Pergerakan Islam dan “Creative Minority”

Untuk rekan-rekan KMI-S yang insyaAllah mendambakan kejayaan dan kemajuan Islam, mendambakan semakin mendominasinya kebaikan /al-Haq diatas kebathilan, dalam tulisan ini akan diberikan beberapa kutipan dari buku Dr. Umar Chapra yang bisa dikunjungi pada laman Muslim Civilization: Causes of Decline and the Need for Reform. Kita coba ambil juga pelajaran yang sesuai dengan kondisi kita saat ini.

Di bab terakhir berjudul “The Need for Reform” beliau memberikan subjudul “The Role of Islamic Movements”. Singkatnya dalam poin-poin berikut ini:

Their first and foremost priority needs be to educate people about the high moral standards that Islam expects from its followers.

This is the stepping-stone for the Islamization of their societies, without this, the light that they wish to project to their societies will not have the lustre that is needed. (lustre = kilau)

The Islamic state they wish to establish is not possible without the minimum level of moral uplift that Islam envisages.

If they can succeed in changing the character of a sufficient minority, the rest will tend to follow.

– The Qur`an states: “How often has a small group overcome, by the will of God, a large one” / (wa kam min fi-atin qoliilatin gholabat fi-atan katsiratan bi-idznillah) [QS Al Baqarah ayat 249]

– Toynbee has also asserted that: “All growth originates with creative individuals or small minorities of individuals, and their tasks is… the conversion of the society to this new way of life.” (dari buku Toynbee, Arnold J. (1957), A Study of History, abridgement by D.C. Somervell (London: Oxford Univ. Press).

Once the creative minority has shown its worth, the rest of the people will find it worthwile to follow them.

The immediate task of the Islamic movements is, therefore, to establish their worthiness, and to gain respect and regard for themselves among not only their own masses but also around the world.

Sedikit nukilan ini mudah-mudahan bisa menginspirasi kita sebagai pribadi untuk berkiprah membangun dan terlibat dalam “creative minority”. Hal di atas secara umum bisa dilihat dari dua sisi:

– Kabar gembira bahwa perubahan tidak berarti kita harus mengubah semua orang menjadi apa yang kita harapkan. Hal ini yang kadang membuat frustasi dan akhirnya mundur teratur dari cita-cita perubahan.

– Kabar yang berat (untuk diamalkan)… bahwa perubahan itu harus dimulai dari diri kita, kemudian berusaha untuk membangun `creative minority` yang istiqamah menjalankan dan menanamkan nilai-nilai Islam pada diri kita.

Dalam literatur Islam, generasi “creative minority” ini terkadang diisyaratkan atau langsung disebutkan dalam berbagai nash di antaranya sebgai generasi yang akan didatangkan oleh Allah untuk membela Islam di QS Al-Maidah ayat 54 (sebagian da’i menyebutnya “generasi 554” merujuk ke nomor ayat ini), atau sebagai “generasi pengganti” seperti disebut di ayat terakhir Surat Muhammad.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. [QS Al-Maidah: 54]

Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. [QS Muhammad: 38]

Dalam hadits, generasi ini dikenal dengan istilah “al-ghurabaa” (orang-orang yang terasing):

:عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبيصلى الله عليه وسلم أنه قال

. بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء

(صحيح مسلم الإيمان (145),سنن ابن ماجه الفتن (3986),مسند أحمد بن حنبل (2/389

“Sesungguhnya Islam berawal dari keterasingan dan akan kembali pada keterasingan sebagaimana awalnya, maka bergembiralah bagi orang-orang yg terasing.” [HR Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]

Hadits ini dipopulerkan juga dalam sebuah syair legendaris dalam berbagai pergerakan Islam, yaitu syair Ghurobaa, di antaranya yang dibawakan oleh Syaikh Al-Ghamidy berikut ini:

Semoga Allah memberikan anugerah-Nya kepada kita berupa cita-cita/’azzam untuk berkontribusi membela Islam dengan semua kenikmatan dan kemampuan yang Allah karuniakan pada kita, dan istiqamah menjalani jalan-jalan tersebut.

Wassalaamu’alaikum…
Muhibbukum,
Abu Ahmad

Catatan: beberapa bagian disunting oleh Abu Royyan.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)