Hadits-hadits lemah tentang Ramadhan

Ramadhan insya Allah akan segera datang. Dan kiranya sangatlah perlu bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Di antaranya adalah dengan menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan agama Islam dengan dasar keilmuan yang kuat.

Ulama-ulama seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Hazm, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany, melarang kita menggunakan hadits dhaif untuk semua masalah agama seperti aqidah, fiqih, ibadah, dan muamalah. Selama masih ada hadits shahih, seperti kita yang membaca paper, tentunya lebih ingin langsung membaca dari sumber pertama yang terpercaya daripada yang sudah dirujuk belakangan agar lebih kuat, jelas, dan tidak ada distorsi informasi. Demikian pula, seperti halnya mengamalkan hadits, agar amalan-amalan ibadah kita di bulan Ramadhan nanti sesuai dengan tuntunan yang shahih, melalui tulisan singkat ini kami berusaha merangkum hadits-hadits dhaif (lemah), maudhu’ (palsu), matruk (semi palsu), dan munkar seputar puasa dan Ramadhan.

1. Doa, “Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’ban wa balighna fi Ramadhan.”

Ini adalah kalimat yang sangat terkenal, dijadikan lirik nasyid dan musik positif, sehingga hampir-hampir kita menyangka bahwa kalimat ini berasal dari Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, padahal di dalam sanad hadits ini terdapat Zaidah bin Abi Ruqad dan Ziyad an Numairi.

Imam Bukhari berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad: “Munkarul hadits.” (haditsnya munkar) (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 165. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah). Imam al Haitsami berkata tentang Ziyad an Numairi: “Dia dha’if menurut jumhur (mayoritas ahli hadits).” (Majma’ az Zawaid, Juz. 10, Hal. 388. Darul Kutub Al Ilmiyah). Sementara Syaikh Al Albany mendha’ifkan hadits ini. (Misykah al Mashabih, Juz. 1, Hal. 306, No. 1369. Lihat juga Dhaiful jami’ No. 4395), begitu pula Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu dhaif (isnadnya dhaif). (Lihat Musnad Ahmad No. 2346. Muasasah Ar Risalah)

2. Khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang berbagai keutamaan bulan Ramadhan

Dari Salman radhiyallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah memberi khutbah di depan kita pada akhir bulan Sya’ban, katanya: “Wahai manusia, telah menaungi kalian bulan agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya fardhu, shalat malamnya adalah sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaNya dengan kebaikan, maka ia bagaikan menjalankan kewajiban pada selain bulan tersebut. Barangsiapa yang menjalankan kewajiban ia laksana menjalankan tujuh puluh kewajiban pada selain bulan itu. Dia adalah bulan kesabaran, dan kesabaran ganjarannya adalah surga. Bulan kesantunan, dan bulan ditambahkannya rezeki bagi orang mu’min. Barangsiapa yang memberi buka orang yang berpuasa maka ia mendapat ampunan dari dosa-dosanya dan pembebasan dari api neraka dan baginya pahala sebagaimana pahala orang yang diberinya buka tanpa mengurangi pahala mereka.”

Para sahabat bertanya: “Tidak semua kami mampu memberi makan berbuka puasa.” Rasulullah menjawab: “Allah memberikan pahala kepada siapa saja yang memberi makan berupa korma, air putih, atau susu yang dicampur dengan air. Bulan itu, awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah, dan akhirnya adalah dibebaskan dari api neraka. Barang siapa meringankan budaknya maka dia akan diampuni dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah empat hal; dua hal sangat diridhai Tuhan kalian, dua hal lain kalian tidak akan merasa cukup dengannya. Ada pun dua hal yang Tuhan sangat ridha adalah mengucapkan syahadat Laa Ilaha Illallah dan istighfar kepadaNya. Sedangkan dua hal yang kalian tidak akan merasa cukup adalah permintaan kalian terhadap surga kepada Allah, dan kalian minta perlindungan kepadaNya dari neraka. Barangsiapa yang mengenyangkan orang puasa maka Allah akan mengenyangkannya dengan sekali minum di telaga yang tidak akan merasa haus selamanya, hingga ia masuk ke surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Juz.7, Hal. 115, No hadits. 1780)

Tahukah kita bahwa hadits ini munkar* karena ada Ali bin Zaid bin Jud’an sebagai perawi didalamnya. Dalam Kitab Al Jarh wat Ta’dil disebutkan bahwa Imam Yahya bin Ma’in mengatakan Ali bin Zaid bin Jud’an tidaklah bisa dijadikan hujjah. Imam Abu Zur’ah mengatakan bahwa dia tidak kuat hafalannya. (Imam Abu Hatim ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 6 Hal. 187).

*Menurut Prof.Dr. Ali Mushthafa Ya’qub, MA, hadits mungkar adalah hadits paling buruk peringkat ketiga, setelah hadits maudhu’ (palsu) dan hadits matruk (semi palsu)

3. Perkataan “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.”

Kita sering sekali mendengar ucapan ini, padahal tidak ada korelasi langsung dengan Ramadhan. Bunyi lengkapnya kurang lebih, “Kita kembali dari Jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihad paling besar itu?” Beliau bersabda: “Jihad hati*.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkomentar: “Tidak ada dasarnya, dan tidak diriwayatkan oleh seorang pun ahli ma’rifah (ulama) sebagai ucapan dan perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam. Dan, jihad melawan orang kafir termasuk amal yang paling agung, bahkan dia adalah tathawwu’ (anjuran) yang paling utama bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah sama orang-orang beriman yang duduk (tidak pergi jihad) tanpa memiliki udzur (alasan yang benar), dibanding orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya. Allah mengutamakan satu derajat bagi orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang duduk saja. Kepada masing-masing mereka Allah menjajnjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. An Nisa: 95). (Majmu’ Fatawa, 2/487. Mawqi’ Al Islam)

*Maksudnya melawan hawa nafsu

4a. Doa berbuka puasa

“Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwa dia menyampaikan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; jika berbuka puasa dia membaca Allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizqika afthartu.”

“Syaikh al Albany berkata: “Sanad hadits ini dha’if, karena mursal*, dan Mu’adz ini adalah tidak dikenal biografinya.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Irwa’ al Ghalil fii Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Juz. 4, Hal. 38. Cet. 2, 1985M-1405H. Maktab Islami, Beirut-Libanon. Lihat juga dalam kitab Shahih wa Dha’if Al Jami’ Ash Shaghir, Juz. 20, Hal. 402. No. 9830)

*Hadits mursal adalah hadits yang terputus sanad (periwayatannya) setelah generasi tabi’in. Mu’adz bin Zuhrah ini seorang tabi’in, yang tidak langsung mendengar hadits ini dari sahabat nabi.

4b. Dari Ibnu ‘Abbas: “Adalah Rasululah jika berbuka, dia mengucapkan: “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, fataqabbal minni innaka antas samii’ul ‘Aliim.”

Hadits di atas juga dha’if. (Syaikh al Albany, Shahih wa Dha’if Al jami’ Ash Shaghir, Juz. 20, Hal. 402, No. 9831)

Lalu bagaimana dengan “Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar.” (HR. Malik) ? Imam Bukhari menyatakan bahwa hadits ini sangat munkar*.” (Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Lisanul Mizan, Juz.2, Hal. 385)

*Menurut Dr. Mahmud Ath Thahhan, didalam Taisir al Mushthalah al Hadits, Hal. 80-81, hadits mungkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang buruk hafalannya, banyak salah dan lalainya, dan nampak kefasikannya, serta bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh orang terpercaya, dan termasuk kelompok hadits dha’if jiddan (sangat lemah).

Sementara doa yang satu ini, yang terkenal dan diputar di televisi Indonesia pada saat berbuka puasa, tidak ditemukan disalah satupun dari lebih 50 kitab hadits

“Allahumma laka shumtu, wa bika amantu, wa ‘ala rizqika afthartu, birahmatika yaa arhama ar raahimin.”

Lalu doa apa yang sebaiknya kita baca untuk memulai makan dan minum, baik dalam keadaan berpuasa maupun tidak?
Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala, jika lupa menyebut nama Allah di awalnya, maka katakanlah: “Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya.” (HR. Abu Daud, At Timidzi) dan dalam hadits shahih riwayat Ahmad: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika disuguhkan kepadanya makanan, dia membaca: “Bismillah,” setelah makan ia membaca,”Allahumma Ath’amta, wa asqaita, wa aqnaita, wa hadaita, wa ahyaita, falillahil hamdi ‘ala maa a’thaita.”

5. Tidurnya orang yang sedang berpuasa adalah ibadah

Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampunkan.” (HR. Al Baihaqi)

Dalam sanad hadits ini diriwayatkan oleh Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amru an Nakha’ dan Imam al Baihaqi berkata tentang mereka berdua: “Ma’ruf bin Hisan adalah dha’if, dan Sulaiman bin ‘Amru an Nakha’i, lebih dha’if darinya.” (Syu’abul Iman, No, 3780)

Sehingga jangan sampai kita menjadikan puasa alasan untuk bermalas-malasan dengan tidur

6. Dilarang bagi orang berpuasa bersiwak (menyikat gigi) di sore hari

“Jika kalian puasa maka bersiwaklah pada pagi hari dan jangan bersiwak pada sore hari, karena tidaklah bagi mulut orang berpuasa yang menjadi kering pada sorenya, melainkan Allah akan memancarkannya cahaya antara kedua matanya kelak pada hari kiamat.” (HR. Ath Thabarani)

Dalam sanad hadits ini terdapat Kaisan Abu Amr dan Yazid bin Bilal. Kaisan Abu Amr ini oleh Imam Ibnu Hibban disebut: “Munkarul Hadits (haditsnya munkar).” (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 3, Hal. 105. Tahqiq: Mahmud Ibrahim Zaid), begitu juga Imam Al Azdi berkata tentang dia: “Munkarul hadits.” (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz.11, Hal. 177). Sementara Syaikh al Albany mendha’ifkan hadits diatas. (Syaikh al Albany, As Silsilah Ash Shahihah, No. 401)

Dalam riwayat yang shahih justru di sunnahkan, baik bagi orang yang berpuasa maupun tidak, untuk bersiwak baik di awal siang atau di akhirnya, sama saja. Diriwayatkan dari Amir bin Rabi’ah Radhiallahu ‘Anhu: Disebutkan dari Amir bin Rabi’ah, dia berkata: “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersiwak, dan dia sedang puasa, dan tidak terhitung jumlahnya.” (HR. Bukhari)

Lalu, bagaimana dengan sikat gigi menggunakan pasta gigi? Pasta gigi dihukumi sama dengan kayu basah, karena sama-sama mengandung air dan rasa. Imam An Nawawi mengatakan bahwa dengan alat apa pun selama tujuan ‘membersihkan’ telah tercapai, itu juga dinamakan bersiwak, baik itu dengan jari, kain, atau lainnya selama tidak membahayakan.

7. Rasulullah berbuka puasa dengan tiga butir kurma

Dari Anas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai berbuka puasa dengan tiga butir kurma atau apa saja yang tidak terpanggang api.” (HR. Abu Ya’la)

Syaikh al Albany berkata tentang hadits ini: “Sanad ini dha’if jiddan (lemah sekali).” (Syaikh al Albany, Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 495, No. 996)

Jadi sebaiknya kita tidak membatasi dengan jumlah maupun makanan yang tidak terpanggang, makanlah apa saja yang halal dan baik bagi tubuh kita, sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah, asal tidak berlebihan

8. Sedekah paling utama adalah di bulan Ramadhan

“Diriwayatkan dari Shadaqah bin Musa, dari Tsabit, dari Anas, dia berkata: “Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling utama?”, Beliau menjawab: “Shadaqah pada bulan Ramadhan.” (HR. At Tirmidzi)

Imam at Tirmidzi berkata tentang Shadaqah bin Musa (Nama Kun-yahnya Abul Mughirah): “Menurut mereka (para Imam Ahli hadits), dia tidak kuat (lemah).” (Sunan At Tirmidzi, No. 663). Sementara Syaik Nashiruddin al Albany telah mendha’ifkan hadits di atas dalam berbagai kitabnya. (Irwa’ al Ghalil, Juz. 3, Hal. 397. Dha’if at Targhib wat Tarhib, Juz. 1, Hal. 155, No. 618. Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi, No. 663)

Inti dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan kita semua agar:

  • Beribadahlah berlandaskan kepada dalil hadits yang shahih
  • Jika hendak berdoa, tidak mengapa menggunakan redaksi sendiri karena memang dibolehkan, tetapi tidak menyandarkannya kepada Rasulullah Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam, membudidayakannya, menyebarkannya ke khalayak sehingga umat menyangka bahwa itu adalah hadits yang shahih
  • Walaupun hadits mengenai hawa nafsu diatas lemah, tetapi Islam mengakui ada jihad melawan hawa nafsu, dari Fadhalah bin ‘Ubaid, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mujahid adalah orang yang berjihad terhadap hawa nafsunya.” (HR. At Tirmidzi). Hadits ini shahih. (Misykah Al Mashabih No. 3823. As Silsilah Ash Shahihah No. 549. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1258)
  • Jika hendak makan atau minum, baik dalam keadaan berpuasa ataupun tidak, sudah cukup dengan mengucapkan “Bismillah”
  • Berbukalah dengan makanan dan minuman apa saja, asalkan halal dan baik
  • Tidak mengapa menyikat gigi dalam keadaan berpuasa
  • Bersedekahlah kapan saja, dengan ikhlas dan benar hanya mengharapkan keridhaan Allah semata, tanpa niat mendapatkan dunia dan segala macam perhiasan di dalamnya. Karena ikhlas dan benar (sesuai tuntunan) adalah syarat diterimanya amal shalih.
Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)