Hijrah, kaum Suffah, dan sifat dermawan

Ketika Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam tiba di Yatsrib (Madinah), beliau dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi karena sebagian besar muslim yang hijrah ke Madinah datang tanpa sedikit pun membawa harta mereka. Memang benar sebagian dari mereka adalah pedagang dengan kekayaan yang tidak sedikit, tetapi dalam keadaan yang tertekan oleh Quraisy mereka tidak dapat membawa serta harta mereka.

Untuk mengatasi persoalan ini, Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam mengambil beberapa langkah strategis. Pertama, kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Makkah menuju Madinah) akan dipersaudarakan dengan kaum Anshar (warga asli Madinah). Kaum Anshar kemudian memberikan kaum Muhajirin tempat bernaung dan makanan. Namun, jumlah kaum Muhajirin terus bertambah di luar kemampuan kaum Anshar memberikan akomodasi bagi saudaranya ini. Solusi lainnya dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Kemudian, Rasululah Shallallaahu’alaihi wa Sallam mengambil langkah kedua, yaitu menyediakan tempat bernaung bagi mereka di halaman belakang Masjid Nabawi. Paling tidak kini mereka memiliki tempat bernaung dan sambil perlahan-lahan menyesuaikan diri dan memulai kembali usaha perdagangan mereka hingga mereka dapat kembali menghasilkan uang. Orang-orang yang bernaung di belakang halaman Masjid Nabawi ini dikenal dengan nama “kaum Suffah”. Selain menyediakan tempat bernaung, Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam mengajak para sahabatnya untuk menyediakan makan malam bagi mereka karena kebanyakan dari mereka kondisi ekonominya tidak lebih mampu dibanding para sahabat yang lain.

Abdurrahman bin Abu Bakar radhiyallahu’anhu mengisahkan bahwa Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam berkata:

Siapapun yang memiliki cukup makanan untuk 2 orang, maka undanglah orang ketiga untuk makan bersamanya dari kaum Suffah. Dan siapapun yang memiliki cukup makanan untuk 4 orang, maka undanglah orang kelima untuk makan bersamanya dari kaum Suffah.

Menanggapi pernyataan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam ini, Abu Bakar radhiyallahu’anhu pernah mengundang tiga orang dari kaum Suffah untuk makan malam di rumahnya. Istri dan anaknya pun diminta untuk menyiapkan makanan bagi mereka, sementara itu Abu Bakar justru makan malam bersama Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam karena khawatir makanan di rumah tidak akan cukup jika dia turut makan bersama di rumah.

Ketika Abu Bakar radhiyallahu’anhu kembali ke rumahnya, ia mendapati para tamu itu belum juga makan. Istri Abu Bakar yang melihat kepulangan beliau kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu tidak makan malam bersama tamumu?” Abu Bakar menjawab dengan pertanyaan, “Apa yang engkau sediakan untuk makan malam mereka?”  Istrinya berkata lagi, “Mereka (kaum suffah) berkata bahwa mereka tidak akan makan sampai engkau datang. Makan malam sudah disediakan untuk mereka, tetapi mereka tetap menolak untuk memakannya.”

Sementara itu, Abdurrahman yang mendengar percakapan kedua orang tuanya ini merasa takut disalahkan oleh ayahnya karena tamu mereka tidak memakan makan malam yang telah disediakan. Abu Bakar radhiyallahu’anhu rupanya tidak hanya marah kepada anaknya tetapi juga kepada dirinya sendiri. Dengan rasa frustasi beliau berkata kepada para tamu tersebut, “Demi Allah, saya tidak akan makan (makanan yang telah disediakan oleh istrinya untuk makan malam kaum Suffah).” Menanggapi pernyataan tersebut, salah seorang tamunya malah bersumpah juga tidak akan makan hingga Abu Bakar yang memakannya terlebih dahulu.

Pada titik ini, Abu Bakar radhiyallahu’anhu menyadari bahwa seharusnya ia tidak mengeluarkan perkataan tersebut. Beliau kemudian berkata, “Saya telah keliru.” Lalu, beliau pun memulai untuk makan, diikuti oleh para tamu dari kaum Suffah. Mereka semua kemudian menjadi saksi atas sebuah keajaiban yang kemudian terjadi. Abdurrahman menjelaskan, “Demi Allah, setiap kami mengambil makanan dari wadah makanan tersebut, jumlah makan malam itu bertambah banyak di bagian bawahnya. Pada akhirnya setiap kami merasa kenyang, dan masih banyak makanan tersisa, bahkan lebih banyak dari keadaan semula.”

Melihat keajaiban ini, Abu Bakar radhiyallahu’anhu berseru kepada istrinya, “Wahai saudara perempuan Banu Faraas, apa ini!” Istrinya menjawab, “Saya sendiri tidak tahu, tapi apa yang saya lihat sungguh sebuah keajaiban. Jumlah makanan itu kini tiga kali lebih banyak dari keadaan semula yang saya sediakan.” Abu Bakar radhiyallahu’anhu kemudian membawa makanan tersebut kepada Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam. Makanan tersebut dibagikan kepada dua belas grup laki-laki, setiap grup terdiri atas banyak laki-laki.

Kisah ini mengajarkan kepada kita sebuah sikap dermawan yang dapat mengantarkan kita kepada sebuah karomah, keajaiban atas kehendak Allah Ta’ala. Abu Bakar radhiyallahu’anhu pada saat itu belum menjadi seorang yang kaya dan belum dalam posisi yang berkecukupan untuk memberi makan orang lain. Ia bahkan sempat “kabur” dari rumah agar makanannya cukup untuk para tamu. Meski belum berkecukupan, beliau dan keluarganya tetap menjamu tamu sebaik-baiknya, melakukannya karena anjuran dari Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam di atas dasar keimanan yang teguh kepada Allah Ta’ala.

Saudaraku, dari kisah ini kita bisa ambil pelajaran untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan meskipun dalam keadaan sempit. Kita bisa ber-“hijrah” dari sifat kikir menjadi dermawan, membantu sesama, lebih-lebih saudara dekat yang dalam keadaan sulit. Insya Allah, dengan izin Allah, akan banyak berkah yang kita terima, dan berharaplah ridha-Nya semata untuk bekal kebaikan kita di akhirat kelak. Ambillah secukupnya saja dari bagian kita di dunia ini, sementara itu berbekallah semaksimal mungkin untuk kehidupan akhirat kelak.

Barakallahu fiikum.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)