Buljum 2017.10.6: Seputar Tentang Halal-Haramnya Makanan

Sebagai sebuah negara dimana rakyatnya mayoritas nonmuslim, hidup di Jepang tentunya rasanya sangat berbeda dengan hidup di Indonesia. Salah satunya merupakan makanan yang tersedia di sekitar kita, dimana daging babi tidak jarang digunakan sebagai lauk, makanan-makanan yang mengandung daging sangat jarang bersertifikasi halal, dan bahan-bahan khamr terkadang juga digunakan sebagai bumbu masak, sehingga kita sepatutnya selalu waspada dalam memilih makanan, terutamanya di negeri minoritas muslim seperti Jepang ini. Dalam kesempatan ini, penulis ingin membahas tentang seputar halal-haramnya makanan, terutama yang sering kita hadapi di dalam keseharian di luar Indonesia, mudah-mudahan bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk memakan makanan dari rizki Allah SWT yang baik-baik.

Lanjut baca

Buljum 2017.9.21: Menuntut Ilmu

 

“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”. Ungkapan ini sering kita dengar di kalangan masyarakat, terutama di lingkungan sekolah. Meskipun ungkapan ini bukanlah hadits seperti banyak dianggap orang, ungkapan ini tetap mengandung kebenaran. Menuntut ilmu memang hal yang sangat penting, dan seseorang tak perlu ragu untuk mengejar ilmu tersebut, dimanapun ia berada.

Lanjut baca

Buljum 2016.5.20: Allah Tidak Mempersulit Hamba-Nya

Ungkapan “Allahumma yassir wa laa tu’assir” cukup populer di telinga kita sebagai “doa” ketika menghadapi kesulitan. Apakah doa ini dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ?

Dari salah satu hadits shahih terkait menghadapi kesulitan, ternyata bukan doa itu yang diajarkan.

عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا”

“Dari Anas radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ (ketika dalam kesulitan) berkata, ‘Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan.’ Terjemahnya, ‘Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan yang sulit bisa Engkau jadikan mudah apabila Engkau menghendakinya menjadi mudah.’” [As-Silsilah Ash-Shahihah, Hadits no. 2886]

Lanjut baca

Buljum 2016.5.13: Belajar Rendah Hati

Tawadhu’ atau rendah hati termasuk salah satu sifat terpuji yang harus dimilki oleh seorang muslim. Tawadhu’ secara bahasa dapat dimaknai dengan ‘merendahkan hati’. Artinya sengaja memposisikan diri lebih rendah dari posisi sebenarnya. Pada dasarnya tawadhu’ hanya ditujukan kepada Allah Yang Maha Agung. Yakni merasa lemah dan tidak berdaya dibanding dengan kekuasaan Allah ﷻ. Apalah kuasa manusia sampai berani mengharap surganya Allah? Apakah Allah rela memberikan surga kepada seorang hamba, jika hamba tersebut merasa tidak memerlukan surga? Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan bahwa tujuan tawadhu’ sebenarnya adalah mengharapkan surga (ridha-Nya) Allah dan menghindarkan diri dari api neraka. Lanjut baca

Buljum 2016.5.6: Tanggung Jawab Membangun Peradaban

Pendidikan merupakan faktor penting dan berpengaruh besar dalam membangun sebuah peradaban. Melalui pendidikan yang berkualitas, sebuah bangsa yang semula tertinggal dapat menjadi sebuah bangsa yang maju. Sebaliknya, sebuah bangsa yang kualitas pendidikannya rendah, maka niscaya bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang tertinggal. Membangun peradaban suatu bangsa berarti membangun anak-anak bangsa. Sebagai generasi penerus dan kunci masa depan suatu bangsa, proses pendidikan anak dan generasi muda perlu menjadi perhatian. Lanjut baca

Buljum 2016.2.19: Mari Berkumpul di Sana

Bagaimana perasaan kita jika ada teman yang mengundang kita untuk berkumpul bersama menikmati berbagai hidangan lezat yang telah disiapkannya? Bukankah senyum paling merekah yang akan kita berikan pada teman kita itu beserta jawaban yang mantap, ”OK, ikut dong!” Jarang sepertinya ada yang merasa kesal atau jengkel ketika diundang untuk makan. Sekarang bagaimana jika teman kita mengundang kita berkumpul bukan untuk makan bersama, tapi untuk mendengarkan kajian ilmu syar’i yang disampaikan oleh seorang ustadz? Apakah kita akan merasa senang juga? Apakah senyuman merekah itu akan terkembang juga di wajah kita? Semoga kita bisa juga menjawab dengan mantap, “OK, insya Allah saya ikut!” Tapi, kasus yang kedua ini mungkin lebih beragam jawabannya dibandingkan dengan kasus yang pertama. Mungkin yang lebih sering kita rasakan adalah adanya perasaan malas, tidak peduli atau mungkin kesal karena saat itu justru kita sedang ingin jalan-jalan atau refreshing setelah penat di sekolah atau di tempat kerja.

Lanjut baca

Buljum 2016.2.12: Membina Diri Sendiri di Manapun Berada

Ada sebuah fragmen menarik dalam kisah kehidupan Rasulullah ﷺ. Hal ini terjadi setelah umat Islam dengan gilang gemilang meluluhlantakkan benteng Yahudi Khaibar yang merupakan ancaman bagi umat Islam saat itu dalam keterlibatan mereka pada pendanaan perang Khandaq. Ketika itu sepupu Rasulullah ﷺ—Ja’far bin Abi Thalib—bersama sekelompok sahabat kembali dari hijrahnya—ke negeri Habasyah—ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin di Madinah. Ketika itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku bingung apa yang membuat senang diriku, apakah karena menangnya kita di Khaibar ataukah kembalinya kaum muslimin dari Habasyah.”

Lanjut baca

Buljum 2016.2.5: Memaknai Waktu

وَالعَصرِ إِنَّ الإِنسانَ لَفي خُسرٍ إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” [QS. Al-‘Ashr: 1-3]

Lanjut baca

Buljum 2016.1.15: Menghindarkan Kerusakan dari Muka Bumi

Pada pertengan tahun 2015, bencana kebakaran hutan yang hebat menimpa Indonesia dan menyebabkan berbagai kerugian baik materi maupun non-materi. Dunia mengecam bencana antropogenik (pencemaran yang timbul karena adanya campur tangan manusia) ini yang menewaskan setidaknya 19 jiwa dan menyebabkan lebih dari 500.000 jiwa terkena penyakit ISPA. Selain itu, kebakaran hutan ini menghasilkan konsentrasi gas CO (karbon monoksida) yang sangat tinggi, yaitu sebesar 1.300 ppb (part per billion), sedangkan pada kondisi normal konsentrasi rata-rata CO di Indonesia adalah sebesar 100 ppb. Lanjut baca