Wahai Pemuda nan Himmah, Engkau Dirindukan

Niatku: Taat kepada perintah Allah, “Dan hendaklah kalian berjihad di jalan-Nya” [Q.S. Al-Maaidah: 35]

Semangatku: Berupaya dalam kesungguhan dalam melayani agamaku, agama Allah

Tekadku: Aku akan tekuk lututkan orang-orang kafir dengan tentaraku, tentara Allah

Pikiranku: Terpusat pada pembebasan, atas kemenangan dan kejayaan, dengan kelembutan Allah

Jihadku: Dengan jiwa dan harta dan apa yang tersisa di dunia setelah ketaatan pada perintah Allah

Kerinduanku: Perang dan perang, ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah

Harapanku: pertolongan dan kemenangan dari Allah, dan ketinggian Negara ini atas musuh-musuh Allah

Syair yang mewakili suatu himmah atau kemauan kuat untuk menggapai yang dicitakan, terpatri dalam jiwa seorang pemuda dengan seizin Allah Ta’ala. Siapa yang tidak bergetar hatinya ketika mendengar sosok pemuda yang semenjak usia belia 6 tahun, sudah begitu merindukan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam. Merindu untuk menyaksikan kabar gembira yang Allah Turunkan kepada ummatnya melalui lisan Rasulullah bahwa salah satu kota peradaban besar manusia, Konstantinopel yang bergelar “The Gates of The East and West” atau “The City with Perfect Defense (kini Istanbul)” akan dibebaskan oleh kaum muslimin. Merindu untuk menjadi ahlu-bisyarah seorang pemimpin terbaik dari yang terbaik, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam,

Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukannya.
[HR. Ahmad bin Hanbal Al Musnad 4/335]

Pemuda yang semenjak baligh tidak pernah absen untuk shalat berjama’ah, shalat malam (qiyamullail), dan shalat rawatib ini senantiasa bertaqarrub kepada Yang Maha Memenangkan dan Maha Menolong, demi mendapat ridha Allah dalam kepemimpinannya. Usianya 22 tahun kala memimpin pasukan pembebasan Konstantinopel. Dialah Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II.

Selisih periode kepemimpinan dari Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam hingga Sultan Utsmani Mehmed II lebih dari 800 tahun lamanya. Namun, keistiqamahan untuk menegakkan agama Allah tidaklah padam. Kunci keberhasilan terletak pada keimanan, ketakwaan sebagai modal dan ilmu sebagai bekal. Perhatian tentang pentingnya pendidikan agama dan disiplin ilmu begitu besar dan selaras sehingga dengan izin Allah dapat melahirkan bangsa yang kuat.

Patutnya kita sebagai sesama muslim yang juga sedari awal bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq disembah selain Allah dan Muhammad utusan Allah, meyakini sepenuhnya bahwa janji Allah itu pasti, baik sebagai berita gembira bagi muslimin maupun peringatan sebelum Hari Kebangkitan saat semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan.

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[Q.S. Saba’: 28]

Oleh karenanya, kita berusaha menjalani kehidupan di dunia ini dengan istiqamah dan penuh pengharapan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orientasi kehidupan akhirat nan kekal bersama Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam, para shahabat radhiyallahu’anhum, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para syuhada di surga, sungguh indah bukan? Inilah cita-cita yang mutlak dimiliki oleh setiap muslim.

Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam pernah menasihati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun), yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau Shallallaahu’alaihi wa Sallam memegang pundaknya lalu bersabda:

وَما كانَ المُؤمِنونَ لِيَنفِروا كافَّةً ۚ فَلَولا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرقَةٍ مِنهُم طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهوا فِى الدّينِ وَلِيُنذِروا قَومَهُم إِذا كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.”
[HR. Bukhari no. 6416]

Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al-ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau Shallallaahu’alaihi wa Sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” [Fathul Bariy, 18/224]

Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuannya adalah akhirat. Hadits ini mengingatkan kita dengan kematian yang pasti terjadi sehingga senantiasa berupaya mempersiapkan bekal dengan amal sholeh untuk negeri akhirat yang kekal.

Masa muda adalah suatu kenikmatan dari Allah yang dipenuhi kekuatan dan pemikiran, masa sesudah fase lemah (anak-anak) dan sebelum kembali fase lemah (masa tua). Masa enerjik untuk teguh dalam mencoba, mendobrak, dan mempelajari hal baru. Bahkan, inovasi-inovasi pun acap kali muncul. Masa ketika kekuatan untuk bergerak itu tinggi, tentunya diiringi oleh cita-cita atau himmah – pengharapan ridha Allah ‘Azza wa Jalla.

Kekuatan untuk bergerak tak serta merta muncul, tapi dimulai dari keinginan untuk memulai. Hidayah hanya datang dari sisi Allah Yang Maha Kuasa, namun kita harus berusaha untuk memunculkan niat tersebut. Sebelum meminta izin masuk, kita juga harus mengetuk pintu dulu, bukan? Pemuda adalah yang suka berkumpul, maka mari manfaatkan untuk berdiskusi dalam majelis ilmu. Memilih teman pergaulan atau mendekatkan diri kepada sesama muslim sholih. Setidaknya akan melirik kanan kiri dan tersentil sehingga ikut mengikuti apabila belum melakukan suatu hal.

Di antara sunnatullah adalah, setiap hamba jika dia istiqomah dan terus menerus dalam keistiqomahannya, niscaya Allah akan menolongnya untuk menyempurnakan keistiqomahan tersebut, serta Dia akan mewafatkan hamba tersebut sesuai dengan kebiasaannya dan usahanya di dalam kebaikan.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam bersabda:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara:
1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
5. Hidupmu sebelum datang kematianmu.
[HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim]

Marilah manfaatkan masa muda, sebelum datang hari tua. Hari ini di dunia adalah hari beramal, bukan hari perhitungan (hisab). Besok di akhirat adalah hari perhitungan, bukan hari beramal. Cita-cita untuk bisa bertemu Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam, para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, syuhada, serta berkumpul kembali bersama keluarga diiringi dengan keistiqamahan. Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘aladdinika, Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkan hati (iman)ku atas agamaMu (Islam).

Tulisan ini juga merupakan bentuk pengingat bagi kita terutama penulis sendiri yang sering lupa dan lalai terhadap waktu. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita ke jalan yang lurus. Aamiin.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shohbihi ajma’iin.

Penulis: Dewi T. Setyaningrum

Bookmark the permalink.

2 Comments

  1. This has made my day. I wish all pogitnss were this good.

  2. blah blah……if I was Hitchens, I would be carrying around a boom box. And whenever a dumb theist asks a dumb question, I RICK ROLL THEM, in real life! That is all they deserve really. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)