Kesuksesan Pemuda Muslim

successKesuksesan merupakan impian semua orang. Kebanyakan orang berpikir sukses dapat ditempuh saat sudah tua atau cukup umur. Namun, anggapan tersebut salah besar. Kesuksesan dapat kita rengkuh kapan saja bahkan saat usia muda. Kesuksesan bukan hanya sekadar sukses dunia, melainkan juga sukses akhirat.

Kesuksesan bukan dilihat dari berapa banyak materi, melainkan proses kesuksesan yang benar dan kebermanfaatan kesuksesan kita bagi dunia luar. Sukses yang hakiki yaitu sukses dengan jalan yang benar dan bukan mengambil segala cara untuk mencapai kesuksesan. Potret pemuda muslim zaman sekarang yang semakin rusak moralnya pasti menghambat untuk mencapai kesuksesan. Padahal, kunci kesuksesan adalah bekerja keras dan berpegang teguh pada Al-Quran serta As-Sunnah. Lanjut baca

Wahai Pemuda nan Himmah, Engkau Dirindukan

Niatku: Taat kepada perintah Allah, “Dan hendaklah kalian berjihad di jalan-Nya” [Q.S. Al-Maaidah: 35]

Semangatku: Berupaya dalam kesungguhan dalam melayani agamaku, agama Allah

Tekadku: Aku akan tekuk lututkan orang-orang kafir dengan tentaraku, tentara Allah

Pikiranku: Terpusat pada pembebasan, atas kemenangan dan kejayaan, dengan kelembutan Allah

Jihadku: Dengan jiwa dan harta dan apa yang tersisa di dunia setelah ketaatan pada perintah Allah

Kerinduanku: Perang dan perang, ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah

Harapanku: pertolongan dan kemenangan dari Allah, dan ketinggian Negara ini atas musuh-musuh Allah

Syair yang mewakili suatu himmah atau kemauan kuat untuk menggapai yang dicitakan, terpatri dalam jiwa seorang pemuda dengan seizin Allah Ta’ala. Siapa yang tidak bergetar hatinya ketika mendengar sosok pemuda yang semenjak usia belia 6 tahun, sudah begitu merindukan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam. Merindu untuk menyaksikan kabar gembira yang Allah Turunkan kepada ummatnya melalui lisan Rasulullah bahwa salah satu kota peradaban besar manusia, Konstantinopel yang bergelar “The Gates of The East and West” atau “The City with Perfect Defense (kini Istanbul)” akan dibebaskan oleh kaum muslimin. Lanjut baca

Paths under the Shade

In the following hadith, the messenger of Allah may peace be upon him narrated the seven categories of Muslim that will be given shelter by Allah The Most Merciful.

There are seven whom Allah will shade in His Shade on the Day when there is no shade except His Shade: a just ruler; a youth who grew up in the worship of Allah, The Mighty and Majestic; a man whose heart is attached to the mosques; two men who love each other for Allah’s sake, meeting for that and parting upon that; a man who is called by a woman of beauty and position [for illegal intercourse], but be says: ’I fear Allah’; a man who gives in charity and hides it, such that his left hand does not know what his right hand gives in charity; and a man who remembered Allah in private and so his eyes shed tears. [Narrated by Abu Hurairah, collected in Sahih al-Bukhari and Sahih Muslim]

The importance of young generation is shown in the Arab spring. We can see that youth incomprehension of international world has become an unprecedented mobilization. Unlike in many Western countries in general, Muslim youth are not looked as a problem population, they are the future of Islam. It is not surprising that Allah The Perfectly Wise gives preferences to righteous young as equal to a just ruler. The impact that can be created by Muslim youth can shake the establishment. [M. A. Bamyeh, Contemporary Sociology: A Journal of Reviews January 2012 vol. 41 no. 1 85-87] Lanjut baca

Bank Syariah: Apakah Benar-benar Syar’i?

ekonomi-syariahCatatan: Tulisan ini adalah opini pribadi. Penulis bukanlah orang yang memiliki kompetensi yang cukup untuk menentukan fatwa apakah operasional Bank Syariah halal atau haram. Studi kasus ke setiap Bank diperlukan untuk menentukan kehalalannya, karena termin dan klausul perjanjian setiap Bank berbeda-beda.

Bank syariah belakangan ini menjadi fenomena di dunia finansial dan perbankan. Dengan menganut sistem yang berbeda dari bank biasa (bank konvensional), Bank syariah turut disebut-sebut sebagai jawaban atas semrawutnya sistem perbankan di seluruh dunia. Banyak pakar berpendapat perbankan syariah memiliki karakteristik berupa less heat, maka dari itu sistem ini tahan menghadapi krisis. Sistem perbankan konvensional dan berbagai instrumen keuangan yang aneh-aneh dituduh sebagai biang kerok berbagai krisis keuangan yang terjadi, dengan krisis finansial yang terkini adalah subprime mortgage crisis di Amerika tahun 2008.

Total aset dan total dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat (istilahnya “Dana Pihak Ketiga”) oleh Bank Syariah semakin bertambah dari tahun ke tahun dengan sangat cepat. Profesor Celia de Anca, pakar Islamic Banking dari IE Business School, Madrid, menyatakan bahwa dari tahun 2006-2010, total aset bank-bank syariah di seluruh dunia tumbuh 23,46% per tahun (compound annual rate). Data dari majalah perbankan terkemuka The Banker menyatakan bahwa total aset di dalam industri perbankan syariah mencapai US$ 895 miliar di tahun 2010. Di Indonesia sendiri industri ini juga berkembang dengan cepat dengan rata-rata pertumbuhan industri ini mencapai 40,2% per tahun, dikutip dari pernyataan Ketua Dewan Komisioner LPS Heru Budihargo. Beliau juga menyatakan bahwa per 2012, total aset bank syariah adalah sebesar 4,2% dari total aset perbankan secara keseluruhan.

Namun di balik itu semua timbul pertanyaan, apakah bank-bank syariah sudah pantas menyandang titel “syariah” yang selalu mereka pakai untuk menarik nasabah? Apakah semua operasional bank syariah sudah benar-benar mengikuti kaidah syariah dan aturan-aturan Islam? Lanjut baca

Galau gundah gulana

Galau Gundah Gulana

Galau Gundah Gulana

Saudaraku, Pernahkah kau terjatuh? Merasa rapuh bersama perjalanan waktu? Galau gundah gulana? Pernahkah engkau mengalami keadaan yang sulit, berbagai cobaan datang silih berganti, bermacam musibah datang menghantam tanpa ampun? Pernahkan kau menghadapi keadaan, yang mana daya upaya, berbagai cara, segala macam ikhtiar dan do’a telah kau panjatkan, akan tetapi permasalahan tak kunjung terselesaikan? Yang tersisa hanyalah kepasrahan atas segala kehendak-Nya, yang menyelimuti hati dan pikiran, pernahkah? Lanjut baca

Perspektif Jarum

Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa memarkir sebuah baju. Bukan karena usianya yang sudah usang, sebab menurut ukuran saya dia termasuk salah satu baju saya yang tergolong baru. Bukan juga karena sobek atau rusak. Ia masih bagus luar-dalam. Juga bukan karena ketinggalan mode. Ia masih pantas sekali, baik warna maupun modelnya. Hal kecil yang menyebabkan itu semua, yaitu ketika beberapa buah kancingnya lepas. Apa arti sebuah baju tanpa kancing bajunya alias benik? Tentu jadi bahan omongan orang, kalau tidak mau wirang (malu). Sebab pakai baju, tapi bledeh (terbuka dan kelihatan dadanya, karena tidak ada kancingnya).

Maka, acara saya selanjutnya adalah mencari cara untuk memasang kembali kancing-kancing yang terlepas itu. Teorinya mudah, tinggal cari benang, masukkan ke jarum dan menjahitnya kembali kancing – kancing yang lepas itu ke tempatnya. Itu teori. Masalahnya di rumah saya tidak ada jarum dan benang yang saya butuhkan. Oleh karenanya, target berikutnya adalah berburu benang dan jarum.

Tanpa sengaja saya berhasil menemukan seperangkat jarum dan benangnya di laci meja kantor saya. Aneh, kok ada di situ? Ingat – ingat, asesoris itu saya ambil ketika nginap di salah satu hotel bintang di bilangan Palembang, Sumatera Selatan. Iseng memang, tapi ternyata berguna. Setidaknya untuk saat ini, untuk memasang kembali benik baju saya. Selanjutnya saya persiapkan diri untuk segera memasangnya. Saya ambil jarum dan memilih benang yang sesuai dengan warna baju saya. Ada beberapa benang yang tersedia di situ, dan benang hitam menjadi pilihan utama. Lanjut baca

Qiyamu Al-Lail (Bangun Malam)

Pada perang Salib, Sultan Sallahuddin Al-Ayyubi memilih mereka yang bangun malam sebagai barisan mujahidin garda depan. Orang-orang yang rajin bangun malam itu berhadapan langsung dengan musuh. Hasilnya pasukan muslimin memperoleh kemenangan gemilang mengalahkan pasukan salib. Kemudian kedamaian datang bersamanya.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia berkata: “Bagaimana mata ini dapat tertutup rapat dan tenteram sedangkan ia tak tahu di mana kelak ia akan kembali di antara dua tempat.” Setiap malam, ia bangun bertahajud kepadaNya dan menyendiri denganNya sehingga basah tempat sujudnya oleh air mata. Kegigihan sholat malamnya tiada tara, hasilnya masa kekhalifahannya yang cuma 2,5 tahun, membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan mencari orang yang berhak menerima zakat pun susah ditemukan kala itu. Dua setengah tahun yang sempurna, serasa 25 tahun lamanya.

Sekarang, banyak kalangan merasa umat islam tengah terpuruk. Padahal, dulu islam pernah berjaya, baik di kancah ilmu pengetahuan maupun peradaban. Banyak yang bertanya, kenapa hal ini bisa terjadi? Dan berbagai usaha pun dilakukan oleh berbagai kalangan untuk meraih kembali kejayaan itu. Ada yang menggebu dengan ide kekhalifahan. Ada yang berseru dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Ada pula yang berusaha menguasai jalur – jalur ekonomi dan informasi. Namun, semua itu serasa menemui jalan buntu. Satu hal yang banyak mereka lupakan dalam memperoleh kembali kehormatan dan kemuliaan itu, yaitu tidak menegakkan kembali bangun malam seperti yang dipesankan Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam. Lanjut baca

Kriteria Calon Pasangan

“Lelaki yang terencana tahu persis wanita seperti apa yang dia perlukan, karenanya tak perlu pacaran dengan alasan perkenalan” -Ust. Felix Siauw-

Awalnya adalah Kriteria

Seperti disebutkan dalam kutipan di atas, juga dibahas dalam buku-buku yang memaparkan tentang pernikahan dalam Islam, menyiapkan kriteria calon pasangan adalah termasuk dalam persiapan yang mula-mula. Idealnya, setiap pribadi muslim terutama yang telah baligh dan siap menikah, sudah memiliki visi tentang hidupnya, tentang jalan apa yang akan ia pilih dalam peran menjadi khalifah-Nya. Jadi ilmuwan misalnya, atau pebisnis, atau da’i di pedalaman, atau apa saja yang berada dalam ridha-Nya.

Setelah visi tentang diri mantap terencana, yang ditetapkan selanjutnya adalah visi pernikahan, menentukan tujuan apa yang ingin dicapai bersama pasangan. Dalam pemenuhan tujuan inilah, penetapan kriteria menjadi penting. Analoginya seperti akan membeli komputer misalnya, mengetahui dengan jelas spesifikasi yang dibutuhkan akan membantu kita untuk menghemat waktu dalam memilih produk, juga mencegah kita dari jebakan promosi produk yang tidak diperlukan. Dalam hal mencari calon pasangan, memulainya dengan fokus pada kriteria yang dibutuhkan juga diharapkan akan membantu untuk lebih menjaga kebersihan hati; dibandingkan dengan memulai dengan fokus pada satu sosok yang belum tentu menjadi jodohnya nanti. Lanjut baca

Ilmu

Ilmu, Penting(?)

Kawan-kawan, pernahkah kita berpikir tentang pendidikan yang selama ini sudah kita tempuh? Dalam pendidikan formal, khususnya di Indonesia, kita mengenal jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA, hingga universitas. Sebagian dari kita mungkin sedang menempuh salah satu jenjang pendidikan tersebut. Sebagian lagi bahkan mungkin sudah menyelesaikan jenjang pendidikan hingga mendapat gelar yang bermacam-macam entah doktor, profesor, dan sebagainya. Namun, dari semua pendidikan yang kita tempuh selama ini ilmu apa saja yang sudah kita dapat?

Sebagai seorang muslim, kita mengetahui bahwa menuntut ilmu merupakan suatu keharusan. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” [HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dll]. Tidak hanya itu, menuntut ilmu bahkan dapat dikatakan sebagai jihad bagi seorang muslim seperti difirmankan dalam surat At-Taubah ayat 122:

وَما كانَ المُؤمِنونَ لِيَنفِروا كافَّةً ۚ فَلَولا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرقَةٍ مِنهُم طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهوا فِى الدّينِ وَلِيُنذِروا قَومَهُم إِذا رَجَعوا إِلَيهِم لَعَلَّهُم يَحذَرونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Hal ini juga diperkuat dengan sabda Rasulullah, “Barang siapa keluar dalam rangka thalabul ‘ilmi (mencari ilmu), maka dia berada dalam jalan Allah (fii sabilillah) hingga kembali.” [HR. Tirmizi]

Ilmu Agama? Lanjut baca

Awas keledai!

keledaiNasi sudah menjadi bubur, entah mengapa hewan yang satu ini identik dengan sebuah kedunguan. Orang sering menyebut namanya, sekedar untuk mengatakan sebuah kebodohan. Orang sering memakai namanya untuk melampiaskan ketololan. Banyak kesalahan dan kejelekan yang tidak ia perbuat, tetapi dialamatkan kepadanya. Dasar keledai! Begitulah yang sering telinga kita dengar selama ini, walau banyak juga di antara kita yang belum melihat seperti apa hewan ini.

Mungkin dari rupanya yang imut, tubuhnya yang tidak gede-gede amat, tinggi semampai – semeter tak sampai, dan polahnya yang lamban-gemulai, itulah yang mendorong menjadikannya sasaran tembak. Orang seenaknya berprasangka, padahal dia punya peran besar dalam perjalanan sejarah umat manusia, sebagaimana tersebut di dalam Kitabullah:

Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
[QS An-Nahl: 7-8]

Juga sejak kapan label itu disematkan kepadanya, tak tercatat dalam sejarah. Sebut saja kisah Nasrudin, tokoh sufi di zamannya, ketika bertemu dengan Timur Lenk. Ksatria Mongol yang meluluhlantakkan dinasti Islam itu menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Tanpa bermaksud menggurui, apalagi tersinggung, Nasrudin menerimanya dengan senang hati hadiah keledai tersebut sekalipun dengan tugas yang berat karena Timur Lenk berkata, “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali kemari, dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah binatang dungu ini bisa membaca?” Lanjut baca