Perspektif Jarum

Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa memarkir sebuah baju. Bukan karena usianya yang sudah usang, sebab menurut ukuran saya dia termasuk salah satu baju saya yang tergolong baru. Bukan juga karena sobek atau rusak. Ia masih bagus luar-dalam. Juga bukan karena ketinggalan mode. Ia masih pantas sekali, baik warna maupun modelnya. Hal kecil yang menyebabkan itu semua, yaitu ketika beberapa buah kancingnya lepas. Apa arti sebuah baju tanpa kancing bajunya alias benik? Tentu jadi bahan omongan orang, kalau tidak mau wirang (malu). Sebab pakai baju, tapi bledeh (terbuka dan kelihatan dadanya, karena tidak ada kancingnya).

Maka, acara saya selanjutnya adalah mencari cara untuk memasang kembali kancing-kancing yang terlepas itu. Teorinya mudah, tinggal cari benang, masukkan ke jarum dan menjahitnya kembali kancing – kancing yang lepas itu ke tempatnya. Itu teori. Masalahnya di rumah saya tidak ada jarum dan benang yang saya butuhkan. Oleh karenanya, target berikutnya adalah berburu benang dan jarum.

Tanpa sengaja saya berhasil menemukan seperangkat jarum dan benangnya di laci meja kantor saya. Aneh, kok ada di situ? Ingat – ingat, asesoris itu saya ambil ketika nginap di salah satu hotel bintang di bilangan Palembang, Sumatera Selatan. Iseng memang, tapi ternyata berguna. Setidaknya untuk saat ini, untuk memasang kembali benik baju saya. Selanjutnya saya persiapkan diri untuk segera memasangnya. Saya ambil jarum dan memilih benang yang sesuai dengan warna baju saya. Ada beberapa benang yang tersedia di situ, dan benang hitam menjadi pilihan utama.Rasanya sudah lama sekali tidak pernah melakukan itu. Kenangan bagaimana cara memasukkan benang ke dalam jarum segera melayang. Rasanya kala bocah, ketika SD dulu, Ibu sering minta tolong memasukkan benang ke dalam jarum karena lubang jarumnya yang kecil. Maka, kegiatan kecil ini begitu dahsyatnya menggoda pikiran saya untuk berkelana. Biasanya sebelum memasukkan benang ke lubang jarum harus dibuat benangnya sedemikian rupa sehingga ujungnya runcing. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan halangan sehingga benang bisa mulus masuk melewati lubang. Jika hal ini masih ada hambatan, banyak benang yang terserabut, biasanya ujung benang dibasahi. Praktisnya dengan cara dijilat. Tambahan cairan ini berguna untuk menyatukan benang dan menambah bobot benang sehingga tidak melayang ketika didorong menuju lubang. Dua cara ini pasti ampuh dan dijamin berhasil. Dengan catatan, kualitas mata masih oke. Sebab kalau ketajaman mata sudah menurun, lubang jarum akan tampak kabur sehingga usaha bisa gagal. Alhamdulillah, semua ini bisa saya lewati dengan sukses. Mata saya masih tajam untuk melihat lubang jarum yang kecil itu. Dan benang berhasil saya seberangkan dan kancing-kancing itu dalam waktu singkat berhasil kembali ke tempatnya semula.

Namun ada satu kenangan lagi yang mengemuka. Tak lain, adalah tatkala awal-awal mengikuti kajian Al-quran semasa SMA dulu. Ustadz Parjono, spesialis tafsir di masjid dekat tempat indekost saya, menyajikan ayat yang mengenang sampai saat ini. Dia juga bercerita masalah jarum ini yaitu perumpamaan orang-orang kafir yang akan bisa masuk surga seperti onta yang masuk lubang jarum. Hal ini diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 40, Allah berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga onta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa/kejahatan.”

Memasukkan benang ke lubang jarum saja susah, apalagi memasukkan onta ke dalam lubang jarum. Normalnya memasukkan benang ke lubang jarum perlu usaha ekstra. Mata yang oke punya dan penuh ketelitian. Maka memasukkan onta ke lubang jarum itu tangeh-lamun. Hal yang tidak mungkin. Impossible. Kemudian dia menambahkan, “Anu mas, jarumnya dibuat yang gede, sehingga lubangnya besar dan onta bisa masuk! Hehehe… Itu namanya ngakali dalil. Kalau lubang segede itu, pastilah bukan jarum namanya,” dia menukas. Dan kita pun cekikikan melihat mimik dan polahnya. Huh, kenangan yang indah.

Ayat di atas juga sebagai bantahan terhadap orang yang masih punya kefahaman, bahwa yang penting hidup di dunia itu berbuat baik ke sesama. Semua agama mengajarkan kebaikan. Atau orang – orang yang masih mempunyai pertanyaan, kenapa orang-orang yang tidak beriman banyak berbuat baik, sehingga tambah kaya dan tambah baik dalam kehidupannya? Para konglomerat misalnya, banyak menyumbang, baik dalam bentuk charity atau CSR (Corporate Social Responsibility). Kegiatan itu tidak mengurangi hartanya, malah menambah ketenaran dan kekayaannya. Kebaikan sebanyak apapun dia, kalau tidak disertai dengan keimanan (baca islam) bagi si empunya, maka tidak bisa melewati pintu langit. Ia hanya bermanfaat di kolong langit ini. Hal ini ditegaskan lagi dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim (8/135), Imam Ahmad (3/125) dan Imam Tamam di dalam Fawa’idz (879) pada bagian yang pertama.

Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menganiaya seorang mukmin atas kebaikannya, Dia akan membalasnya (dalam riwayat lain: memberi pahala berupa rizki di dunia) dan akan membalasnya pula kelak di akhirat. Sedangkan orang kafir, semua kebaikannya akan diberikan berupa rizki di dunia saja, sehingga di akhirat kelak ia tidak memiliki kebaikan sedikit pun yang pantas dibalas.”

Tak perlu heran dengan fenomena di atas, kaidah lubang jarum menjadi jawaban atas keraguan itu semua. Yang perlu dicamkan buat kita semua adalah teruslah fastabiqul khairat. Kapan saja dan di mana saja, dengan keterbatasan yang ada. Lakukan yang terbaik. Sebab setiap kebaikan yang dilakukan oleh mukmin selalu berbalas, baik di dunia ini maupun nanti di akhirat sana. Bahkan balasan itu berlipat, minimal 10 kali.

Allah berfirman; “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al-An’am: 160)

Kembali ke masalah jarum ini, ada istilah yang cukup ngetrend di kalangan ibu-ibu rumah tangga. Yaitu sebutan suami jarum super. Bukan suami yang perokok dengan merek jarum super. Bukan juga suami super “jarum”nya. Akan tetapi maksudnya suami jarang di rumah suka pergi. Merujuk para ibu yang punya suami pebisnis atau pejabat teras yang sering pergi ngurusi pekerjaannya. Lupa dengan tanggungan yang ada di rumah. Jangan tersinggung ya, semoga Allah paring barokah atas semuanya.

Kontributor: Ibrahim Qalbun Salim

Bookmark the permalink.

One Comment

  1. Enteng bacanya, dalem kesannya. Kena banget…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)