Buljum 2015.10.2: Perasaan Gembira yang Terpuji dan Tercela

Di dalam Al-Quran, Allah ﷻ memuji kegembiraan namun juga melarangnya. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ قارونَ كانَ مِن قَومِ موسىٰ فَبَغىٰ عَلَيهِم ۖ وَآتَيناهُ مِنَ الكُنوزِ ما إِنَّ مَفاتِحَهُ لَتَنوءُ بِالعُصبَةِ أُولِي القُوَّةِ إِذ قالَ لَهُ قَومُهُ لا تَفرَح ۖ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الفَرِحينَ

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: Janganlah kamu merasa gembira, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bergembira.” [QS Al-Qashash : 76]

Ayat di atas menceritakan tentang Qarun, yang mana dia bergembira dengan dunia, kedudukan, dan hartanya. Kegembiraaan tersebut menjadikannya congkak dan sombong di hadapan manusia, dan akhirnya ia pun mendustakan ayat-ayat Allah dan menolak seruan-seruan para Nabi untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.25: Mengambil Hikmah dari Sebuah Pengorbanan

Kamis, 24 September 2015, atau 10 Dzulhijjah 1436 H yang lalu kita telah sama-sama merayakan Idul Adha.  Hari dimana kita berkurban, berbondong-bondong menunjukkan ketaatan kita pada Allah ﷻ. Berbondong-bondong kita lepaskan ikatan dengan harta yang kita cintai demi ketaatan pada Allah ﷻ. Kita rela mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli hewan kurban, yang berlipat harganya dibanding hari-hari lainnya. Karena semua itu bukan karena uang, akan tetapi upaya untuk menunjukkan ketaatan pada-Nya, Sang Robb Semesta Alam.

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu  dan sembelihlah kurban.” [QS. Al-Kautsar: 1-2]

Lanjut baca

Buljum 2015.9.18: Safar: Berjalan, Melihat dan Menafsir

قُل سيروا فِي الأَرضِ فَانظُروا كَيفَ بَدَأَ الخَلقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشأَةَ الآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ

Katakanlah berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al Ankabut : 20]

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانتَشِروا فِي الأَرضِ وَابتَغوا مِن فَضلِ اللَّهِ وَاذكُرُوا اللَّهَ كَثيرًا لَعَلَّكُم تُفلِحونَ

Maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di Akhirat). [QS. Al-Jumu’ah : 10]

هُوَ الَّذي جَعَلَ لَكُمُ الأَرضَ ذَلولًا فَامشوا في مَناكِبِها وَكُلوا مِن رِزقِهِ ۖ وَإِلَيهِ النُّشورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. [QS. Al-Mulk : 15]

Salah satu anjuran agama yang sering terlupakan adalah melakukan safar, atau perjalanan. Anjuran ini memiliki pesan yang kuat dan mendalam, agar kita bisa memetik hikmah dan pemahaman yang mendasar dari perjalanan yang kita tempuh, untuk menjalankan fungsi kita, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.11: Meraih Kesuksesan

Sukses!!! Meraih kesuksesan adalah keinginan setiap manusia, dan semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraihnya. Namun hanya sedikit (kurang dari 5% -menurut para motivator) yang meraih kesuksesan, sisanya menemui kegagalan atau hanya menggapai setengah kesuksesan, yang dirasa sudah cukup memuaskan bagi pelakunya. Pertanyan yang muncul berikutnya adalah, mengapa ada orang yang sukses, setengah sukses ataupun gagal. Lantas, apa itu kesuksesan, dan apa yang dibutuhkan untuk meraihnya?

Masing-masing orang memiliki definisinya sendiri tentang sukses. Seseorang pelajar atau ilmuwan mungkin mendefinisikan sukses, jika lulus tepat waktu, publikasi banyak, atau target publikasi di jurnal ilmiah Nature atau Science setiap tahun, atau mendapatkan posisi bagus di institusi yang mapan dengan penghasilan yang besar. Intinya, sebagian besar definisi kesuksesan adalah hal-hal yang berkaitan erat dengan materi.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.4: Kerjaku, Ibadahku, Surgaku

Pekerjaan apa yang tepat untuk saya? Apakah pekerjaan ini benar-benar sesuai untuk saya? Halalkah pekerjaan saya ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang kerap dipikirkan masyarakat usia produktif. Hal ini lazim berlaku bagi yang hendak mencari kerja maupun yang sedang dirundung kegalauan atas pekerjaanya sekarang.

Mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar, perkembangan karier yang cerah, dan pada perusahaan yang memiliki nama yang baik di masyarakat adalah beberapa kriteria yang banyak orang tetapkan dalam mencari pekerjaan. Apakah itu salah? Tidak. Mendapatkan nominal gaji tertentu, kemudian membandingkan dengan biaya hidup yang dibutuhkan membantu kita menyeleksi perusahaan mana saja yang kira-kira bisa memberi kehidupan yang layak pada karyawannya. Dengan usia yang relatif masih muda, yang berarti puncak karier masih jauh di atas sana, kita juga perlu memastikan tempat kita bekerja menjadi sebuah tangga yang bisa kita daki. Tidak hanya perusahaan saja yang berhak menyaring calon karyawan yang dianggap memiliki kompetensi. Setiap pekerja juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan tempat kerja yang baik.

Lanjut baca

Buljum 2015.8.28: Menuntut Ilmu Sebagai Mahasiswa di Jepang

Cukup banyak anggota komunitas Muslim di Sendai adalah mahasiswa di Tohoku University, termasuk penulis. Tulisan ini hanyalah sebagai catatan dan pengingat untuk para penuntut ilmu, khususnya untuk penulis sendiri, mengenai proses menuntut ilmu sebagai mahasiswa di Jepang.

Setiap orang mempunyai tujuannya masing-masing dalam menuntut ilmu. Ada yang menuntut ilmu untuk mencari ijazah demi mendapatkan kesempatan meraih penghasilan yang lebih tinggi di masa depan. Ada yang menuntut ilmu untuk memuaskan rasa ingin tahu, mencari jawaban untuk berbagai persoalan hidup. Ada juga yang berniat untuk memajukan negara dengan ilmunya. Atau ada juga yang sekedar mengikuti arus orang-orang di sekelilingnya. Dan bermacam tujuan-tujuan lainnya.

Apapun tujuan kita mencari ilmu, perlu diperhatikan bahwa dalam Islam, hukum mencari ilmu adalah wajib, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits terkenal dari Anas bin Malik dan beberapa sahabat lainnya.

عن أنس بن مالك , قال : قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : طلب العلم فريضة على كلّ مسلم

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 223. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Karena itu, bagi seorang muslim, mencari ilmu bisa menjadi suatu bentuk ibadah, dan inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama kita dalam mencari ilmu, sebelum tujuan-tujuan lainnya.

Lanjut baca

Buljum 2015.8.21: Pernikahan Nabi Musa ‘Alayhissalam

Banyak kisah mengenai kaum terdahulu tertulis dalam Al-Quran untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia, khususnya umat muslim. Bahkan Rasulullah ﷺ juga mendapat pelajaran dari kisah para nabi terdahulu “…Musa menderita lebih dari ini namun dia sabar” (HR Muslim 5: 2315). Kita sebagai bagian dari umat muslim juga harus mencari hikmah dari kisah-kisah nabi terdahulu yang Allah ceritakan dalam Quran. Salah satu dari sekian banyak ceritera tersebut adalah kisah pernikahan Nabi Musa as, yang terangkum dalam surah Al-Qasas ayat 14-28.

Lanjut baca

Buljum 2015.8.14: Semangat Sang Kakek dan Syiar Islam Melalui Shalat Berjamaah

Sendai, suatu pagi di musim dingin, alhamdulillah, Jepang diguyur salju lebat sejak semalam yang lalu. Hujan salju ini mungkin yang terlebat dalam beberapa belas/puluh tahun terakhir untuk beberapa kota besar. Saat itu dilaporkan di sebuah koran, di area Kanto ketebalan rata-rata salju bisa mencapai 20-30 cm, sedangkan di area Tohoku (Sendai termasuk di dalamnya) ketebalan salju bisa mencapai 40 cm, rekor tersendiri untuk area ini.

buljum-20150814-1

Sambil membaca informasi dari koran tersebut, sekitar pukul lima pagi, di tempat menunggu biasanya, si Fulan sudah pesimis bertemu dengan sang kakek. Maklum saja, salju setebal 40 cm di jalanan yang masih sepi belum tergerus arus lalu lintas pagi rasanya agak mustahil diterobos mobil sang kakek. Hampir saja Fulan kembali ke rumah, sambil berpikiran bahwa salju ini bisa menjadi udzur untuk tidak memenuhi panggilan Sang Khaliq di rumah-Nya. Entah sudah keberapakalinya si Fulan mencari-cari udzur untuk tidak turut berangkat bersama sang kakek.

Lanjut baca

Buljum 2015.8.7: Ekspedisi Ilmu Musa (2): Berburu Mutiara Hikmah

Terkadang pengetahuan dan hikmah tak dapat kita cerna dalam benak, sebagaimana mikroba tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Untuk melihat ilmu dalam berbagai konteks kehidupan, diperlukan kacamata khusus. Hal inilah yang dimiliki Khadir dan tidak dimiliki Musa Selama perjalanan, kedua nabi Allah berjalan menyusuri padang hikmah dan lautan ilmu.

 Mari kita berjalan mengiringi tapak mereka di kisah pertama.

Musa dan Khadir menumpang sebuah perahu orang miskin, yang tak meminta upah akomodasi.

فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khadir melobanginya.  Musa berkata, ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’” (QS. Al-Kahfi: 71)

Untuk pertama kalinya, Musa melanggar janjinya untuk tidak mempertanyakan tindak-tanduk Khadir.

Lanjut baca

Buljum 2015.7.31: Ekspedisi Ilmu Musa (1): Bertolak ke Pertemuan 2 Lautan

Ilmu merupakan anugerah bagi mereka yang meresapinya sampai hati. Sebaliknya, adalah petaka bagi mereka yang menjadi congkak karenanya. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khadir dalam surat Al-Kahfi merupakan lumbung hikmah, bagaimana seorang hamba menyikapi ilmu.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, disebutkan bahwa suatu ketika Nabi Musa ditanya oleh seorang Bani Israil mengenai siapa orang yang paling pintar di muka bumi. Tanpa ragu beliau menjawab, “Akulah manusia yang paling pandai.”

Jawaban tersebut masuk akal, mengingat beliau adalah pemimpin Bani Israil dan kepadanya diturunkan Kitab Taurat secara langsung dari Yang Maha Mengetahui. Pernyataan Musa tersebut membuahkan teguran dari Allah, dalam sebuah hadits qudsi, “Wahai Musa, Aku mempunyai seorang hamba yang saleh dan alim melebihi pengetahuan-pengetahuan yang ada padamu. Dia berada di suatu tempat pertemuan dua lautan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.’” (QS. Al-Kahfi : 60)

Lanjut baca