Buljum 2017.9.21: Menuntut Ilmu

 

“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”. Ungkapan ini sering kita dengar di kalangan masyarakat, terutama di lingkungan sekolah. Meskipun ungkapan ini bukanlah hadits seperti banyak dianggap orang, ungkapan ini tetap mengandung kebenaran. Menuntut ilmu memang hal yang sangat penting, dan seseorang tak perlu ragu untuk mengejar ilmu tersebut, dimanapun ia berada.

Lanjut baca

Buljum 2016.6.3: Sungai-Sungai Surga di Dunia

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

فُجِّرَتْ أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ مِنَ الْجَنَّةِ: الْفُرَاتُ، وَالنِّيلُ، وَسَيْحَانُ، وَجَيْحَانُ

“Ada empat sungai yang dialirkan dari surga, yaitu sungai Efrat, Nil, Saihan dan Jaihan.” [HR. Ahmad]

Sungai adalah sebuah fitur geografis dan keindahan alam yang sangat penting bagi manusia di dunia. Di akhirat pun, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, suatu ciri khas dari surga yang sangat ditekankan adalah sungai-sungai yang mengalir dibawahnya (jannatin tajri min tahtihal anhar). Ada berbagai ayat di dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan mengenai ciri-ciri sungai di surga. Di antaranya, sungai yang mengalirkan berbagai kelezatan seperti susu, madu, dan khamr. Lanjut baca

Buljum 2016.5.27: Bulan Ramadhan, Bulan Al-Qur’an

Bulan suci Ramadhan akan segera tiba, mari kita sambut bulan ini dan ibadah puasa yang diwajibkan di dalamnya, karena puasa adalah sebuah ibadah yang pahalanya hanya Allah yang mengetahuinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” [HR. Bukhari dan Muslim]

Lanjut baca

Buljum 2016.5.20: Allah Tidak Mempersulit Hamba-Nya

Ungkapan “Allahumma yassir wa laa tu’assir” cukup populer di telinga kita sebagai “doa” ketika menghadapi kesulitan. Apakah doa ini dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ?

Dari salah satu hadits shahih terkait menghadapi kesulitan, ternyata bukan doa itu yang diajarkan.

عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا”

“Dari Anas radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ (ketika dalam kesulitan) berkata, ‘Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan.’ Terjemahnya, ‘Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan yang sulit bisa Engkau jadikan mudah apabila Engkau menghendakinya menjadi mudah.’” [As-Silsilah Ash-Shahihah, Hadits no. 2886]

Lanjut baca

Buljum 2016.5.13: Belajar Rendah Hati

Tawadhu’ atau rendah hati termasuk salah satu sifat terpuji yang harus dimilki oleh seorang muslim. Tawadhu’ secara bahasa dapat dimaknai dengan ‘merendahkan hati’. Artinya sengaja memposisikan diri lebih rendah dari posisi sebenarnya. Pada dasarnya tawadhu’ hanya ditujukan kepada Allah Yang Maha Agung. Yakni merasa lemah dan tidak berdaya dibanding dengan kekuasaan Allah ﷻ. Apalah kuasa manusia sampai berani mengharap surganya Allah? Apakah Allah rela memberikan surga kepada seorang hamba, jika hamba tersebut merasa tidak memerlukan surga? Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan bahwa tujuan tawadhu’ sebenarnya adalah mengharapkan surga (ridha-Nya) Allah dan menghindarkan diri dari api neraka. Lanjut baca

Buljum 2016.5.6: Tanggung Jawab Membangun Peradaban

Pendidikan merupakan faktor penting dan berpengaruh besar dalam membangun sebuah peradaban. Melalui pendidikan yang berkualitas, sebuah bangsa yang semula tertinggal dapat menjadi sebuah bangsa yang maju. Sebaliknya, sebuah bangsa yang kualitas pendidikannya rendah, maka niscaya bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang tertinggal. Membangun peradaban suatu bangsa berarti membangun anak-anak bangsa. Sebagai generasi penerus dan kunci masa depan suatu bangsa, proses pendidikan anak dan generasi muda perlu menjadi perhatian. Lanjut baca

Buljum 2016.4.29: Ajaibnya Doa

Sebagai manusia, tentu kita sering menghadapi berbagai macam permasalahan di dalam hidup kita. Bahkan mungkin pernah suatu permasalahan terasa amatlah besar, sampai-sampai kita merasa bahwa kita tidak punya daya dan upaya lagi untuk keluar darinya. Saudara-saudariku, jika kita mengalami hal seperti ini, ingatlah, sesungguhnya kita masih bisa membuka pintu langit dengan doa-doa kita. Ingatlah, sesungguhnya kita masih memiliki Rabb yang Maha Mampu untuk mengabulkan doa-doa kita tersebut. Lanjut baca

Buljum 2016.4.22: Siapkah Kita Menyambut Ramadhan?

Tak terasa kita telah memasuki pertengahan bulan Rajab. Tinggal satu setengah bulan tersisa sebelum kita bertemu dengan bulan yang sama-sama kita rindukan, Bulan Ramadhan. Pertanyaan besar pada diri kita masing-masing, sudah seberapa jauhkah kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan bulan mulia ini? Atau jangan-jangan kita termasuk segolongan umat yang tak sadar akan semakin dekatnya bulan ini? Lanjut baca

Buljum 2016.4.15: Menggapai Ridha Allah

Tidak dapat dipungkiri bahwa semua orang yang beriman mengharapkan ridha Allah. Bagaimana cara menggapai ridha Allah? Bagaimana mengetahui Allah ridha pada kita? Maka perhatikanlah keridhaan kita kepada Allah!

رَضِيَ اللَّهُ عَنهُم وَرَضوا عَنهُ ُ

Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. [QS. Al-Bayyinah: 8]

Lanjut baca

Buljum 2016.4.8: Pelajaran dari Mu’adz bin Jabal

Pada suatu hari di masa-masa akhir kehidupan Rasulullah ﷺ, beliau ﷺ berbicara dengan seorang pemuda yang hendak dikirim ke Yaman untuk menyebarkan dakwah islam. Dialog tersebut adalah mengenai salah satu dasar dalam penentuan tingkatan hukum islam yang berdasarkan pada Kitabullah Al-Quran, Sunnah Rasul dan Ijtihad Ulama Salafush-Shalih. Pemuda tersebut ialah Mu’adz Bin Jabal.

Lanjut baca