Buljum 2016.5.20: Allah Tidak Mempersulit Hamba-Nya

Ungkapan “Allahumma yassir wa laa tu’assir” cukup populer di telinga kita sebagai “doa” ketika menghadapi kesulitan. Apakah doa ini dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ?

Dari salah satu hadits shahih terkait menghadapi kesulitan, ternyata bukan doa itu yang diajarkan.

عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا”

“Dari Anas radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ (ketika dalam kesulitan) berkata, ‘Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan.’ Terjemahnya, ‘Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan yang sulit bisa Engkau jadikan mudah apabila Engkau menghendakinya menjadi mudah.’” [As-Silsilah Ash-Shahihah, Hadits no. 2886]

Lanjut baca

Buljum 2016.4.29: Ajaibnya Doa

Sebagai manusia, tentu kita sering menghadapi berbagai macam permasalahan di dalam hidup kita. Bahkan mungkin pernah suatu permasalahan terasa amatlah besar, sampai-sampai kita merasa bahwa kita tidak punya daya dan upaya lagi untuk keluar darinya. Saudara-saudariku, jika kita mengalami hal seperti ini, ingatlah, sesungguhnya kita masih bisa membuka pintu langit dengan doa-doa kita. Ingatlah, sesungguhnya kita masih memiliki Rabb yang Maha Mampu untuk mengabulkan doa-doa kita tersebut. Lanjut baca

Buljum 2016.4.22: Siapkah Kita Menyambut Ramadhan?

Tak terasa kita telah memasuki pertengahan bulan Rajab. Tinggal satu setengah bulan tersisa sebelum kita bertemu dengan bulan yang sama-sama kita rindukan, Bulan Ramadhan. Pertanyaan besar pada diri kita masing-masing, sudah seberapa jauhkah kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan bulan mulia ini? Atau jangan-jangan kita termasuk segolongan umat yang tak sadar akan semakin dekatnya bulan ini? Lanjut baca

Buljum 2016.2.12: Membina Diri Sendiri di Manapun Berada

Ada sebuah fragmen menarik dalam kisah kehidupan Rasulullah ﷺ. Hal ini terjadi setelah umat Islam dengan gilang gemilang meluluhlantakkan benteng Yahudi Khaibar yang merupakan ancaman bagi umat Islam saat itu dalam keterlibatan mereka pada pendanaan perang Khandaq. Ketika itu sepupu Rasulullah ﷺ—Ja’far bin Abi Thalib—bersama sekelompok sahabat kembali dari hijrahnya—ke negeri Habasyah—ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin di Madinah. Ketika itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku bingung apa yang membuat senang diriku, apakah karena menangnya kita di Khaibar ataukah kembalinya kaum muslimin dari Habasyah.”

Lanjut baca

Buljum 2015.11.27: Mari Membaca Al-Qur’an

Seruan tersebut adalah seruan yang ringkas namun mengandung makna yang dalam di baliknya. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam. Kitab yang merupakan kalam Allah ﷻ yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia diriwayatkan secara tawatur, bersambung terus-menerus seperti rantai dan oleh banyak orang sehingga menjadi kebenaran umum yang tak terbantahkan, kepada para sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga sampai kepada kita saat ini dengan berisikan pesan-pesan Allah ﷻ yang dimulai dari Al-Fatihah hingga ditutup dengan An-Nas. Merupakan suatu Ibadah yang luar biasa ketika kita membacanya, dan ia juga merupakan petunjuk bagi manusia dalam menjalani jalan kehidupan.

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ »

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an) maka dengannya akan mendapat satu kebaikan; satu kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisal. aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf. akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, Miim satu huruf.[HR. Tirmidzi no. 2910, disahihkan dalam al-Misykat no. 2137 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6469]

Lanjut baca

Buljum 2015.11.6: Haji dari Jepang: Persiapan

Ibadah haji merupakan salah satu di antara ibadah agung yang disyariatkan oleh Allah ﷻ kepada hamba-Nya, sekaligus merupakan rukun Islam yang terakhir. Firman-Nya:

فيهِ آياتٌ بَيِّناتٌ مَقامُ إِبراهيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيهِ سَبيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ العالَمينَ

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. [QS. Ali Imran : 97] Lanjut baca

Buljum 2015.10.16: Kepuasan dengan Amalan dan Pahala Minimal

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita sudah merasa puas dengan satu amal shalih tanpa berusaha meningkatkan lagi kualitasnya. Bahkan, terkadang kepuasan akan kualitas amalan dengan “pahala minimal” ini seolah ada legitimasinya dengan dalil tertentu. Mari kita lihat salah satu contohnya dalam mempelajari Al-Quran.

Idealnya, orang yang mempelajari Al-Quran harus dapat membacanya, menghafalkannya, memahami maknanya (dengan belajar bahasa Arab), dan tentunya mengamalkannya. Namun, mungkin karena rasa malas, atau sebenarnya kurang mengalokasikan waktu belajar, kita (tentunya termasuk penulis) terlanjur puas dalam aspek bisa membacanya saja, itu pun dengan terbata-bata.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.25: Mengambil Hikmah dari Sebuah Pengorbanan

Kamis, 24 September 2015, atau 10 Dzulhijjah 1436 H yang lalu kita telah sama-sama merayakan Idul Adha.  Hari dimana kita berkurban, berbondong-bondong menunjukkan ketaatan kita pada Allah ﷻ. Berbondong-bondong kita lepaskan ikatan dengan harta yang kita cintai demi ketaatan pada Allah ﷻ. Kita rela mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli hewan kurban, yang berlipat harganya dibanding hari-hari lainnya. Karena semua itu bukan karena uang, akan tetapi upaya untuk menunjukkan ketaatan pada-Nya, Sang Robb Semesta Alam.

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu  dan sembelihlah kurban.” [QS. Al-Kautsar: 1-2]

Lanjut baca

Buljum 2015.9.4: Kerjaku, Ibadahku, Surgaku

Pekerjaan apa yang tepat untuk saya? Apakah pekerjaan ini benar-benar sesuai untuk saya? Halalkah pekerjaan saya ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang kerap dipikirkan masyarakat usia produktif. Hal ini lazim berlaku bagi yang hendak mencari kerja maupun yang sedang dirundung kegalauan atas pekerjaanya sekarang.

Mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar, perkembangan karier yang cerah, dan pada perusahaan yang memiliki nama yang baik di masyarakat adalah beberapa kriteria yang banyak orang tetapkan dalam mencari pekerjaan. Apakah itu salah? Tidak. Mendapatkan nominal gaji tertentu, kemudian membandingkan dengan biaya hidup yang dibutuhkan membantu kita menyeleksi perusahaan mana saja yang kira-kira bisa memberi kehidupan yang layak pada karyawannya. Dengan usia yang relatif masih muda, yang berarti puncak karier masih jauh di atas sana, kita juga perlu memastikan tempat kita bekerja menjadi sebuah tangga yang bisa kita daki. Tidak hanya perusahaan saja yang berhak menyaring calon karyawan yang dianggap memiliki kompetensi. Setiap pekerja juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan tempat kerja yang baik.

Lanjut baca

Buljum 2015.8.14: Semangat Sang Kakek dan Syiar Islam Melalui Shalat Berjamaah

Sendai, suatu pagi di musim dingin, alhamdulillah, Jepang diguyur salju lebat sejak semalam yang lalu. Hujan salju ini mungkin yang terlebat dalam beberapa belas/puluh tahun terakhir untuk beberapa kota besar. Saat itu dilaporkan di sebuah koran, di area Kanto ketebalan rata-rata salju bisa mencapai 20-30 cm, sedangkan di area Tohoku (Sendai termasuk di dalamnya) ketebalan salju bisa mencapai 40 cm, rekor tersendiri untuk area ini.

buljum-20150814-1

Sambil membaca informasi dari koran tersebut, sekitar pukul lima pagi, di tempat menunggu biasanya, si Fulan sudah pesimis bertemu dengan sang kakek. Maklum saja, salju setebal 40 cm di jalanan yang masih sepi belum tergerus arus lalu lintas pagi rasanya agak mustahil diterobos mobil sang kakek. Hampir saja Fulan kembali ke rumah, sambil berpikiran bahwa salju ini bisa menjadi udzur untuk tidak memenuhi panggilan Sang Khaliq di rumah-Nya. Entah sudah keberapakalinya si Fulan mencari-cari udzur untuk tidak turut berangkat bersama sang kakek.

Lanjut baca