Perspektif Jarum

Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa memarkir sebuah baju. Bukan karena usianya yang sudah usang, sebab menurut ukuran saya dia termasuk salah satu baju saya yang tergolong baru. Bukan juga karena sobek atau rusak. Ia masih bagus luar-dalam. Juga bukan karena ketinggalan mode. Ia masih pantas sekali, baik warna maupun modelnya. Hal kecil yang menyebabkan itu semua, yaitu ketika beberapa buah kancingnya lepas. Apa arti sebuah baju tanpa kancing bajunya alias benik? Tentu jadi bahan omongan orang, kalau tidak mau wirang (malu). Sebab pakai baju, tapi bledeh (terbuka dan kelihatan dadanya, karena tidak ada kancingnya).

Maka, acara saya selanjutnya adalah mencari cara untuk memasang kembali kancing-kancing yang terlepas itu. Teorinya mudah, tinggal cari benang, masukkan ke jarum dan menjahitnya kembali kancing – kancing yang lepas itu ke tempatnya. Itu teori. Masalahnya di rumah saya tidak ada jarum dan benang yang saya butuhkan. Oleh karenanya, target berikutnya adalah berburu benang dan jarum.

Tanpa sengaja saya berhasil menemukan seperangkat jarum dan benangnya di laci meja kantor saya. Aneh, kok ada di situ? Ingat – ingat, asesoris itu saya ambil ketika nginap di salah satu hotel bintang di bilangan Palembang, Sumatera Selatan. Iseng memang, tapi ternyata berguna. Setidaknya untuk saat ini, untuk memasang kembali benik baju saya. Selanjutnya saya persiapkan diri untuk segera memasangnya. Saya ambil jarum dan memilih benang yang sesuai dengan warna baju saya. Ada beberapa benang yang tersedia di situ, dan benang hitam menjadi pilihan utama. Lanjut baca

Qiyamu Al-Lail (Bangun Malam)

Pada perang Salib, Sultan Sallahuddin Al-Ayyubi memilih mereka yang bangun malam sebagai barisan mujahidin garda depan. Orang-orang yang rajin bangun malam itu berhadapan langsung dengan musuh. Hasilnya pasukan muslimin memperoleh kemenangan gemilang mengalahkan pasukan salib. Kemudian kedamaian datang bersamanya.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia berkata: “Bagaimana mata ini dapat tertutup rapat dan tenteram sedangkan ia tak tahu di mana kelak ia akan kembali di antara dua tempat.” Setiap malam, ia bangun bertahajud kepadaNya dan menyendiri denganNya sehingga basah tempat sujudnya oleh air mata. Kegigihan sholat malamnya tiada tara, hasilnya masa kekhalifahannya yang cuma 2,5 tahun, membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan mencari orang yang berhak menerima zakat pun susah ditemukan kala itu. Dua setengah tahun yang sempurna, serasa 25 tahun lamanya.

Sekarang, banyak kalangan merasa umat islam tengah terpuruk. Padahal, dulu islam pernah berjaya, baik di kancah ilmu pengetahuan maupun peradaban. Banyak yang bertanya, kenapa hal ini bisa terjadi? Dan berbagai usaha pun dilakukan oleh berbagai kalangan untuk meraih kembali kejayaan itu. Ada yang menggebu dengan ide kekhalifahan. Ada yang berseru dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Ada pula yang berusaha menguasai jalur – jalur ekonomi dan informasi. Namun, semua itu serasa menemui jalan buntu. Satu hal yang banyak mereka lupakan dalam memperoleh kembali kehormatan dan kemuliaan itu, yaitu tidak menegakkan kembali bangun malam seperti yang dipesankan Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam. Lanjut baca

Kriteria Calon Pasangan

“Lelaki yang terencana tahu persis wanita seperti apa yang dia perlukan, karenanya tak perlu pacaran dengan alasan perkenalan” -Ust. Felix Siauw-

Awalnya adalah Kriteria

Seperti disebutkan dalam kutipan di atas, juga dibahas dalam buku-buku yang memaparkan tentang pernikahan dalam Islam, menyiapkan kriteria calon pasangan adalah termasuk dalam persiapan yang mula-mula. Idealnya, setiap pribadi muslim terutama yang telah baligh dan siap menikah, sudah memiliki visi tentang hidupnya, tentang jalan apa yang akan ia pilih dalam peran menjadi khalifah-Nya. Jadi ilmuwan misalnya, atau pebisnis, atau da’i di pedalaman, atau apa saja yang berada dalam ridha-Nya.

Setelah visi tentang diri mantap terencana, yang ditetapkan selanjutnya adalah visi pernikahan, menentukan tujuan apa yang ingin dicapai bersama pasangan. Dalam pemenuhan tujuan inilah, penetapan kriteria menjadi penting. Analoginya seperti akan membeli komputer misalnya, mengetahui dengan jelas spesifikasi yang dibutuhkan akan membantu kita untuk menghemat waktu dalam memilih produk, juga mencegah kita dari jebakan promosi produk yang tidak diperlukan. Dalam hal mencari calon pasangan, memulainya dengan fokus pada kriteria yang dibutuhkan juga diharapkan akan membantu untuk lebih menjaga kebersihan hati; dibandingkan dengan memulai dengan fokus pada satu sosok yang belum tentu menjadi jodohnya nanti. Lanjut baca

Ilmu

Ilmu, Penting(?)

Kawan-kawan, pernahkah kita berpikir tentang pendidikan yang selama ini sudah kita tempuh? Dalam pendidikan formal, khususnya di Indonesia, kita mengenal jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA, hingga universitas. Sebagian dari kita mungkin sedang menempuh salah satu jenjang pendidikan tersebut. Sebagian lagi bahkan mungkin sudah menyelesaikan jenjang pendidikan hingga mendapat gelar yang bermacam-macam entah doktor, profesor, dan sebagainya. Namun, dari semua pendidikan yang kita tempuh selama ini ilmu apa saja yang sudah kita dapat?

Sebagai seorang muslim, kita mengetahui bahwa menuntut ilmu merupakan suatu keharusan. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” [HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dll]. Tidak hanya itu, menuntut ilmu bahkan dapat dikatakan sebagai jihad bagi seorang muslim seperti difirmankan dalam surat At-Taubah ayat 122:

وَما كانَ المُؤمِنونَ لِيَنفِروا كافَّةً ۚ فَلَولا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرقَةٍ مِنهُم طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهوا فِى الدّينِ وَلِيُنذِروا قَومَهُم إِذا رَجَعوا إِلَيهِم لَعَلَّهُم يَحذَرونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Hal ini juga diperkuat dengan sabda Rasulullah, “Barang siapa keluar dalam rangka thalabul ‘ilmi (mencari ilmu), maka dia berada dalam jalan Allah (fii sabilillah) hingga kembali.” [HR. Tirmizi]

Ilmu Agama? Lanjut baca

Awas keledai!

keledaiNasi sudah menjadi bubur, entah mengapa hewan yang satu ini identik dengan sebuah kedunguan. Orang sering menyebut namanya, sekedar untuk mengatakan sebuah kebodohan. Orang sering memakai namanya untuk melampiaskan ketololan. Banyak kesalahan dan kejelekan yang tidak ia perbuat, tetapi dialamatkan kepadanya. Dasar keledai! Begitulah yang sering telinga kita dengar selama ini, walau banyak juga di antara kita yang belum melihat seperti apa hewan ini.

Mungkin dari rupanya yang imut, tubuhnya yang tidak gede-gede amat, tinggi semampai – semeter tak sampai, dan polahnya yang lamban-gemulai, itulah yang mendorong menjadikannya sasaran tembak. Orang seenaknya berprasangka, padahal dia punya peran besar dalam perjalanan sejarah umat manusia, sebagaimana tersebut di dalam Kitabullah:

Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
[QS An-Nahl: 7-8]

Juga sejak kapan label itu disematkan kepadanya, tak tercatat dalam sejarah. Sebut saja kisah Nasrudin, tokoh sufi di zamannya, ketika bertemu dengan Timur Lenk. Ksatria Mongol yang meluluhlantakkan dinasti Islam itu menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Tanpa bermaksud menggurui, apalagi tersinggung, Nasrudin menerimanya dengan senang hati hadiah keledai tersebut sekalipun dengan tugas yang berat karena Timur Lenk berkata, “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali kemari, dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah binatang dungu ini bisa membaca?” Lanjut baca

Sikap muslim dalam bekerja dan berusaha

Dalam bekerja dan berusaha, apapun profesinya dilarang menyulitkan dan membuat masalah kepada orang lain. Alasannya adalah dampak kedzaliman yang terjadi dalam bekerja dan berusaha dapat merugikan orang banyak secara umum maupun merugikan individu.

Salah satu contoh yang termasuk dzalim yang potensial merugikan orang banyak adalah penimbunan bahan makanan, “Siapa saja yang menimbun makanan selama 40 hari, lalu menjualnya dengan harga mahal, sungguh ia telah mendurhakai Allah dan Allah pasti akan murka padanya.” Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Manshur ad-Dailami dlm musnad al-firdaus dari Ali bn Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Lanjut baca

Satu lagi remaja Jepang masuk Islam

Namanya Miura-san, asli orang Sendai. Pertama kali penulis berkenalan dengannya tiga bulan yang lalu. Saya kaget karena umurnya masih 18 tahun. Umur yang sangat ideal untuk berfoya-foya. Namun, pencari kebenaran ini haus sekali akan informasi tentang Islam. Dia datang ke masjid berjalan kaki dengan masih memakai seragam SMA. Saya tanya bagaimana kamu menemukan Masjid Sendai?

Saya berbincang-bincang dengannya seputar mengapa dia tertarik masuk Islam. Sejak duduk di TK dia sudah tertarik dengan cerita tentang sejarah, ya sejarah apa saja. Setelah masuk SD, mulailah dia mengenal pelajaran sejarah lebih terperinci. Begitu masuk SMP dia mulai tertarik dengan sejarah Islam. Demikian juga setelah masuk SMA dia tekuni pelajaran tersebut. Lanjut baca