  8. Abu Hasan, Ali bin Musa bin Ja’far, Ar-Ridha (148-203)
  9. Abu Ja’far, Muhammad bin Ali bin Musa, Al-Jawwad (195-220)
  10. Abu Hasan, Ali bin Muhammad bin Ali, Al-Hadi (212-254)
  11. Abu Muhammad, Hasan bin Ali bin Muhammad, Al-Askari (232-260)
  12. Abu Qasim, Muhammad bin Hasan bin Ali bin Muhammad, Al-Mahdi (255-sekarang)

Perhatikan imam yang terakhir. Karena terlanjur sudah meyakini imamnya hanya ada dua belas sejak awal, maka Al-Mahdi ini mereka yakini sudah lahir, namun sedang hilang, atau bersembunyi, dan nanti menjelang kiamat akan datang untuk memimpin Syi’ah (dan seluruh umat Islam) dengan paham ala Syi’ah. Begitu fanatisnya Syi’ah terhadap imam dua belas ini sehingga dianggap tidak ada shalat Jum’at tanpa imam yang dua belas.

Menariknya, karena tidak boleh ada imam selain imam yang dua belas ini, Syi’ah Rafidah di Iran sedikit memodifikasi ajaran mereka, bahwa kepemimpinan Al-Mahdi untuk sementara bisa “diwakilkan” kepada pemimpin mereka saat ini (Ayatullah). Ini salah satu alasan mengapa sekarang ada shalat Jum’at dalam ajaran Syi’ah di Iran yang terpusat di satu tempat.

Kaum Syi’ah pun meyakini bahwa imam dua belas ini bersifat ma’shum (tidak pernah salah) dalam ajaran agamanya. Bahkan, mereka menganggap Al-Quran yang dipegang Sunni saat ini ada yang disembunyikan/dihapuskan ketika masa pembukuan oleh khalifah Utsman bin ‘Affan. Al-Quran bisa lengkap hanya melalui kalam para imam mereka. Logika yang sangat aneh bahwa jika memang demikian, mengapa Ali bin Abi Thalib tidak mengeluarkan seluruh ayat Al-Quran yang mereka anggap telah disembunyikan?

Dari basis kepercayaan terhadap imam dua belas ini, Syi’ah memiliki doktrin aqidah yang khas dalam ajaran mereka, di antaranya Al-Imamiyah, Al-’Ishmah, At-Taqiyah, Al-Mahdiyah wa al-Ghaibiyah, Ar-Raj’ah, Azh-Zhuhur, Al-Bada, dan Ath-Thinah. Salah satu doktrin yang cukup dikenal adalah At-Taqiyah, yaitu tipu daya, atau sembunyi-sembunyinya mereka dalam menyebarkan Syi’ah secara halus. Mereka tidak segan berbohong untuk mendapatkan simpati. Ketika berhadapan dengan umat Islam secara luas dan ketika berhadapan dengan sesama mereka sendiri, pernyataan-pernyataan Syi’ah sering kontradiktif.

Al-Quran menurut Syi’ah

Dalam pandangan Syi’ah, Al-Quran tidak menjadi hujjah kecuali melalui salah seorang Imam. Mereka mengatakan para Imam adalah Al-Quran yang berbicara, sedangkan Al-Quran itu sendiri adalah Al-Qur’an yang diam. Selain itu, Al-Quran dianggap punya makna batin yang hanya diketahui oleh para Imam dan seperti yang telah disebutkan di atas, Al-Quran dianggap telah mengalami pengurangan pada zaman Utsman bin ‘Affan, dari 17.000an ayat tinggal 6000an ayat. Untuk menegaskan adanya ayat yang “hilang”, dalam kitab Al-Kafi rujukan Syi’ah disebutkan salah satu surat yang hilang, yang sebenarnya hanya rekaan Syi’ah. Surat tersebut bernama Surat Al-Wilayah (bisa dicek di slide presentasi Ustadz Yunahar).

Syi’ah-Sunni di Indonesia

Sesuai Rakernas di MUI Pusat pada Maret 1984, paham Syi’ah telah didefinisikan sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan madzhab Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya:

  1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak membeda-bedakan asal hadis itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits.
  2. Syi’ah memandang “Imam” sebagai orang yang ma’shum (suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
  4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan ke-imamahan-an adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.
  5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Shiddiq, Umar Ibnul Khathab, dan Utsman bin ‘Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat KhulafaurRasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib)

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti di atas, terutama mengenai perbedan tentang “Imamah” (pemerintahan), MUI pun menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah. Alasannya, dalam kepemimpinan Syi’ah, selalu jelas bahwa setiap dinasti yang berdasarkan pada paham Syi’ah sangat menindas Sunni. Contoh yang sangat kentara saat ini di Suriah, Irak, Iran, dan Libanon. Penguasa yang berpaham Syi’ah membunuhi kaum Sunni yang tidak mau menuruti paham mereka. Sementara itu, memang bahwa dalam beberapa kasus penguasa Sunni melakukan kekerasan pada Syi’ah, tetapi sebenarnya lebih dominan toleransi dari penguasa tersebut kepada penganut ajaran apa saja. Contonya seperti di masa kejayaan kekhalifahan Islam di masa lampau, sedikit sekali catatan kekerasan terhadap penganut ajaran selain Islam.

Beberapa Panduan ataupun Fatwa dari Lembaga Islam di Indonesia

Terkait menyebarnya Syi’ah di Indonesia, yang sering disertai konflik-konflik yang seolah-olah menunjukkan mereka sebagai kaum yang tertindas (padahal tidak demikian), maka beberapa lembaga dan ormas Islam di Indonesia telah menerbitkan panduan ataupun fatwa yang menghimbau umat Islam di Indonesia untuk menyikapi permasalahan ini dengan baik. Misalnya pada akhir 2013 lalu, MUI Pusat menerbitkan buku panduan dengan judul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”. Buku ini bukanlah fatwa yang mengikat, semata-mata sebagai panduan saja untuk mengenali hakikat Syi’ah.

Menurut Ustadz Yunahar, MUI Pusat tidak bisa mengeluarkan fatwa sesat/kafir secara langsung kepada Syi’ah mengingat potensi besar konflik yang akan dihasilkan. Selain itu, walau diyakini ada beberapa oknum Syi’ah yang menyusup ke dalam tubuh MUI, tetap saja MUI tidak bisa mengeluarkan mereka secara langsung karena dengan aqidah At-Taqiyah akan sangat sulit menjustifikasi orang per orangan sebagai pengikut Syi’ah. Hanya beberapa lembaga Syi’ah saja yang bisa dinilai sebagai “benar-benar Syi’ah” seperti Jamaah Ahluh Bait Indonesia atau beberapa tokoh Syi’ah yang memang jelas-jelas menyatakan dirinya Syi’ah. Ustadz Yunahar lebih lanjut mengatakan cukuplah MUI memberikan buku panduan sebagai suatu isyarat kesesatan Syi’ah, tanpa perlu ditanyai lagi apakah Syi’ah itu sesat atau tidak. Orang yang cerdas sepantasnya mengerti hakikat Syi’ah yang sebenarnya.

Meski MUI Pusat tidak mengeluarkan fatwa khusus seputar Syi’ah, MUI Jawa Timur pada tahun 2012 cukup berani mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syi’ah sebagai berikut:

  1. Mengukuhkan dan menetapkan keputusan MUI-MUI Daerah (di Jawa Timur) yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna ‘Asyriyah dan/atau yang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyriyah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.
  2. Menyatakan bahwa penggunaan Istilah Ahlul Bait untuk pengikut Syi’ah adalah bentuk pembajakan kepada Ahlul Bait Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam yang sesungguhnya. (Catatan KMI-S: bahkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha yang sering dicela Syi’ah justru adalah seorang Ahlul Bait yang sesungguhnya.)

Muhammadiyah (tempat Ustadz Yunahar banyak beraktivitas) sebagai salah satu ormas besar di Indonesia juga mengeluarkan pandangan secara khusus terhadap Syi’ah. Pandangan Muhammadiyah sebagai organisasi tentunya patut dipahami berbeda dengan pandangan perorangan tokoh Muhammadiyah. Artinya, jika ada ketua Muhammadiyah, atau tokoh Muhammadiyah tertentu yang mengklaim semacam “Syi’ah tidak sesat”, “Syi’ah dan Sunni bisa bersatu”, dst, itu hanyalah pandangan pribadi yang sama sekali tidak mewakili mekanisme keputusan organisasi. Pandangan Muhammadiyah dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Muhammadiyah meyakini hanya Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam yang ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep kesucian para imam (‘ishmatul aimmah) dalam ajaran Syi’ah.
  2. Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam tidak menunjuk siapapun pengganti beliau sebagai Khalifah. Kekhalifahan setelah beliau diserahkan kepada musyawarah umat. Jadi, kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhum adalah sah. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep rafidhahnya Syi’ah.
  3. Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib sebagaimana para shahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib maupun keturunannya.
  4. Syi’ah hanya menerima hadits dari jalur Ahlul Bait, ini berakibat ribuan hadits sahih walaupun riwayat Bukhari Muslim ditolak oleh Syi’ah. Dengan demikian, banyak sekali perbedaan antara Syi’ah dan Ahlusunnah, baik masalah aqidah, ibadah, munakahat dan lain-lain.

Hal demikian pun seharusnya berlaku untuk ormas seperti NU yang kerap kali dipandang memberikan dukungan terhadap Syi’ah. Nyatanya, pendiri NU dan organisasi NU di masa awal pembentukannya sudah mewanti-wanti kesesatan Syi’ah. Sebagai contoh, Hasyim Asy’ari rahimahullah menulis dalam Qanun Asasi Li Jam’iyah Nahdlatul Ulama mengenai kesesatan Syi’ah. Pandangan ini sering bertolak belakang dengan ulama NU belakangan yang dikutip mendukung Syi’ah. Seolah-olah bahwa tokoh NU belakangan merepresentasikan NU secara keseluruhan untuk mendukung Syi’ah, padahal di basis massa dan di basis organisasi secara besar menentang Syi’ah. Faktanya, ketika ada konflik Sampang, penentang Syi’ah paling kuat adalah massa NU sendiri, secara khusus adalah kebanyakan ulama NU Jawa Timur yang sayangnya memang tidak terlibat sebagai corong organisasi. Untuk lebih lanjut mengenai fatwa NU / Syaikh Hasyim Asy’ari seputar kesesatan Syi’ah dapat pula dilihat di lampiran buku panduan MUI.

Bagaimana kita berinteraksi dengan kelompok sesat/terindikasi sesat?

Sesuai dengan seberapa jauh suatu kelompok atau perorangan menyimpang dari jalan Islam yang benar, maka tingkat kesesatan suatu kelompok sesat/terindikasi sesat akan berbeda-beda pula, dengan perlakuan hukum yang berbeda (ini pun tergantung kebijakan penguasa). Namun, jika tidak diketahui dengan jelasnya mengenai seseorang atau kelompok menunjukkan keyakinan yang sesat (atau mereka menyembunyikan keyakinan aslinya) maka mereka disikapi sebagaimana kita bersikap terhadap kaum muslimin pada umumnya. Sekali lagi, ini selama mereka tidak menunjukkan keyakinan kekufurannya. Kita bersikap sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyikapi orang-orang munafik seperti Abdullah bin Ubay dan yang lainnya. Sementara orang yang menampakkan kemunafikannya, Rasulullah jelas menyikapinya seperti orang musyrik/kafir.

Referensi catatan ini (sesuai presentasi Ustadz Yunahar):

  • Nashir ibn ‘Abdullah ibn ‘Ali al-Qafary, Ushûl Madzhab asy-Syî’ah al-Imâmiyah al-Itsna ‘Asyriyah ‘Ardh wa Naqd, disertasi Doktor Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Su’ud, Riyadh, Saudi Arabia-cetakan ke-3 , 1998. (1656 halaman)
  • Muhammad Kamil al-Hasyimi, ‘Aqaid asy-Syi’ah fi al-Mizan, 1988.
  • Ihsan Ilahi Zhahir, Syi’ah dan Sunnah, terjemahan Bey Arifin, Surabaya: Bina Ilmu, 1985.
Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)