Buljum 2016.1.22: Islam, Pembangunan, dan Bencana Akibat Ulah Manusia

Pada kesempatan kali ini, penulis tertarik untuk mengulas salah satu artikel ilmiah dalam sebuah jurnal yang berkaitan dengan tema riset penulis saat ini, yaitu mengenai konsep pembangunan dan kebencanaan. Menariknya, penulis artikel ini meninjau konsep industrialisasi dan bencana, khususnya bencana yang  diakibatkan oleh manusia, dengan konsep Islam. Sementara riset dalam bidang ilmu pembangunan maupun kebencanaan pada umumnya lebih mengacu kepada konsep teknis administratif. Judul asli artikel ini adalah, “Revisiting the Concept of Development, Disaster and Safety Management: The Quranic Perspective”. Paper ini ditulis Azizan Ramli, Mazlin Mokhtar dan Badhrulhisham Abdul Aziz dan diterbitkan di International Journal of Disaster Risk Reduction.

Lanjut baca

Buljum 2016.1.15: Menghindarkan Kerusakan dari Muka Bumi

Pada pertengan tahun 2015, bencana kebakaran hutan yang hebat menimpa Indonesia dan menyebabkan berbagai kerugian baik materi maupun non-materi. Dunia mengecam bencana antropogenik (pencemaran yang timbul karena adanya campur tangan manusia) ini yang menewaskan setidaknya 19 jiwa dan menyebabkan lebih dari 500.000 jiwa terkena penyakit ISPA. Selain itu, kebakaran hutan ini menghasilkan konsentrasi gas CO (karbon monoksida) yang sangat tinggi, yaitu sebesar 1.300 ppb (part per billion), sedangkan pada kondisi normal konsentrasi rata-rata CO di Indonesia adalah sebesar 100 ppb. Lanjut baca

Buljum 2016.1.8: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Biruni dan Ibnu Sina, serta Perannya Dalam Astronomi dan Astrologi

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas sedikit mengenai sejarah seorang ilmuwan Muslim zaman dahulu (Muhammad bin Musa Al Khwarizmi). Kali ini, insya Allah saya ingin membahas ilmuwan lain yang berasal dari daerah yang sama, tetapi dari zaman setelahnya, yaitu Abu Rayhan Biruni (ابوریحان بیرونی, biasa ‎‎disebut Al-Biruni, berarti “dari pinggiran kota”, yang dimaksud adalah kota Kats di Khwarazm) dan Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Al-Hasan bin Ali bin Sina (biasa disebut Ibnu Sina, keturunan Sina, atau Avicenna oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa abad pertengahan).

Al-Biruni lahir sekitar tahun 973 M, sementara Ibnu Sina lahir di 980 M. Keduanya berasal dari daerah yang sekarang termasuk di Negara Uzbekistan; Al-Biruni berasal dari daerah Khwarazm dan Ibnu Sina berasal dari daerah Bukhara. Pada masa mereka lahir, wilayah ini termasuk dalam kekuasaan Kekaisaran Samaniyah yang berbangsa Iran, tetapi beribukota di Asia Tengah – ketika Ibnu Sina lahir, ibukotanya di Bukhara. Pada masa itu, mayoritas Bangsa Iran masih menganut akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan mengakui kekhalifan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Lanjut baca

Buljum 2016.1.1: Mengingatkan dari Kekufuran

Perbuatan seperti apakah yang termasuk ke dalam kekufuran? Apakah aqidah yang salah berarti kufur? Seperti apakah aqidah yang benar? Aqidah umat Islam Sunni (ahlussunnah waljamaah) pun sangat luas variasinya. Satu hal yang menyatukan Sunni adalah ijma bahwa Sahabat adalah umat terbaik yang telah membawa Islam dan sunnah Rasulullah ﷺ kepada kita. (Yasir Qadhi)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya. Karena itu kita harus berhati-hati dalam mengkafirkan orang lain.

Lanjut baca

Buljum 2015.12.25: Berislam Secara Kafah

Mungkin kita sering memerhatikan segelintir dari kaum muslimin. Ada di antara mereka yang ketika diingatkan untuk menjalankan syariat tertentu seperti mendirikan shalat atau mengenakan jilbab (bagi muslimah), mereka enggan melakukannya dan malah menanggapi dengan dalih bahwa penampilan luar itu tidak penting selama hatinya bersih. Kita kemudian dihadapkan pada beberapa contoh saudari muslimah yang berjilbab ataupun saudara muslim yang rajin shalat berjamaah tepat waktu tetapi mereka juga berakhlak buruk, kerap berbohong, bergunjing, temperamen, dan perilaku buruk lainnya.

Namun, tentunya menjadi seorang muslim yang memiliki akhlak baik adalah hal yang sangat penting, seperti pentingnya selalu shalat tepat waktu, berpuasa, membayar zakat, dan ritual ibadah lainnya. Demikian pula mengenakan jilbab bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban yang perlu dilaksanakan dan disandingkan dengan ketakwaan serta rasa malu dalam hati mereka. Seluruh aspek ini adalah bagian dari agama kita, bagian dari Islam secara utuh. Jangan sampai kita meninggalkan, mengabaikan, atau menunda satu bagian dari Islam (apalagi yang wajib dilakukan) dengan alasan kita sedang berkonsentrasi pada bagian yang lain. Lanjut baca

Buljum 2015.12.18: Korupsi pada Zaman Rasulullah

Tahukah kita bahwa setiap tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti-korupsi Sedunia atau International Anticorruption Day? Peringatan ini sebagai bentuk tindak lanjut dari mandat United Nations Convention Against Corruption yang di keluarkan pada tanggal 31 Oktober 2003. Tujuannya adalah sebagai kampanye untuk memerangi segala bentuk tindakan dan perilaku korupsi di seluruh dunia. Saat ini, kita bisa melihat sendiri terutama di Indonesia, praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) marak dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintahan, bahkan dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu. Dalam Islam, terdapat banyak istilah dimulai dari Ghulul (Penggelapan), Risywah (Penyuapan), Ghasab (Mengambil Paksa Hak/Harta Orang Lain), Khianat, Sariqah (Pencurian), Hirabah (Perampokan), Al-Maks (Pungutan Liar), Al-Ikhtilas (Pencopetan), dan Al-Ihtihab (Perampasan). Agama Islam melarang segala praktik korupsi, dan hukumnya adalah haram sesuai dengan aklamasi dan konsensus (ijma’) dari para ulama fiqih. Secara naluriah, kita tentu paham bahwa korupsi adalah perbuatan dosa yang dilaknat oleh Allah ﷻ sebagaimana firman-Nya dalam surat Ali-Imran ayat 161. Lanjut baca

Buljum 2015.12.11: Cobaan Akan Berakhir

Umumnya warga Indonesia yang tinggal di kota Sendai ini berstatus sebagai pelajar, entah itu sebagai mahasiswa D3, S1, S2, ataupun S3. Selain itu, beberapa orang sudah merampungkan proses pendidikan formalnya dan berganti statusnya dari pelajar menjadi pekerja, dan ada juga bapak, ibu yang menemani istri atau suaminya dalam menunaikan tugas sekolah. Yang masing-masing memiliki permasalahan hidup yang sebisa mungkin harus ditangani segera untuk mendapatkan solusi terbaik.

Seorang ulama mengatakan bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini adalah sebuah ujian. Layaknya ujian di bangku sekolah, ujian kehidupan ini juga akan diketahui hasilnya apakah lulus atau gagal. Bedanya, tidak akan pernah ada ujian susulan ataupun ‘semester pendek’ untuk meningkatkan nilai jika kita gagal lulus dalam ujian kehidupan. Ujian kehidupan itu sangat bervariasi, dan durasinya tergantung jatah hidup masing-masing teritung sejak akil baligh.

Menurut kebanyakan orang, ujian adalah kesusahan, kemalangan, musibah, atau padanan kata yang serupa. Suatu hal yang manusiawi jika kita sering mendengar kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang-orang disekitar kita, jikken (eksperimen) tidak kunjung berhasil, makalah ilmiah tidak juga diperiksa oleh professor, atau hal-hal lain yang mengganggu kenyamanan. Namun demikian, jangan sampai ujian-ujian tersebut menjadikan kita lemah.

Lanjut baca

Buljum 2015.12.4: Perjalanan Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran

Salman Al-Farisi adalah seorang laki-laki keturunan Persia dari Asfahan (daerah di Iran). Dia tinggal di sebuah kampung bernama Jayy bersama ayahnya. Salman sangat dicintai oleh ayahnya. Betapa sayangnya sang ayah pada Salman sampai-sampai Salman dikurung di dalam rumah untuk senantiasa duduk dekat dengan api dan membaktikan diri dalam agama Majusi, di mana dalam agama tersebut api perlu dijaga terus menerus agar tidak padam.

Ayah Salman memiliki kebun yang sangat besar. Suatu hari sang ayah sibuk bekerja di rumah dan dia memerintahkan Salman untuk keluar mengurus kebun tersebut. Dalam perjalanannya menuju kebun, Salman melalui satu gereja Nasrani dan dia mendengar suara mereka beribadah. Salman yang tidak pernah keluar rumah menjadi penasaran dan melihat apa yang mereka lakukan. Salman pun kagum dengan ibadah yang dilakukan oleh orang Nasrani dan merasa agama tersebut lebih benar dari agama Majusi yang dia anut. Kemudian dia bertanya pada orang Nasrani yang ia temui, “Di mana aku bisa belajar agama ini?” Mereka berkata “Di Syam.” Dia pun menceritakan kekagumannya akan agama Nasrani pada ayahnya. Ayahnya merasa khawatir sehingga mengikat Salman dengan rantai-rantai besi dan dikurung lagi di rumah.

Sampai suatu hari Salman mendapat kabar bahwa ada rombongan pedagang yang akan berangkat menuju Syam dari desanya. Rasa cinta Salman yang besar akan kebenaran mendorong dia untuk meninggalkan ayahnya. Salman pun melepaskan rantai-rantai besi pengikatnya dan bergabung dengan rombongan tersebut menuju Syam.

Lanjut baca

Buljum 2015.11.27: Mari Membaca Al-Qur’an

Seruan tersebut adalah seruan yang ringkas namun mengandung makna yang dalam di baliknya. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam. Kitab yang merupakan kalam Allah ﷻ yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia diriwayatkan secara tawatur, bersambung terus-menerus seperti rantai dan oleh banyak orang sehingga menjadi kebenaran umum yang tak terbantahkan, kepada para sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga sampai kepada kita saat ini dengan berisikan pesan-pesan Allah ﷻ yang dimulai dari Al-Fatihah hingga ditutup dengan An-Nas. Merupakan suatu Ibadah yang luar biasa ketika kita membacanya, dan ia juga merupakan petunjuk bagi manusia dalam menjalani jalan kehidupan.

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ »

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an) maka dengannya akan mendapat satu kebaikan; satu kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisal. aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf. akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, Miim satu huruf.[HR. Tirmidzi no. 2910, disahihkan dalam al-Misykat no. 2137 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6469]

Lanjut baca

Buljum 2015.11.20: Bersyukur dengan Membagi Rasa Bahagia

وَإِذ تَأَذَّنَ رَبُّكُم لَئِن شَكَرتُم لَأَزيدَنَّكُم ۖ وَلَئِن كَفَرتُم إِنَّ عَذابي لَشَديدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)

Kebahagiaan adalah salah satu wujud nikmat yang dapat dirasakan, yang kemudian kita perlu bersyukur untuk itu. Bahkan rasa nikmat itu akan tumbuh dan berkembang saat kita mengetahui bagaimana semestinya kita bersyukur. Syukur itu dapat pula dimaknai bertambah dan menumbuh. Demikian janji Allah di dalam surat Ibrahim ayat 7. Salah satu penanda bahwa kesyukuran kira berhasil adalah dengan bertambahnya nikmat.

Lanjut baca