Buljum 2016.2.19: Mari Berkumpul di Sana

Bagaimana perasaan kita jika ada teman yang mengundang kita untuk berkumpul bersama menikmati berbagai hidangan lezat yang telah disiapkannya? Bukankah senyum paling merekah yang akan kita berikan pada teman kita itu beserta jawaban yang mantap, ”OK, ikut dong!” Jarang sepertinya ada yang merasa kesal atau jengkel ketika diundang untuk makan. Sekarang bagaimana jika teman kita mengundang kita berkumpul bukan untuk makan bersama, tapi untuk mendengarkan kajian ilmu syar’i yang disampaikan oleh seorang ustadz? Apakah kita akan merasa senang juga? Apakah senyuman merekah itu akan terkembang juga di wajah kita? Semoga kita bisa juga menjawab dengan mantap, “OK, insya Allah saya ikut!” Tapi, kasus yang kedua ini mungkin lebih beragam jawabannya dibandingkan dengan kasus yang pertama. Mungkin yang lebih sering kita rasakan adalah adanya perasaan malas, tidak peduli atau mungkin kesal karena saat itu justru kita sedang ingin jalan-jalan atau refreshing setelah penat di sekolah atau di tempat kerja.

Lanjut baca

Buljum 2016.2.12: Membina Diri Sendiri di Manapun Berada

Ada sebuah fragmen menarik dalam kisah kehidupan Rasulullah ﷺ. Hal ini terjadi setelah umat Islam dengan gilang gemilang meluluhlantakkan benteng Yahudi Khaibar yang merupakan ancaman bagi umat Islam saat itu dalam keterlibatan mereka pada pendanaan perang Khandaq. Ketika itu sepupu Rasulullah ﷺ—Ja’far bin Abi Thalib—bersama sekelompok sahabat kembali dari hijrahnya—ke negeri Habasyah—ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin di Madinah. Ketika itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku bingung apa yang membuat senang diriku, apakah karena menangnya kita di Khaibar ataukah kembalinya kaum muslimin dari Habasyah.”

Lanjut baca

Buljum 2016.2.5: Memaknai Waktu

وَالعَصرِ إِنَّ الإِنسانَ لَفي خُسرٍ إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” [QS. Al-‘Ashr: 1-3]

Lanjut baca

Buljum 2016.1.29: Islam Bukan Agama Prasmanan

Prasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal. Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan. Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”? Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan. Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Lanjut baca

Buljum 2016.1.22: Islam, Pembangunan, dan Bencana Akibat Ulah Manusia

Pada kesempatan kali ini, penulis tertarik untuk mengulas salah satu artikel ilmiah dalam sebuah jurnal yang berkaitan dengan tema riset penulis saat ini, yaitu mengenai konsep pembangunan dan kebencanaan. Menariknya, penulis artikel ini meninjau konsep industrialisasi dan bencana, khususnya bencana yang  diakibatkan oleh manusia, dengan konsep Islam. Sementara riset dalam bidang ilmu pembangunan maupun kebencanaan pada umumnya lebih mengacu kepada konsep teknis administratif. Judul asli artikel ini adalah, “Revisiting the Concept of Development, Disaster and Safety Management: The Quranic Perspective”. Paper ini ditulis Azizan Ramli, Mazlin Mokhtar dan Badhrulhisham Abdul Aziz dan diterbitkan di International Journal of Disaster Risk Reduction.

Lanjut baca

Buljum 2016.1.15: Menghindarkan Kerusakan dari Muka Bumi

Pada pertengan tahun 2015, bencana kebakaran hutan yang hebat menimpa Indonesia dan menyebabkan berbagai kerugian baik materi maupun non-materi. Dunia mengecam bencana antropogenik (pencemaran yang timbul karena adanya campur tangan manusia) ini yang menewaskan setidaknya 19 jiwa dan menyebabkan lebih dari 500.000 jiwa terkena penyakit ISPA. Selain itu, kebakaran hutan ini menghasilkan konsentrasi gas CO (karbon monoksida) yang sangat tinggi, yaitu sebesar 1.300 ppb (part per billion), sedangkan pada kondisi normal konsentrasi rata-rata CO di Indonesia adalah sebesar 100 ppb. Lanjut baca

Buljum 2016.1.8: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Biruni dan Ibnu Sina, serta Perannya Dalam Astronomi dan Astrologi

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas sedikit mengenai sejarah seorang ilmuwan Muslim zaman dahulu (Muhammad bin Musa Al Khwarizmi). Kali ini, insya Allah saya ingin membahas ilmuwan lain yang berasal dari daerah yang sama, tetapi dari zaman setelahnya, yaitu Abu Rayhan Biruni (ابوریحان بیرونی, biasa ‎‎disebut Al-Biruni, berarti “dari pinggiran kota”, yang dimaksud adalah kota Kats di Khwarazm) dan Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Al-Hasan bin Ali bin Sina (biasa disebut Ibnu Sina, keturunan Sina, atau Avicenna oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa abad pertengahan).

Al-Biruni lahir sekitar tahun 973 M, sementara Ibnu Sina lahir di 980 M. Keduanya berasal dari daerah yang sekarang termasuk di Negara Uzbekistan; Al-Biruni berasal dari daerah Khwarazm dan Ibnu Sina berasal dari daerah Bukhara. Pada masa mereka lahir, wilayah ini termasuk dalam kekuasaan Kekaisaran Samaniyah yang berbangsa Iran, tetapi beribukota di Asia Tengah – ketika Ibnu Sina lahir, ibukotanya di Bukhara. Pada masa itu, mayoritas Bangsa Iran masih menganut akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan mengakui kekhalifan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Lanjut baca

Buljum 2016.1.1: Mengingatkan dari Kekufuran

Perbuatan seperti apakah yang termasuk ke dalam kekufuran? Apakah aqidah yang salah berarti kufur? Seperti apakah aqidah yang benar? Aqidah umat Islam Sunni (ahlussunnah waljamaah) pun sangat luas variasinya. Satu hal yang menyatukan Sunni adalah ijma bahwa Sahabat adalah umat terbaik yang telah membawa Islam dan sunnah Rasulullah ﷺ kepada kita. (Yasir Qadhi)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya. Karena itu kita harus berhati-hati dalam mengkafirkan orang lain.

Lanjut baca

Buljum 2015.12.25: Berislam Secara Kafah

Mungkin kita sering memerhatikan segelintir dari kaum muslimin. Ada di antara mereka yang ketika diingatkan untuk menjalankan syariat tertentu seperti mendirikan shalat atau mengenakan jilbab (bagi muslimah), mereka enggan melakukannya dan malah menanggapi dengan dalih bahwa penampilan luar itu tidak penting selama hatinya bersih. Kita kemudian dihadapkan pada beberapa contoh saudari muslimah yang berjilbab ataupun saudara muslim yang rajin shalat berjamaah tepat waktu tetapi mereka juga berakhlak buruk, kerap berbohong, bergunjing, temperamen, dan perilaku buruk lainnya.

Namun, tentunya menjadi seorang muslim yang memiliki akhlak baik adalah hal yang sangat penting, seperti pentingnya selalu shalat tepat waktu, berpuasa, membayar zakat, dan ritual ibadah lainnya. Demikian pula mengenakan jilbab bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban yang perlu dilaksanakan dan disandingkan dengan ketakwaan serta rasa malu dalam hati mereka. Seluruh aspek ini adalah bagian dari agama kita, bagian dari Islam secara utuh. Jangan sampai kita meninggalkan, mengabaikan, atau menunda satu bagian dari Islam (apalagi yang wajib dilakukan) dengan alasan kita sedang berkonsentrasi pada bagian yang lain. Lanjut baca

Buljum 2015.12.18: Korupsi pada Zaman Rasulullah

Tahukah kita bahwa setiap tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti-korupsi Sedunia atau International Anticorruption Day? Peringatan ini sebagai bentuk tindak lanjut dari mandat United Nations Convention Against Corruption yang di keluarkan pada tanggal 31 Oktober 2003. Tujuannya adalah sebagai kampanye untuk memerangi segala bentuk tindakan dan perilaku korupsi di seluruh dunia. Saat ini, kita bisa melihat sendiri terutama di Indonesia, praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) marak dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintahan, bahkan dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu. Dalam Islam, terdapat banyak istilah dimulai dari Ghulul (Penggelapan), Risywah (Penyuapan), Ghasab (Mengambil Paksa Hak/Harta Orang Lain), Khianat, Sariqah (Pencurian), Hirabah (Perampokan), Al-Maks (Pungutan Liar), Al-Ikhtilas (Pencopetan), dan Al-Ihtihab (Perampasan). Agama Islam melarang segala praktik korupsi, dan hukumnya adalah haram sesuai dengan aklamasi dan konsensus (ijma’) dari para ulama fiqih. Secara naluriah, kita tentu paham bahwa korupsi adalah perbuatan dosa yang dilaknat oleh Allah ﷻ sebagaimana firman-Nya dalam surat Ali-Imran ayat 161. Lanjut baca