Buljum 2015.11.6: Haji dari Jepang: Persiapan

Ibadah haji merupakan salah satu di antara ibadah agung yang disyariatkan oleh Allah ﷻ kepada hamba-Nya, sekaligus merupakan rukun Islam yang terakhir. Firman-Nya:

فيهِ آياتٌ بَيِّناتٌ مَقامُ إِبراهيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيهِ سَبيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ العالَمينَ

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. [QS. Ali Imran : 97] Lanjut baca

Buljum 2015.10.30: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Khwarizmi

Menurut sebuah hadits dari Anas radhiyallahu ’anhu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Perintah ini mendorong umat Islam di berbagai masa untuk menuntut berbagai macam ilmu (semoga ini menjadi pengingat bagi kita yang sedang merantau untuk menuntut ilmu, termasuk penulis, untuk meluruskan niat kita mencari ilmu). Sehingga pada zaman dahulu, dunia Islam pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia, dengan para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia datang berguru menuntut ilmu ke kota-kota umat Islam. Khususnya untuk ilmu-ilmu duniawi, banyak ahli sejarah memandang zaman Kekhalifahan Abbasiyah (abad ke-2–7 H / 8–13 M) sebagai puncaknya.

Lanjut baca

Buljum 2015.10.23: Mempelajari Bahasa Asing

اقرَأ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذي خَلَقَ خَلَقَ الإِنسانَ مِن عَلَقٍ اقرَأ وَرَبُّكَ الأَكرَمُ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” [QS. Al-‘Alaq : 1-3]

Iqro!” adalah kata-kata pertama diturunkan pada Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa iqro yang pertama merujuk pada ilmu agama dan iqro yang kedua merujuk kepada ilmu duniawi. Ilmu agama menjaga kita dari berbagai ujian kehidupan untuk mengantarkan kita kepada kesuksesan di akhirat yang kekal nantinya. Ilmu adalah satu hal yang Allah perintahkan Rasul-Nya ﷺ untuk senantiasa meminta untuk ditambahkan oleh-Nya. Lanjut baca

Buljum 2015.10.16: Kepuasan dengan Amalan dan Pahala Minimal

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita sudah merasa puas dengan satu amal shalih tanpa berusaha meningkatkan lagi kualitasnya. Bahkan, terkadang kepuasan akan kualitas amalan dengan “pahala minimal” ini seolah ada legitimasinya dengan dalil tertentu. Mari kita lihat salah satu contohnya dalam mempelajari Al-Quran.

Idealnya, orang yang mempelajari Al-Quran harus dapat membacanya, menghafalkannya, memahami maknanya (dengan belajar bahasa Arab), dan tentunya mengamalkannya. Namun, mungkin karena rasa malas, atau sebenarnya kurang mengalokasikan waktu belajar, kita (tentunya termasuk penulis) terlanjur puas dalam aspek bisa membacanya saja, itu pun dengan terbata-bata.

Lanjut baca

Buljum 2015.10.9: Mengingat Mati

Selama kurang lebih sebulan terakhir penulis berulang kali diingatkan tentang satu hal yang pasti akan dihadapi oleh setiap makhluk yang hidup dan bernyawa: kematian. Mulai dari kematian rekan kerja, baik yang sebaya maupun yang senior; teman yang sudah lama saling mengenal; maupun saudara dekat yang meninggal pada saat hari raya idul adha beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut seakan mengingatkan kembali kepada satu tema dalam fase akhir dari kehidupan manusia di dunia ini; kematian.

Lanjut baca

Buljum 2015.10.2: Perasaan Gembira yang Terpuji dan Tercela

Di dalam Al-Quran, Allah ﷻ memuji kegembiraan namun juga melarangnya. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ قارونَ كانَ مِن قَومِ موسىٰ فَبَغىٰ عَلَيهِم ۖ وَآتَيناهُ مِنَ الكُنوزِ ما إِنَّ مَفاتِحَهُ لَتَنوءُ بِالعُصبَةِ أُولِي القُوَّةِ إِذ قالَ لَهُ قَومُهُ لا تَفرَح ۖ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الفَرِحينَ

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: Janganlah kamu merasa gembira, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bergembira.” [QS Al-Qashash : 76]

Ayat di atas menceritakan tentang Qarun, yang mana dia bergembira dengan dunia, kedudukan, dan hartanya. Kegembiraaan tersebut menjadikannya congkak dan sombong di hadapan manusia, dan akhirnya ia pun mendustakan ayat-ayat Allah dan menolak seruan-seruan para Nabi untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.25: Mengambil Hikmah dari Sebuah Pengorbanan

Kamis, 24 September 2015, atau 10 Dzulhijjah 1436 H yang lalu kita telah sama-sama merayakan Idul Adha.  Hari dimana kita berkurban, berbondong-bondong menunjukkan ketaatan kita pada Allah ﷻ. Berbondong-bondong kita lepaskan ikatan dengan harta yang kita cintai demi ketaatan pada Allah ﷻ. Kita rela mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli hewan kurban, yang berlipat harganya dibanding hari-hari lainnya. Karena semua itu bukan karena uang, akan tetapi upaya untuk menunjukkan ketaatan pada-Nya, Sang Robb Semesta Alam.

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu  dan sembelihlah kurban.” [QS. Al-Kautsar: 1-2]

Lanjut baca

Buljum 2015.9.18: Safar: Berjalan, Melihat dan Menafsir

قُل سيروا فِي الأَرضِ فَانظُروا كَيفَ بَدَأَ الخَلقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشأَةَ الآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ

Katakanlah berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al Ankabut : 20]

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانتَشِروا فِي الأَرضِ وَابتَغوا مِن فَضلِ اللَّهِ وَاذكُرُوا اللَّهَ كَثيرًا لَعَلَّكُم تُفلِحونَ

Maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di Akhirat). [QS. Al-Jumu’ah : 10]

هُوَ الَّذي جَعَلَ لَكُمُ الأَرضَ ذَلولًا فَامشوا في مَناكِبِها وَكُلوا مِن رِزقِهِ ۖ وَإِلَيهِ النُّشورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. [QS. Al-Mulk : 15]

Salah satu anjuran agama yang sering terlupakan adalah melakukan safar, atau perjalanan. Anjuran ini memiliki pesan yang kuat dan mendalam, agar kita bisa memetik hikmah dan pemahaman yang mendasar dari perjalanan yang kita tempuh, untuk menjalankan fungsi kita, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.11: Meraih Kesuksesan

Sukses!!! Meraih kesuksesan adalah keinginan setiap manusia, dan semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraihnya. Namun hanya sedikit (kurang dari 5% -menurut para motivator) yang meraih kesuksesan, sisanya menemui kegagalan atau hanya menggapai setengah kesuksesan, yang dirasa sudah cukup memuaskan bagi pelakunya. Pertanyan yang muncul berikutnya adalah, mengapa ada orang yang sukses, setengah sukses ataupun gagal. Lantas, apa itu kesuksesan, dan apa yang dibutuhkan untuk meraihnya?

Masing-masing orang memiliki definisinya sendiri tentang sukses. Seseorang pelajar atau ilmuwan mungkin mendefinisikan sukses, jika lulus tepat waktu, publikasi banyak, atau target publikasi di jurnal ilmiah Nature atau Science setiap tahun, atau mendapatkan posisi bagus di institusi yang mapan dengan penghasilan yang besar. Intinya, sebagian besar definisi kesuksesan adalah hal-hal yang berkaitan erat dengan materi.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.4: Kerjaku, Ibadahku, Surgaku

Pekerjaan apa yang tepat untuk saya? Apakah pekerjaan ini benar-benar sesuai untuk saya? Halalkah pekerjaan saya ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang kerap dipikirkan masyarakat usia produktif. Hal ini lazim berlaku bagi yang hendak mencari kerja maupun yang sedang dirundung kegalauan atas pekerjaanya sekarang.

Mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar, perkembangan karier yang cerah, dan pada perusahaan yang memiliki nama yang baik di masyarakat adalah beberapa kriteria yang banyak orang tetapkan dalam mencari pekerjaan. Apakah itu salah? Tidak. Mendapatkan nominal gaji tertentu, kemudian membandingkan dengan biaya hidup yang dibutuhkan membantu kita menyeleksi perusahaan mana saja yang kira-kira bisa memberi kehidupan yang layak pada karyawannya. Dengan usia yang relatif masih muda, yang berarti puncak karier masih jauh di atas sana, kita juga perlu memastikan tempat kita bekerja menjadi sebuah tangga yang bisa kita daki. Tidak hanya perusahaan saja yang berhak menyaring calon karyawan yang dianggap memiliki kompetensi. Setiap pekerja juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan tempat kerja yang baik.

Lanjut baca