Buljum 2015.12.25: Berislam Secara Kafah

Mungkin kita sering memerhatikan segelintir dari kaum muslimin. Ada di antara mereka yang ketika diingatkan untuk menjalankan syariat tertentu seperti mendirikan shalat atau mengenakan jilbab (bagi muslimah), mereka enggan melakukannya dan malah menanggapi dengan dalih bahwa penampilan luar itu tidak penting selama hatinya bersih. Kita kemudian dihadapkan pada beberapa contoh saudari muslimah yang berjilbab ataupun saudara muslim yang rajin shalat berjamaah tepat waktu tetapi mereka juga berakhlak buruk, kerap berbohong, bergunjing, temperamen, dan perilaku buruk lainnya.

Namun, tentunya menjadi seorang muslim yang memiliki akhlak baik adalah hal yang sangat penting, seperti pentingnya selalu shalat tepat waktu, berpuasa, membayar zakat, dan ritual ibadah lainnya. Demikian pula mengenakan jilbab bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban yang perlu dilaksanakan dan disandingkan dengan ketakwaan serta rasa malu dalam hati mereka. Seluruh aspek ini adalah bagian dari agama kita, bagian dari Islam secara utuh. Jangan sampai kita meninggalkan, mengabaikan, atau menunda satu bagian dari Islam (apalagi yang wajib dilakukan) dengan alasan kita sedang berkonsentrasi pada bagian yang lain. Lanjut baca

Buljum 2015.12.11: Cobaan Akan Berakhir

Umumnya warga Indonesia yang tinggal di kota Sendai ini berstatus sebagai pelajar, entah itu sebagai mahasiswa D3, S1, S2, ataupun S3. Selain itu, beberapa orang sudah merampungkan proses pendidikan formalnya dan berganti statusnya dari pelajar menjadi pekerja, dan ada juga bapak, ibu yang menemani istri atau suaminya dalam menunaikan tugas sekolah. Yang masing-masing memiliki permasalahan hidup yang sebisa mungkin harus ditangani segera untuk mendapatkan solusi terbaik.

Seorang ulama mengatakan bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini adalah sebuah ujian. Layaknya ujian di bangku sekolah, ujian kehidupan ini juga akan diketahui hasilnya apakah lulus atau gagal. Bedanya, tidak akan pernah ada ujian susulan ataupun ‘semester pendek’ untuk meningkatkan nilai jika kita gagal lulus dalam ujian kehidupan. Ujian kehidupan itu sangat bervariasi, dan durasinya tergantung jatah hidup masing-masing teritung sejak akil baligh.

Menurut kebanyakan orang, ujian adalah kesusahan, kemalangan, musibah, atau padanan kata yang serupa. Suatu hal yang manusiawi jika kita sering mendengar kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang-orang disekitar kita, jikken (eksperimen) tidak kunjung berhasil, makalah ilmiah tidak juga diperiksa oleh professor, atau hal-hal lain yang mengganggu kenyamanan. Namun demikian, jangan sampai ujian-ujian tersebut menjadikan kita lemah.

Lanjut baca

Buljum 2015.12.4: Perjalanan Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran

Salman Al-Farisi adalah seorang laki-laki keturunan Persia dari Asfahan (daerah di Iran). Dia tinggal di sebuah kampung bernama Jayy bersama ayahnya. Salman sangat dicintai oleh ayahnya. Betapa sayangnya sang ayah pada Salman sampai-sampai Salman dikurung di dalam rumah untuk senantiasa duduk dekat dengan api dan membaktikan diri dalam agama Majusi, di mana dalam agama tersebut api perlu dijaga terus menerus agar tidak padam.

Ayah Salman memiliki kebun yang sangat besar. Suatu hari sang ayah sibuk bekerja di rumah dan dia memerintahkan Salman untuk keluar mengurus kebun tersebut. Dalam perjalanannya menuju kebun, Salman melalui satu gereja Nasrani dan dia mendengar suara mereka beribadah. Salman yang tidak pernah keluar rumah menjadi penasaran dan melihat apa yang mereka lakukan. Salman pun kagum dengan ibadah yang dilakukan oleh orang Nasrani dan merasa agama tersebut lebih benar dari agama Majusi yang dia anut. Kemudian dia bertanya pada orang Nasrani yang ia temui, “Di mana aku bisa belajar agama ini?” Mereka berkata “Di Syam.” Dia pun menceritakan kekagumannya akan agama Nasrani pada ayahnya. Ayahnya merasa khawatir sehingga mengikat Salman dengan rantai-rantai besi dan dikurung lagi di rumah.

Sampai suatu hari Salman mendapat kabar bahwa ada rombongan pedagang yang akan berangkat menuju Syam dari desanya. Rasa cinta Salman yang besar akan kebenaran mendorong dia untuk meninggalkan ayahnya. Salman pun melepaskan rantai-rantai besi pengikatnya dan bergabung dengan rombongan tersebut menuju Syam.

Lanjut baca

Buljum 2015.11.20: Bersyukur dengan Membagi Rasa Bahagia

وَإِذ تَأَذَّنَ رَبُّكُم لَئِن شَكَرتُم لَأَزيدَنَّكُم ۖ وَلَئِن كَفَرتُم إِنَّ عَذابي لَشَديدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)

Kebahagiaan adalah salah satu wujud nikmat yang dapat dirasakan, yang kemudian kita perlu bersyukur untuk itu. Bahkan rasa nikmat itu akan tumbuh dan berkembang saat kita mengetahui bagaimana semestinya kita bersyukur. Syukur itu dapat pula dimaknai bertambah dan menumbuh. Demikian janji Allah di dalam surat Ibrahim ayat 7. Salah satu penanda bahwa kesyukuran kira berhasil adalah dengan bertambahnya nikmat.

Lanjut baca

BBQ 2015.11.15: Islam itu Rahmat

islamrahmat

Alhamdulillah pada hari Ahad, 15 November 2015, telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi ringkas dari Ustadz Ammi. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini. Jazaakallahu khairan kepada Sdr. Abdurro’uf yang kali ini telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjamu para peserta.

Pada sesi BBQ kali ini Ustadz Ammi mengangkat tema “Islam itu Rahmat”. Pembahasan ini berangkat dari kenyataan bahwa masih banyak di antara masyarakat awam yang menganggap Islam sebagai agama yang berat, pun bagi kaum muslimin sendiri. Padahal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala justru menurunkan syariat Islam sebagai rahmat kepada manusia melalui perantara Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Syariat Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan kita sehari-hari, mengatur Halal dan Haram, dan banyak lagi, yang semuanya tidaklah menyusahkan. Lanjut baca

Buljum 2015.11.13: Makna Kehidupan

Seorang ulama bijak berkata, “Apapun cita-cita yang ingin seseorang capai, dan betapapun usaha dan kerja keras yang diusahakan, serta waktu-waktu yang dialokasikan untuk mendapatkannya, tetap seseorang akan menjemput kematiannya”. Kematian adalah sesuatu yang pasti, dan  almarhum adalah keniscayaan gelar setiap individu, entah dia orang kaya, miskin, berpendidikan ataupun tidak, besar maupun kecil, semuanya akan memperoleh gelar tersebut cepat atau lambat.

يا قَومِ إِنَّما هٰذِهِ الحَياةُ الدُّنيا مَتاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دارُ القَرارِ

“Hai kaumku, sesungguhnya hidup di dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) sedangkan akhirat itulah negeri yang kekal.” [QS. Ghafir: 39]

Lanjut baca

Buljum 2015.10.9: Mengingat Mati

Selama kurang lebih sebulan terakhir penulis berulang kali diingatkan tentang satu hal yang pasti akan dihadapi oleh setiap makhluk yang hidup dan bernyawa: kematian. Mulai dari kematian rekan kerja, baik yang sebaya maupun yang senior; teman yang sudah lama saling mengenal; maupun saudara dekat yang meninggal pada saat hari raya idul adha beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut seakan mengingatkan kembali kepada satu tema dalam fase akhir dari kehidupan manusia di dunia ini; kematian.

Lanjut baca

Buljum 2015.10.2: Perasaan Gembira yang Terpuji dan Tercela

Di dalam Al-Quran, Allah ﷻ memuji kegembiraan namun juga melarangnya. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ قارونَ كانَ مِن قَومِ موسىٰ فَبَغىٰ عَلَيهِم ۖ وَآتَيناهُ مِنَ الكُنوزِ ما إِنَّ مَفاتِحَهُ لَتَنوءُ بِالعُصبَةِ أُولِي القُوَّةِ إِذ قالَ لَهُ قَومُهُ لا تَفرَح ۖ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الفَرِحينَ

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: Janganlah kamu merasa gembira, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bergembira.” [QS Al-Qashash : 76]

Ayat di atas menceritakan tentang Qarun, yang mana dia bergembira dengan dunia, kedudukan, dan hartanya. Kegembiraaan tersebut menjadikannya congkak dan sombong di hadapan manusia, dan akhirnya ia pun mendustakan ayat-ayat Allah dan menolak seruan-seruan para Nabi untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.18: Safar: Berjalan, Melihat dan Menafsir

قُل سيروا فِي الأَرضِ فَانظُروا كَيفَ بَدَأَ الخَلقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشأَةَ الآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ

Katakanlah berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al Ankabut : 20]

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانتَشِروا فِي الأَرضِ وَابتَغوا مِن فَضلِ اللَّهِ وَاذكُرُوا اللَّهَ كَثيرًا لَعَلَّكُم تُفلِحونَ

Maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di Akhirat). [QS. Al-Jumu’ah : 10]

هُوَ الَّذي جَعَلَ لَكُمُ الأَرضَ ذَلولًا فَامشوا في مَناكِبِها وَكُلوا مِن رِزقِهِ ۖ وَإِلَيهِ النُّشورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. [QS. Al-Mulk : 15]

Salah satu anjuran agama yang sering terlupakan adalah melakukan safar, atau perjalanan. Anjuran ini memiliki pesan yang kuat dan mendalam, agar kita bisa memetik hikmah dan pemahaman yang mendasar dari perjalanan yang kita tempuh, untuk menjalankan fungsi kita, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.11: Meraih Kesuksesan

Sukses!!! Meraih kesuksesan adalah keinginan setiap manusia, dan semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraihnya. Namun hanya sedikit (kurang dari 5% -menurut para motivator) yang meraih kesuksesan, sisanya menemui kegagalan atau hanya menggapai setengah kesuksesan, yang dirasa sudah cukup memuaskan bagi pelakunya. Pertanyan yang muncul berikutnya adalah, mengapa ada orang yang sukses, setengah sukses ataupun gagal. Lantas, apa itu kesuksesan, dan apa yang dibutuhkan untuk meraihnya?

Masing-masing orang memiliki definisinya sendiri tentang sukses. Seseorang pelajar atau ilmuwan mungkin mendefinisikan sukses, jika lulus tepat waktu, publikasi banyak, atau target publikasi di jurnal ilmiah Nature atau Science setiap tahun, atau mendapatkan posisi bagus di institusi yang mapan dengan penghasilan yang besar. Intinya, sebagian besar definisi kesuksesan adalah hal-hal yang berkaitan erat dengan materi.

Lanjut baca