Buljum 2015.7.24: Merasakan Bekas-Bekas Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan, bulan dimana pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu-pintu Neraka ditutup. Dari Abu Hurairah, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين

”Apabila datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta syaitan dibelenggu.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka tersebut secara otomatis mengondisikan umat Islam dalam situasi ketaatan yang tak dijumpai di bulan-bulan lainnya. Di siang hari umat Islam dikondisikan dengan puasa, di malam hari umat Islam dikondisikan dengan sholat Tarawih. Pun dengan seruan-seruan menghatamkan Qur’an yang merdu terdengar sepanjang Ramadhan. Bulan Ramadhan pun menjadi bulan yang menyulitkan kita untuk bersikap riya’. Ketika kita berpuasa, orang lain pun berpuasa. Pun ketika kita menghatamkan Qur’an, orang lain juga menghatamkan Qur’an bahkan jauh lebih banyak dibandingkan kita. Hal itulah yang kemudian menjadikan bulan Ramadhan begitu spesial bagi pendidikan diri kita. Maka dari itu menjadi penting bagi kita untuk mengetahui dan menyadari apa saja bekas-bekas yang ditinggalkan Ramadhan bagi kita.

Lanjut baca

BBQ 2014.12.28: Istiqomah

istiqamah

Alhamdulillah pada Ahad 28 Desember 2014 telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Sabtu atau Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi dari ustadz. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini.

Setelah di pertemuan sebelumnya Ustadz Ammi membahas proses menuntut ilmu syar’i yang bermanfaat, kali ini beliau membahas istiqomah dan kiat-kiat menggapai istiqomah. Seperti yang kita ketahui, istiqomah biasa dimaknai sebagai “komitmen”, atau konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah dikomitmenkan. Seperti apakah istiqomah dalam tuntunan syariat? Berikut ini rangkumannya.

Makna Istiqomah

Istiqomah secara bahasa bermakna al-i’tidal (lurus). Sementara itu menurut syariat, istiqâmah adalah meniti jalan lurus (agama yang lurus / Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqomah mencakup melakukan seluruh ketaatan, amalan wajib maupun amalan sunnah, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, serta meninggalkan seluruh yang dilarang.

Ada cukup banyak ayat di dalam Al-Quran yang memerintahkan istiqomah. Di antaranya dalam Surat Huud: 112,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَ مَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Maka istiqomahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Surat Huud: 112]

Lanjut baca

Mental Sejati Pemburu Ilmu

ilmuSalah satu kualitas pemuda muslim yang sukses adalah mencintai ilmu. Tentu saja, untuk sampai pada keadaan “jatuh cinta”, sudah pula ia memiliki mental sejati pemburu ilmu. Imam Syafi’i rahimahullah memberikan 6 nasihat kepada para penuntut ilmu, yang tanpanya ilmu tidak akan dapat diperoleh: 1) Kecerdasan, 2) Semangat, 3) Kesungguhan, 4) Kesediaan mengeluarkan uang, 5) Bersahabat dengan alim ulama atau para guru, dan 6) Waktu yang lama.

Inilah mental sejati yang seharusnya dimiliki oleh para pemburu ilmu. Ia sudah selayaknya rela berpeluh, berpayah-payah penuh ghirah (semangat) dan kesungguhan. Lanjut baca

Hijrah, kaum Suffah, dan sifat dermawan

Ketika Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam tiba di Yatsrib (Madinah), beliau dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi karena sebagian besar muslim yang hijrah ke Madinah datang tanpa sedikit pun membawa harta mereka. Memang benar sebagian dari mereka adalah pedagang dengan kekayaan yang tidak sedikit, tetapi dalam keadaan yang tertekan oleh Quraisy mereka tidak dapat membawa serta harta mereka.

Untuk mengatasi persoalan ini, Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam mengambil beberapa langkah strategis. Pertama, kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Makkah menuju Madinah) akan dipersaudarakan dengan kaum Anshar (warga asli Madinah). Kaum Anshar kemudian memberikan kaum Muhajirin tempat bernaung dan makanan. Namun, jumlah kaum Muhajirin terus bertambah di luar kemampuan kaum Anshar memberikan akomodasi bagi saudaranya ini. Solusi lainnya dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Lanjut baca

Galau gundah gulana

Galau Gundah Gulana

Galau Gundah Gulana

Saudaraku, Pernahkah kau terjatuh? Merasa rapuh bersama perjalanan waktu? Galau gundah gulana? Pernahkah engkau mengalami keadaan yang sulit, berbagai cobaan datang silih berganti, bermacam musibah datang menghantam tanpa ampun? Pernahkan kau menghadapi keadaan, yang mana daya upaya, berbagai cara, segala macam ikhtiar dan do’a telah kau panjatkan, akan tetapi permasalahan tak kunjung terselesaikan? Yang tersisa hanyalah kepasrahan atas segala kehendak-Nya, yang menyelimuti hati dan pikiran, pernahkah? Lanjut baca

Perspektif Jarum

Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa memarkir sebuah baju. Bukan karena usianya yang sudah usang, sebab menurut ukuran saya dia termasuk salah satu baju saya yang tergolong baru. Bukan juga karena sobek atau rusak. Ia masih bagus luar-dalam. Juga bukan karena ketinggalan mode. Ia masih pantas sekali, baik warna maupun modelnya. Hal kecil yang menyebabkan itu semua, yaitu ketika beberapa buah kancingnya lepas. Apa arti sebuah baju tanpa kancing bajunya alias benik? Tentu jadi bahan omongan orang, kalau tidak mau wirang (malu). Sebab pakai baju, tapi bledeh (terbuka dan kelihatan dadanya, karena tidak ada kancingnya).

Maka, acara saya selanjutnya adalah mencari cara untuk memasang kembali kancing-kancing yang terlepas itu. Teorinya mudah, tinggal cari benang, masukkan ke jarum dan menjahitnya kembali kancing – kancing yang lepas itu ke tempatnya. Itu teori. Masalahnya di rumah saya tidak ada jarum dan benang yang saya butuhkan. Oleh karenanya, target berikutnya adalah berburu benang dan jarum.

Tanpa sengaja saya berhasil menemukan seperangkat jarum dan benangnya di laci meja kantor saya. Aneh, kok ada di situ? Ingat – ingat, asesoris itu saya ambil ketika nginap di salah satu hotel bintang di bilangan Palembang, Sumatera Selatan. Iseng memang, tapi ternyata berguna. Setidaknya untuk saat ini, untuk memasang kembali benik baju saya. Selanjutnya saya persiapkan diri untuk segera memasangnya. Saya ambil jarum dan memilih benang yang sesuai dengan warna baju saya. Ada beberapa benang yang tersedia di situ, dan benang hitam menjadi pilihan utama. Lanjut baca

Ilmu

Ilmu, Penting(?)

Kawan-kawan, pernahkah kita berpikir tentang pendidikan yang selama ini sudah kita tempuh? Dalam pendidikan formal, khususnya di Indonesia, kita mengenal jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA, hingga universitas. Sebagian dari kita mungkin sedang menempuh salah satu jenjang pendidikan tersebut. Sebagian lagi bahkan mungkin sudah menyelesaikan jenjang pendidikan hingga mendapat gelar yang bermacam-macam entah doktor, profesor, dan sebagainya. Namun, dari semua pendidikan yang kita tempuh selama ini ilmu apa saja yang sudah kita dapat?

Sebagai seorang muslim, kita mengetahui bahwa menuntut ilmu merupakan suatu keharusan. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” [HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dll]. Tidak hanya itu, menuntut ilmu bahkan dapat dikatakan sebagai jihad bagi seorang muslim seperti difirmankan dalam surat At-Taubah ayat 122:

وَما كانَ المُؤمِنونَ لِيَنفِروا كافَّةً ۚ فَلَولا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرقَةٍ مِنهُم طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهوا فِى الدّينِ وَلِيُنذِروا قَومَهُم إِذا رَجَعوا إِلَيهِم لَعَلَّهُم يَحذَرونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Hal ini juga diperkuat dengan sabda Rasulullah, “Barang siapa keluar dalam rangka thalabul ‘ilmi (mencari ilmu), maka dia berada dalam jalan Allah (fii sabilillah) hingga kembali.” [HR. Tirmizi]

Ilmu Agama? Lanjut baca

Awas keledai!

keledaiNasi sudah menjadi bubur, entah mengapa hewan yang satu ini identik dengan sebuah kedunguan. Orang sering menyebut namanya, sekedar untuk mengatakan sebuah kebodohan. Orang sering memakai namanya untuk melampiaskan ketololan. Banyak kesalahan dan kejelekan yang tidak ia perbuat, tetapi dialamatkan kepadanya. Dasar keledai! Begitulah yang sering telinga kita dengar selama ini, walau banyak juga di antara kita yang belum melihat seperti apa hewan ini.

Mungkin dari rupanya yang imut, tubuhnya yang tidak gede-gede amat, tinggi semampai – semeter tak sampai, dan polahnya yang lamban-gemulai, itulah yang mendorong menjadikannya sasaran tembak. Orang seenaknya berprasangka, padahal dia punya peran besar dalam perjalanan sejarah umat manusia, sebagaimana tersebut di dalam Kitabullah:

Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
[QS An-Nahl: 7-8]

Juga sejak kapan label itu disematkan kepadanya, tak tercatat dalam sejarah. Sebut saja kisah Nasrudin, tokoh sufi di zamannya, ketika bertemu dengan Timur Lenk. Ksatria Mongol yang meluluhlantakkan dinasti Islam itu menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Tanpa bermaksud menggurui, apalagi tersinggung, Nasrudin menerimanya dengan senang hati hadiah keledai tersebut sekalipun dengan tugas yang berat karena Timur Lenk berkata, “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali kemari, dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah binatang dungu ini bisa membaca?” Lanjut baca

Sikap muslim dalam bekerja dan berusaha

Dalam bekerja dan berusaha, apapun profesinya dilarang menyulitkan dan membuat masalah kepada orang lain. Alasannya adalah dampak kedzaliman yang terjadi dalam bekerja dan berusaha dapat merugikan orang banyak secara umum maupun merugikan individu.

Salah satu contoh yang termasuk dzalim yang potensial merugikan orang banyak adalah penimbunan bahan makanan, “Siapa saja yang menimbun makanan selama 40 hari, lalu menjualnya dengan harga mahal, sungguh ia telah mendurhakai Allah dan Allah pasti akan murka padanya.” Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Manshur ad-Dailami dlm musnad al-firdaus dari Ali bn Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Lanjut baca