Mental Sejati Pemburu Ilmu

ilmuSalah satu kualitas pemuda muslim yang sukses adalah mencintai ilmu. Tentu saja, untuk sampai pada keadaan “jatuh cinta”, sudah pula ia memiliki mental sejati pemburu ilmu. Imam Syafi’i rahimahullah memberikan 6 nasihat kepada para penuntut ilmu, yang tanpanya ilmu tidak akan dapat diperoleh: 1) Kecerdasan, 2) Semangat, 3) Kesungguhan, 4) Kesediaan mengeluarkan uang, 5) Bersahabat dengan alim ulama atau para guru, dan 6) Waktu yang lama.

Inilah mental sejati yang seharusnya dimiliki oleh para pemburu ilmu. Ia sudah selayaknya rela berpeluh, berpayah-payah penuh ghirah (semangat) dan kesungguhan. Contoh saja di musim dingin di Sendai saat ini, mana yang lebih hangat dan aman, berdiam di rumah atau berangkat menuju kampus/sekolah dalam dingin yang menusuk tulang? Tentu berdiam di rumah lebih nyaman, tetapi kita perlu rela mengorbankan kenyamanan tersebut demi ilmu yang ingin kita peroleh.

Kesediaan mengeluarkan uang di sini bukanlah harus memiliki banyak uang untuk mendapatkan ilmu, tetapi kesediaan hati untuk menyisihkan sebagian uang yang tidak banyak itu untuk meraih ilmu. Bagi pemburu ilmu sejati, lapar itu lebih baik baginya sehingga ia bisa membeli buku. Stylish bukanlah keutamaan, tidak penting sepatu dan tas butut, asalkan bisa memiliki buku teks atau menghadiri kajian ilmu yang mampu memuaskan dahaganya. Tidak sedikit kawan-kawan yang menjadi cemerlang karena akrab dengan rasa lapar.

Bersahabat dengan para guru atau orang yang memiliki pengetahuan yang mumpuni akan suatu ilmu bukanlah untuk mendapatkan nilai yang bagus atau sekedar prestise semu karena memiliki ‘strata’ pergaulan lebih tinggi dengan para peneliti unggul atau profesor, melainkan untuk meraup ilmu sebanyak dan seoptimal mungkin.

Menuntut ilmu juga membutuhkan waktu yang lama. Sebagai contoh, dalam jenjang pascasarjana, untuk menjadi ahli pada salah satu objek studi paling tidak kita membutuhkan waktu “berinteraksi” dengan objek tersebut setiap hari selama 8 jam dan dilakukan terus-menerus selama 5 tahun. Begitulah mental sejati pemburu ilmu, ia bukanlah manusia manja dan cepat menyerah.

Kesuksesan dalam memburu ilmu hanya bisa diraih dengan kesabaran. Adalah kekeliruan jika kita kemudian berputus asa dari rahmat Allah dalam proses perburuan tersebut (lihat Q.S. 7:56, dan Q.S. 94:5-5).

Terbayangkah kita bagaimana upaya Imam Bukhari dalam perjalanan mengumpulkan hadist-hadist kualitas wahid? Paling tidak beliau harus menempuh jarak ~6.000 km dari Bukhara, menuju Khurasan, Bahgdad, Ahvaz, Syam (sekarang Suriah), kemudian menuju Damaskus, Mesir, dan Al-Madinah. Beliau bertemu dengan ribuan syaikh dan berhasil mengumpulkan hampir 600.000 hadits. Terbayangkah berapa jumlah uang yang harus beliau keluarkan? Berapa lama waktu yang harus diluangkan?

Gambar 1. Rute perjalanan Imam Bukhari mencari ilmu. (Sumber: Atlas on The Prophet's Biography, Places, Nations, Landmarks by Darussalam Publisher, Riyadh). Rute digambar ulang oleh Fatwa Ramdani dengan penyederhanaan.

Rute perjalanan Imam Bukhari mencari ilmu.
Sumber: Atlas on The Prophet’s Biography, Places, Nations, Landmarks by Darussalam Publisher, Riyadh.

Namun, Imam Bukhari juga tidak pernah membayangkan kitabnya akan menjadi lifetime best seller, apalagi membayangkan berapa besar keuntungan materi yang akan diperoleh dari upayanya memburu ilmu hadits. Beliau melakukannya dengan niat yang bersih semata-mata hanya karena Allah Ta’ala. Inilah mental sejati yang utama, bagi para pemburu ilmu untuk terus membersihkan dan meluruskan niatnya hanya karena Allah.

Inilah salah satu contoh terbaik dalam sejarah Islam, bagaimana seorang pemburu ilmu rela berjalan jauh meninggalkan tanah kelahirannya, berpayah-payah demi menemukan ilmu yang sangat utama. Bukan pendidikan ala barat yang lebih menekankan ‘fun‘ atau ‘joyful learning‘. Ada sebuah buku dengan judul menarik, “Do It Well, Make It Fun: The Key to Success in Life, Death, and Almost Everything in Between” Bagi mereka, kebahagiaan itu hanya di dunia, sementara bagi muslim ada kehidupan abadi di akhirat.

Pada akhirnya, berbagai penghargaan, beasiswa bergengsi, atau keberhasilan publikasi di jurnal ternama, hanyalah bunga yang merupakan penghias. Akarnya haruslah niat yang bersih dan lurus karena Allah semata. Batang yang kokoh adalah semangat dan kesungguhan, sedangkan ranting-rantingnya adalah kesediaan hati untuk menyisihkan uang yang tak seberapa banyak itu. Buahnya dapat dipetik di dunia dan akhirat.

Mari kita berusaha, ber-mujahadah, agar dapat memiliki mental sejati pemburu ilmu sejati.

Penulis: Fatwa Ramdani

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)