Buljum 2015.12.11: Cobaan Akan Berakhir

Umumnya warga Indonesia yang tinggal di kota Sendai ini berstatus sebagai pelajar, entah itu sebagai mahasiswa D3, S1, S2, ataupun S3. Selain itu, beberapa orang sudah merampungkan proses pendidikan formalnya dan berganti statusnya dari pelajar menjadi pekerja, dan ada juga bapak, ibu yang menemani istri atau suaminya dalam menunaikan tugas sekolah. Yang masing-masing memiliki permasalahan hidup yang sebisa mungkin harus ditangani segera untuk mendapatkan solusi terbaik.

Seorang ulama mengatakan bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini adalah sebuah ujian. Layaknya ujian di bangku sekolah, ujian kehidupan ini juga akan diketahui hasilnya apakah lulus atau gagal. Bedanya, tidak akan pernah ada ujian susulan ataupun ‘semester pendek’ untuk meningkatkan nilai jika kita gagal lulus dalam ujian kehidupan. Ujian kehidupan itu sangat bervariasi, dan durasinya tergantung jatah hidup masing-masing teritung sejak akil baligh.

Menurut kebanyakan orang, ujian adalah kesusahan, kemalangan, musibah, atau padanan kata yang serupa. Suatu hal yang manusiawi jika kita sering mendengar kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang-orang disekitar kita, jikken (eksperimen) tidak kunjung berhasil, makalah ilmiah tidak juga diperiksa oleh professor, atau hal-hal lain yang mengganggu kenyamanan. Namun demikian, jangan sampai ujian-ujian tersebut menjadikan kita lemah.

Lanjut baca

Buljum 2015.12.4: Perjalanan Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran

Salman Al-Farisi adalah seorang laki-laki keturunan Persia dari Asfahan (daerah di Iran). Dia tinggal di sebuah kampung bernama Jayy bersama ayahnya. Salman sangat dicintai oleh ayahnya. Betapa sayangnya sang ayah pada Salman sampai-sampai Salman dikurung di dalam rumah untuk senantiasa duduk dekat dengan api dan membaktikan diri dalam agama Majusi, di mana dalam agama tersebut api perlu dijaga terus menerus agar tidak padam.

Ayah Salman memiliki kebun yang sangat besar. Suatu hari sang ayah sibuk bekerja di rumah dan dia memerintahkan Salman untuk keluar mengurus kebun tersebut. Dalam perjalanannya menuju kebun, Salman melalui satu gereja Nasrani dan dia mendengar suara mereka beribadah. Salman yang tidak pernah keluar rumah menjadi penasaran dan melihat apa yang mereka lakukan. Salman pun kagum dengan ibadah yang dilakukan oleh orang Nasrani dan merasa agama tersebut lebih benar dari agama Majusi yang dia anut. Kemudian dia bertanya pada orang Nasrani yang ia temui, “Di mana aku bisa belajar agama ini?” Mereka berkata “Di Syam.” Dia pun menceritakan kekagumannya akan agama Nasrani pada ayahnya. Ayahnya merasa khawatir sehingga mengikat Salman dengan rantai-rantai besi dan dikurung lagi di rumah.

Sampai suatu hari Salman mendapat kabar bahwa ada rombongan pedagang yang akan berangkat menuju Syam dari desanya. Rasa cinta Salman yang besar akan kebenaran mendorong dia untuk meninggalkan ayahnya. Salman pun melepaskan rantai-rantai besi pengikatnya dan bergabung dengan rombongan tersebut menuju Syam.

Lanjut baca

Buljum 2015.11.27: Mari Membaca Al-Qur’an

Seruan tersebut adalah seruan yang ringkas namun mengandung makna yang dalam di baliknya. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam. Kitab yang merupakan kalam Allah ﷻ yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia diriwayatkan secara tawatur, bersambung terus-menerus seperti rantai dan oleh banyak orang sehingga menjadi kebenaran umum yang tak terbantahkan, kepada para sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga sampai kepada kita saat ini dengan berisikan pesan-pesan Allah ﷻ yang dimulai dari Al-Fatihah hingga ditutup dengan An-Nas. Merupakan suatu Ibadah yang luar biasa ketika kita membacanya, dan ia juga merupakan petunjuk bagi manusia dalam menjalani jalan kehidupan.

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ »

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an) maka dengannya akan mendapat satu kebaikan; satu kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisal. aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf. akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, Miim satu huruf.[HR. Tirmidzi no. 2910, disahihkan dalam al-Misykat no. 2137 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6469]

Lanjut baca

Buljum 2015.11.20: Bersyukur dengan Membagi Rasa Bahagia

وَإِذ تَأَذَّنَ رَبُّكُم لَئِن شَكَرتُم لَأَزيدَنَّكُم ۖ وَلَئِن كَفَرتُم إِنَّ عَذابي لَشَديدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)

Kebahagiaan adalah salah satu wujud nikmat yang dapat dirasakan, yang kemudian kita perlu bersyukur untuk itu. Bahkan rasa nikmat itu akan tumbuh dan berkembang saat kita mengetahui bagaimana semestinya kita bersyukur. Syukur itu dapat pula dimaknai bertambah dan menumbuh. Demikian janji Allah di dalam surat Ibrahim ayat 7. Salah satu penanda bahwa kesyukuran kira berhasil adalah dengan bertambahnya nikmat.

Lanjut baca

Buljum 2015.11.13: Makna Kehidupan

Seorang ulama bijak berkata, “Apapun cita-cita yang ingin seseorang capai, dan betapapun usaha dan kerja keras yang diusahakan, serta waktu-waktu yang dialokasikan untuk mendapatkannya, tetap seseorang akan menjemput kematiannya”. Kematian adalah sesuatu yang pasti, dan  almarhum adalah keniscayaan gelar setiap individu, entah dia orang kaya, miskin, berpendidikan ataupun tidak, besar maupun kecil, semuanya akan memperoleh gelar tersebut cepat atau lambat.

يا قَومِ إِنَّما هٰذِهِ الحَياةُ الدُّنيا مَتاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دارُ القَرارِ

“Hai kaumku, sesungguhnya hidup di dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) sedangkan akhirat itulah negeri yang kekal.” [QS. Ghafir: 39]

Lanjut baca

Buljum 2015.11.6: Haji dari Jepang: Persiapan

Ibadah haji merupakan salah satu di antara ibadah agung yang disyariatkan oleh Allah ﷻ kepada hamba-Nya, sekaligus merupakan rukun Islam yang terakhir. Firman-Nya:

فيهِ آياتٌ بَيِّناتٌ مَقامُ إِبراهيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيهِ سَبيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ العالَمينَ

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. [QS. Ali Imran : 97] Lanjut baca

Buljum 2015.10.30: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Khwarizmi

Menurut sebuah hadits dari Anas radhiyallahu ’anhu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Perintah ini mendorong umat Islam di berbagai masa untuk menuntut berbagai macam ilmu (semoga ini menjadi pengingat bagi kita yang sedang merantau untuk menuntut ilmu, termasuk penulis, untuk meluruskan niat kita mencari ilmu). Sehingga pada zaman dahulu, dunia Islam pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia, dengan para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia datang berguru menuntut ilmu ke kota-kota umat Islam. Khususnya untuk ilmu-ilmu duniawi, banyak ahli sejarah memandang zaman Kekhalifahan Abbasiyah (abad ke-2–7 H / 8–13 M) sebagai puncaknya.

Lanjut baca

Buljum 2015.10.23: Mempelajari Bahasa Asing

اقرَأ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذي خَلَقَ خَلَقَ الإِنسانَ مِن عَلَقٍ اقرَأ وَرَبُّكَ الأَكرَمُ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” [QS. Al-‘Alaq : 1-3]

Iqro!” adalah kata-kata pertama diturunkan pada Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa iqro yang pertama merujuk pada ilmu agama dan iqro yang kedua merujuk kepada ilmu duniawi. Ilmu agama menjaga kita dari berbagai ujian kehidupan untuk mengantarkan kita kepada kesuksesan di akhirat yang kekal nantinya. Ilmu adalah satu hal yang Allah perintahkan Rasul-Nya ﷺ untuk senantiasa meminta untuk ditambahkan oleh-Nya. Lanjut baca

Buljum 2015.10.16: Kepuasan dengan Amalan dan Pahala Minimal

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita sudah merasa puas dengan satu amal shalih tanpa berusaha meningkatkan lagi kualitasnya. Bahkan, terkadang kepuasan akan kualitas amalan dengan “pahala minimal” ini seolah ada legitimasinya dengan dalil tertentu. Mari kita lihat salah satu contohnya dalam mempelajari Al-Quran.

Idealnya, orang yang mempelajari Al-Quran harus dapat membacanya, menghafalkannya, memahami maknanya (dengan belajar bahasa Arab), dan tentunya mengamalkannya. Namun, mungkin karena rasa malas, atau sebenarnya kurang mengalokasikan waktu belajar, kita (tentunya termasuk penulis) terlanjur puas dalam aspek bisa membacanya saja, itu pun dengan terbata-bata.

Lanjut baca

Buljum 2015.10.9: Mengingat Mati

Selama kurang lebih sebulan terakhir penulis berulang kali diingatkan tentang satu hal yang pasti akan dihadapi oleh setiap makhluk yang hidup dan bernyawa: kematian. Mulai dari kematian rekan kerja, baik yang sebaya maupun yang senior; teman yang sudah lama saling mengenal; maupun saudara dekat yang meninggal pada saat hari raya idul adha beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut seakan mengingatkan kembali kepada satu tema dalam fase akhir dari kehidupan manusia di dunia ini; kematian.

Lanjut baca