Adakah nyanyian yang potensial menjatuhkan kepada hal yang diharamkan?

Allah Ta’ala menciptakan manusia lengkap dengan akal dan lima pancaindera, dan masing-masing pancaindera tersebut tentunya memiliki daya serap akan sesuatu yang indah dan menyenangkan, begitulah sunnatullah penciptaan.

Sifat alami mata adalah untuk melihat, mata melihat dan menikmati pemandangan yang indah seperti alam pedesaan dengan sawah hijau kekuningan yang siap untuk dipanen, pegunungan dengan sungai-sungai yang mengalir, tetumbuhan, bunga-bunga dan dedaunan yang berwarna-warni, dengan kata lain semua hal yang indah dan berwarna-warni adalah sesuatu yang menyenangkan bagi mata, sebaliknya pemandangan yang buruk dan warna yang buruk adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Lalu Allah juga telah menciptakan hidung untuk dapat mencium sesuatu yang harum dan wangi, dan tidak suka pada bebauan yang amis, busuk, dan tidak enak lainnya.

Sama halnya dengan lidah, lidah menyukai makanan yang manis, enak, gurih, dan tidak menyukai makanan yang pahit dan tidak enak. Tangan sangat menyenangi menyentuh permukaan yang halus, lembut, licin dan tidak menyukai permukaan yang kasar dan tidak rata. Sementara akal mencintai ilmu dan ma’rifah, serta membenci kebodohan. Demikian halnya dengan telinga, ia menyukai suara-suara yang indah, merdu, jernih, irama-irama yang membuat nyaman. Al-Qur’an dan Al-Hadis membolehkan kita mendengar suara yang merdu, “Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Faathir : 1) Al Ghazali mengatakan bahwa maksud dari ‘menambahkan’ dalam ayat tersebut adalah suara yang merdu. Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tidak mengutus seorang Nabi kecuali bersuara bagus.” dalam hadis lainnya, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an dengan suara merdu, maka Allah akan mendengarkan bacaannya lebih daripada seseorang mendengar nyanyian dari penyanyi (budak) wanitanya.”

Lalu bagaimana mungkin suara yang merdu dan berirama menjadi haram didengar, adakah yang mengatakan bahwa mendengarkan suara merdu kicauan burung haram didengar? Suara binatang yang hidup tidaklah ada bedanya dengan suara alat musik dan benda lainnya, maka mendengarkan suara manusia dengan atau tanpa alat musik adalah tidak haram kecuali mendengar suara dari alat-alat yang memang diharamkan oleh agama (kuba, mazamir, dan autar). Apabila mendengar suara merdu dan indah diharamkan maka segala sesuatu yang disukai manusia karena keindahaannya pun menjadi haram hukumnya bukan? Tentu saja hal ini menjadi keliru, alasan untuk mengharamkan suara yang merdu dan indah adalah apabila ia dihubungkan atau berhubungan dengan sesuatu yang diharamkan, ketika memainkan alat musik dan mengeluarkan suara yang merdu dan indah akan menjurus kepada sesuatu yang diharamkan seperti khamer dan jima’ (bersetubuh)

Ada 7 tempat di mana nyanyian menjadi sunnah:

1. Nyanyian orang sedang berhaji, dimana mereka berjalan berkeliling dari satu negeri ke negeri lainnya dengan bernyanyi dimana syair-syair yang dilantunkan berhubungan dengan Ka’bah, Maqam Ibrahim, sumur zamzam, dan tempat-tempat agama lainnya, yang dapat membangkitkan perasaan rindu ke Baitullah.

2. Nyanyian para mujahid untuk membangkitkan semangat dan keberanian dalam menghadapi musuh-musuh Allah.

3. Apabila dua orang pejuang bertemu di medan perang dan bernyanyi dengan syair yang dapat membangkitkan dan menambah keberanian, hal ini di bolehkan karena dapat menggerakkan kesungguhan untuk berperang.

4. Nyanyian dalam kesedihan untuk mengungkapkan kesedihannya karena dosa-dosanya yang telah lalu.

5. Nyanyian pada saat perayaan seperti pada saat hari raya Ied, walimah pernikahan, aqiqah, ataupun perayaan pengkhitanan anak.

6. Nyanyian para pecinta Allah, yang dapat meningkatkan kecintaan kepada Allah dan memberi kepuasan dan kenikmatan bagi hati dan jiwa, nyanyian ini adalah halal. Namun nyanyian para pecinta wanita (yang bukan mahram-nya) hukumnya haram, bernyanyi bersama dengan seorang wanita yang bukan mahram juga haram.

7. Nyanyian seseorang yang mencari keridhaan dan kecintaan Allah serta merindukan pertemuan dengan-Nya adalah halal. Dengan mendengarkan nyanyian religius dapat mengeluarkan semua hal dari lubuk hari terdalam semua kekuatan pandangan tentang berbagai hal dan perasaan terdalam tentang hasrat yang tidak dapat diungkapkan. Seperti mendengarkan nyanyian tentang ibu yang dapat membangkitkan rasa ingin berbakti kepadanya karena Allah semata, serta nyanyian-nyanyian religius yang dapat membersihkan kekotoran hati, menjernihkan dan mencerahkan hati. yang mendorong untuk semakin semangat dalam beribadah. Sebaliknya nyanyian yang justru menyebabkan kita semakin lemah dalam beribadah dan mengotori hati justru dilarang.

Lalu adakah nyanyian yang justru menjadi potensial menyebabkan kita jatuh pada hal-hal yang diharamkan? Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin merangkumnya ke dalam lima hal, yaitu:

1. Mendengarkan nyanyian dari seorang wanita yang bukan mahramnya, yang dapat membangkitkan nafsu syahwat

2. Alat-alat musik dari nyanyian para pemabuk hukumnya haram karena alat-alat musik tersebut mengingatkan pada benda yang diharamkan dan perbuatan yang haram (meminum khamr dan mabuk)

3. Mendengarkan syair yang buruk (mengandung perkataan-perkataan kotor) adalah haram, seperti cerita tentang kecantikan seorang wanita tertentu (bukan wanita umumnya) di hadapan orang banyak juga haram hukumnya

4. Apabila muncul hasrat atau kenginan jahat dan tidak bermoral setelah mendengarkan nyanyian, mendengarkan nyanyian ini menjadi haram hukumnya

5. Apabila mendengarkan dan mengeluarkan nyanyian membentuk suatu kebiasaan sehingga menjadi berlebihan bahkan menjadi keharusan, maka hal itu menjadi haram. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik, terlalu banyak makan akan berbahaya bagi tubuh, terlalu banyak minyak yang menempel pada wajah akan membuat wajah nampak buruk bukan? Terlalu banyak mendengarkan nyanyian maupun bernyanyi hingga dini hari, bercampur baur dengan  bukan mahram, dan melupakan hak tubuh untuk beristirahat atau bahkan meninggalkan kewajiban shalat adalah keburukan.

Secara umum nyanyian adalah dibolehkan, tidak diharamkan. Ia menjadi haram karena alasan-alasan lain yang telah dijelaskan d iatas, ataupun jika hal tersebut dilakukan justru menjatuhkan kita pada kegiatan foya-foya dan sia-sia (tidak berfaedah, tidak berguna).

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)