Kriteria Calon Pasangan

“Lelaki yang terencana tahu persis wanita seperti apa yang dia perlukan, karenanya tak perlu pacaran dengan alasan perkenalan” -Ust. Felix Siauw-

Awalnya adalah Kriteria

Seperti disebutkan dalam kutipan di atas, juga dibahas dalam buku-buku yang memaparkan tentang pernikahan dalam Islam, menyiapkan kriteria calon pasangan adalah termasuk dalam persiapan yang mula-mula. Idealnya, setiap pribadi muslim terutama yang telah baligh dan siap menikah, sudah memiliki visi tentang hidupnya, tentang jalan apa yang akan ia pilih dalam peran menjadi khalifah-Nya. Jadi ilmuwan misalnya, atau pebisnis, atau da’i di pedalaman, atau apa saja yang berada dalam ridha-Nya.

Setelah visi tentang diri mantap terencana, yang ditetapkan selanjutnya adalah visi pernikahan, menentukan tujuan apa yang ingin dicapai bersama pasangan. Dalam pemenuhan tujuan inilah, penetapan kriteria menjadi penting. Analoginya seperti akan membeli komputer misalnya, mengetahui dengan jelas spesifikasi yang dibutuhkan akan membantu kita untuk menghemat waktu dalam memilih produk, juga mencegah kita dari jebakan promosi produk yang tidak diperlukan. Dalam hal mencari calon pasangan, memulainya dengan fokus pada kriteria yang dibutuhkan juga diharapkan akan membantu untuk lebih menjaga kebersihan hati; dibandingkan dengan memulai dengan fokus pada satu sosok yang belum tentu menjadi jodohnya nanti.Bagaimana Menetapkannya?

Kriteria mutlak bagi seorang calon pasangan seorang muslim adalah seiman. Sekufu dalam hal lain, semisal dalam latar belakang keluarga atau pendidikan, mungkin lebih baik, tapi ke-sekufu-an yang paling hakiki selayaknya adalah hanya dalam iman. Ketika Ali bin Abi Thalib ditanya tentang kesekufuan, beliau menjawab, “semua manusia kufu satu dengan yang lainnya, baik Arab dengan Ajam, Quraisy dengan Hasyim asal mereka sama-sama Islam dan beriman.”

Pada dasarnya, tidak ada batasan tertentu dalam penetapan kriteria, selama dalam kebaikan. Tapi ‘meminimalkannya’ adalah lebih baik. Meminimalkan di sini adalah dalam artian mengutamakan yang paling fundamental saja. Mengapa lebih baik diminimalkan? Karena khawatir kalau dibuat ‘tanpa batas’, adalah nafsu yang jadi lebih dominan berperan, lalu akhirnya jadi banyak mempermasalahkan yang ‘kurang penting’ ketika yang datang tidak sesuai harapan.

Meminimalkan kriteria cenderung membuat kita lebih mudah bersyukur ketika menemukan hal yang disenangi dari pasangan nanti, juga bersabar atas kekurangannya. Pun sebaliknya, membanyakkan kriteria bisa membuat kita lebih mudah kecewa ketika menemukan satu kekurangan, meski sisi lainnya banyak kebaikan.

Lalu kriteria yang baik itu seperti apa? Isi kriterianya tentu sangat relatif untuk masing-masing orang. Saran saya pribadi ketika menyusunnya adalah dengan mempertimbangkan 2 hal; menjaganya tetap pada hal2 yang paling penting, dan bersiap ‘nggak ngeyel’ ketika yang datang sudah memenuhi yang-paling-penting tadi, walaupun mungkin ada hal lain yang kurang kita sukai di sisi lainnya, karena tidak akan ada orang yang semua hal tentang dirinya kita sukai.

Kalau ada yang memenuhi kriteria yang-paling-penting tadi dan ternyata masih saja ngeyel? Kemungkinannya ada 2; mungkin kriterianya harus diperbaiki, dan/atau diri kita belum siap dan harus diperbaiki lagi.

Nikahkanlah putrimu dengan seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah. Sebab jika ia mencintai putrimu, ia akan memuliakannya, namun jika ia tidak senang, ia tidak akan mendzalimi.
[Imam Hasan al Bashri]

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Putri Setiani

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)