Berita MABRUK

Reportase Idul Adha di Sendai, Jepang

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Ilallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil Hamd”

Sekitar pukul 7.30 waktu Jepang, kalimat takbir mulai digemakan. Dipimpin oleh salah seorang jamaah dan diikuti oleh jamaah lainnya, kalimat kebesaran Ilahi tersebut syahdu berkumandang. Matahari bersinar cerah, menyeringai dari pepohonan. Terik namun menghangatkan.

Satu persatu jamaah berdatangan, baik yang sedang bermukim di Sendai maupun daerah-daerah sekitarnya. Ada yang berjalan kaki, menaiki sepeda ataupun mengendarai mobil. Beberapa jamaah ada yang berangkat sendiri, namun ada juga yang bersama teman maupun sanak keluarga. Jamaah berjalan dengan tertib agar tidak mengganggu keadaan sekitar. Mobil-mobil diparkir secara rapih agar tak menghalangi jalan. Kawan-kawan Muslim disini sudah mafhum, walaupun Masjid Sendai yang merupakan satu-satunya Masjid di Ibu Kota Prefektur Miyagi ini letaknya agak jauh dari pusat Kota, namun harus tetap bersikap sopan dan santun agar warga yang tinggal disekitaran Masjid tidak terusik dengan semua aktivitas keislaman di Masjid.

Beberapa orang masih terlihat masygul untuk mempersiapkan tempat sholat, mengecek speaker dan merapikan tempat berwudhu. Pada malam sebelumnya juga tidak sedikit brother muslim dari berbagai negara, termasuk warga Keluarga Muslim Indonesia di Sendai (KMIS), bahu membahu dalam mempersiapkan pelaksanaan sholat Idul Adha tahun ini tanpa memandang usia, ras, suku dan budaya.

Tepat pukul delapan, sholat Idul Adha dimulai. Nailul Hasan, warga KMIS yang baru saja menyelesaikan studi S3 nya, diamanahi menjadi Imam sekaligus Khatib. Dalam khutbahnya, Mas Nailul menekankan bagi kita selaku umat muslim untuk meneladani dan mencontoh perilaku Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mencintai Allah lebih dari apapun, termasuk anak-anak Beliau. Hal itu dibuktikan dengan dilaksanakannya perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk menyembelih anak kesayangannya, Nabi Isma’il ‘alaihissalam. Pada bagian lain, Mas Nailul juga mengajak untuk selalu menjaga dan melaksanakan sholat 5 waktu, karena meninggalkan sholat wajib dengan sengaja adalah dosa besar, yang dosanya melebihi dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri dan minum minuman keras.

Selepas sholat, jamaah saling bersalaman dan berpelukan seraya mengucapkan ‘Ied Mubarrak. Tak lupa juga untuk mengabadikan momen berlebaran di tanah rantau dengan saling berfoto bersama. Halida Rahmania, mahasiswi S2 jurusan Food and Biodynamic Chemistry asal Semarang, ketika ditanya oleh tim MABRUK, mengungkapkan bahwa lebaran di Sendai sangat menyenangkan dan tidak terasa seperti di luar negeri

“Semua orang open house, semua orang sholat bareng dan pergi menyambagi rumah orang, muter satu tempat ke tempat lain! Dan setelah dengar cerita dari teman berlebaran di sisi lain Jepang, merasa beruntung saya tinggal di Sendai yang kekeluargaannya kerasa banget”, ungkap Halida yang baru tinggal di Kota sendai selama kurang lebih 4 bulan ini.

Senada dengan Halida, Muhammad Rais Abdillah, mahasiswa yang meraih gelar Ph.D di bidang Geophysics juga merasakan suasana perayaan Idul Adha di Sendai tak ubahnya Idul Adha di Indonesia. “Hanya saja kalau bertepatan dengan bukan hari libur, perayaannya terasa singkat” tambahnya. Memang, pada tahun ini, Idul Adha 1439 H jatuh pada hari Rabu, dimana aktivitas perkuliahan dan perkantoran berjalan sebagaimana biasa, sehingga sesaat setelah melaksanakan sholat Idul Adha, tidak sedikit yang langsung menuju kampus atau tempat mereka bekerja.

Walaupun suasana berlebarannya mirip dengan di Indonesia, namun ada perbedaan yang paling kentara, yaitu penyembelihan hewan kurban. Di kota Sendai dan umumnya di tempat tempat lain di Jepang, tidak ada penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha dikarenakan peraturan pemerintah yang tidak membolehkan pemotongan hewan tidak boleh sembarangan dan harus dilakukan oleh pihak yang memiliki izin seperti peternakan atau tempat pemotongan hewan.

Tak ada pembagian daging hewan kurban, bukan berarti tak ada budaya makan-makan. Beberapa keluarga mengadakan open house dikediaman mereka. Hal ini tentu dimanfaatkan oleh banyak orang sebagai ajang silaturahmi dan tentunya mencicipi makanan dengan cita rasa khas Indonesia.

Begitulah suasana berlebaran kami di kota Sendai, Jepang. Tak ada petasan, tak ada hewan kurban. Namun, tak akan pernah mengurangi rasa kesyukuran. [Angga]

Related posts

BBQ 2015.11.15: Islam itu Rahmat

KMI Sendai

Kurban : Bukti Cinta Pada Ilahi

KMI Sendai

BBQ 2014.12.14: Ilmu Syar’i yang Bermanfaat

KMI Sendai

Leave a Comment

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.