Ilmu

Ilmu, Penting(?)

Kawan-kawan, pernahkah kita berpikir tentang pendidikan yang selama ini sudah kita tempuh? Dalam pendidikan formal, khususnya di Indonesia, kita mengenal jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA, hingga universitas. Sebagian dari kita mungkin sedang menempuh salah satu jenjang pendidikan tersebut. Sebagian lagi bahkan mungkin sudah menyelesaikan jenjang pendidikan hingga mendapat gelar yang bermacam-macam entah doktor, profesor, dan sebagainya. Namun, dari semua pendidikan yang kita tempuh selama ini ilmu apa saja yang sudah kita dapat?

Sebagai seorang muslim, kita mengetahui bahwa menuntut ilmu merupakan suatu keharusan. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” [HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dll]. Tidak hanya itu, menuntut ilmu bahkan dapat dikatakan sebagai jihad bagi seorang muslim seperti difirmankan dalam surat At-Taubah ayat 122:

وَما كانَ المُؤمِنونَ لِيَنفِروا كافَّةً ۚ فَلَولا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرقَةٍ مِنهُم طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهوا فِى الدّينِ وَلِيُنذِروا قَومَهُم إِذا رَجَعوا إِلَيهِم لَعَلَّهُم يَحذَرونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Hal ini juga diperkuat dengan sabda Rasulullah, “Barang siapa keluar dalam rangka thalabul ‘ilmi (mencari ilmu), maka dia berada dalam jalan Allah (fii sabilillah) hingga kembali.” [HR. Tirmizi]

Ilmu Agama?

Sebagai umat Islam, mempelajari ilmu agama sangatlah penting. Coba saja bayangkan seorang muslim yang tidak mengerti sama sekali tentang agamanya. Tentunya orang seperti itu tidak dapat menjalankan agamanya.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).”

Dari hadits ini maka kita dapat memahami bahwa Allah Ta’ala akan merahmati umat muslim yang mempelajari agamanya.

Penulis mencoba berkaca kembali pada diri sendiri. Ketika kecil disekolahkan di sekolah Islam hingga SMP. Ilmu agama pun menjadi salah satu pelajaran yang wajib dipelajari. Sayang, ketika itu penulis lebih memilih fokus pada pelajaran lain seperti matematika, IPA, IPS, dan sebagainya karena merupakan pelajaran yang diujikan untuk kelulusan. Padahal, ilmu agama sangat penting untuk menjadi petunjuk bagi kehidupan.

Pentingnya ilmu agama benar-benar dirasakan terutama saat sedang menuntut ilmu di Jepang. Berbeda dengan di Indonesia, muslim merupakan minoritas di sini sehingga untuk melaksanakan ajaran Islam tidaklah seleluasa di Indonesia. Sebagai contohnya untuk urusan makanan, di Jepang kita harus senantiasa memeriksa bahan bakunya karena bisa ada bahan-bahan yang haram. Untuk urusan ibadah shalat 5 waktu, tantangan terasa ketika waktu shalat sudah tiba dan kita tidak menemukan tempat untuk shalat.

Lantas, apa hubungannya dengan masalah ilmu?

Jujur saja, seringkali ketika kita menjalankan rutinitas sehari-hari di Jepang, muncul pertanyaan-pertanyaan di kepala. Apakah sebenarnya menurut syariat ini halal? Atau ini haram? Apakah dalam situasi begini dan begitu shalat boleh dijamak? Bolehkah melakukan ini dan itu menurut ajaran islam?

Masya Allah, ternyata masih dangkal sekali pemahaman kita. Sering terpikir pula serta muncul kekhawatiran jika perilaku kita tidak mencerminkan pribadi muslim yang baik karena kurangnya pemahaman. Padahal ada hadits yang mengatakan:

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” [HR. Bukhari]

Hadits tersebut menunjukkan bahwa sebagai seorang muslim kita harus dapat menyampaikan hal-hal terkait agama yang kita anut walaupun sedikit. Kita adalah agen dakwah di negeri yang mayoritas penduduknya kaum kafir. Lantas bila kita tidak berilmu bagaimana kita akan menyampaikan Islam ataupun berperilaku sesuai tuntunan ajaran Islam?

Oleh karena itu, ilmu agama bukankah ilmu yang main-main. Ia adalah pegangan hidup umat Islam yang seyogianya dipahami sebaik-baiknya. Dengan mempelajarinya semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari kebodohan dan fitnah.

Adapun tulisan ini dibuat sekadar sebagai renungan untuk penulis dan semoga dapat menjadi pengingat serta pelajaran bagi kita semua. Sebagai penutup, ada dua untai doa yang sangat bagus untuk kita baca, pahami, dan hafalkan:

اَللَّهُمَّ إنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima.” [HR. Ahmad]

اَللَّهُمَّ إنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan.” [HR. Muslim]

Semoga kita senantiasa menjadi pribadi muslim yang berilmu.

Penulis: Mardhana Ksatrya

Bookmark the permalink.

One Comment

  1. Sangat mengispirasi! Bwt menambah bekal yang ga kalah manfaatnya utk tinggal di L/N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)