Buljum 2016.5.6: Tanggung Jawab Membangun Peradaban

Pendidikan merupakan faktor penting dan berpengaruh besar dalam membangun sebuah peradaban. Melalui pendidikan yang berkualitas, sebuah bangsa yang semula tertinggal dapat menjadi sebuah bangsa yang maju. Sebaliknya, sebuah bangsa yang kualitas pendidikannya rendah, maka niscaya bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang tertinggal. Membangun peradaban suatu bangsa berarti membangun anak-anak bangsa. Sebagai generasi penerus dan kunci masa depan suatu bangsa, proses pendidikan anak dan generasi muda perlu menjadi perhatian. Lanjut baca

Buljum 2016.2.19: Mari Berkumpul di Sana

Bagaimana perasaan kita jika ada teman yang mengundang kita untuk berkumpul bersama menikmati berbagai hidangan lezat yang telah disiapkannya? Bukankah senyum paling merekah yang akan kita berikan pada teman kita itu beserta jawaban yang mantap, ”OK, ikut dong!” Jarang sepertinya ada yang merasa kesal atau jengkel ketika diundang untuk makan. Sekarang bagaimana jika teman kita mengundang kita berkumpul bukan untuk makan bersama, tapi untuk mendengarkan kajian ilmu syar’i yang disampaikan oleh seorang ustadz? Apakah kita akan merasa senang juga? Apakah senyuman merekah itu akan terkembang juga di wajah kita? Semoga kita bisa juga menjawab dengan mantap, “OK, insya Allah saya ikut!” Tapi, kasus yang kedua ini mungkin lebih beragam jawabannya dibandingkan dengan kasus yang pertama. Mungkin yang lebih sering kita rasakan adalah adanya perasaan malas, tidak peduli atau mungkin kesal karena saat itu justru kita sedang ingin jalan-jalan atau refreshing setelah penat di sekolah atau di tempat kerja.

Lanjut baca

Buljum 2016.1.8: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Biruni dan Ibnu Sina, serta Perannya Dalam Astronomi dan Astrologi

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas sedikit mengenai sejarah seorang ilmuwan Muslim zaman dahulu (Muhammad bin Musa Al Khwarizmi). Kali ini, insya Allah saya ingin membahas ilmuwan lain yang berasal dari daerah yang sama, tetapi dari zaman setelahnya, yaitu Abu Rayhan Biruni (ابوریحان بیرونی, biasa ‎‎disebut Al-Biruni, berarti “dari pinggiran kota”, yang dimaksud adalah kota Kats di Khwarazm) dan Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Al-Hasan bin Ali bin Sina (biasa disebut Ibnu Sina, keturunan Sina, atau Avicenna oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa abad pertengahan).

Al-Biruni lahir sekitar tahun 973 M, sementara Ibnu Sina lahir di 980 M. Keduanya berasal dari daerah yang sekarang termasuk di Negara Uzbekistan; Al-Biruni berasal dari daerah Khwarazm dan Ibnu Sina berasal dari daerah Bukhara. Pada masa mereka lahir, wilayah ini termasuk dalam kekuasaan Kekaisaran Samaniyah yang berbangsa Iran, tetapi beribukota di Asia Tengah – ketika Ibnu Sina lahir, ibukotanya di Bukhara. Pada masa itu, mayoritas Bangsa Iran masih menganut akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan mengakui kekhalifan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Lanjut baca

Buljum 2015.12.4: Perjalanan Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran

Salman Al-Farisi adalah seorang laki-laki keturunan Persia dari Asfahan (daerah di Iran). Dia tinggal di sebuah kampung bernama Jayy bersama ayahnya. Salman sangat dicintai oleh ayahnya. Betapa sayangnya sang ayah pada Salman sampai-sampai Salman dikurung di dalam rumah untuk senantiasa duduk dekat dengan api dan membaktikan diri dalam agama Majusi, di mana dalam agama tersebut api perlu dijaga terus menerus agar tidak padam.

Ayah Salman memiliki kebun yang sangat besar. Suatu hari sang ayah sibuk bekerja di rumah dan dia memerintahkan Salman untuk keluar mengurus kebun tersebut. Dalam perjalanannya menuju kebun, Salman melalui satu gereja Nasrani dan dia mendengar suara mereka beribadah. Salman yang tidak pernah keluar rumah menjadi penasaran dan melihat apa yang mereka lakukan. Salman pun kagum dengan ibadah yang dilakukan oleh orang Nasrani dan merasa agama tersebut lebih benar dari agama Majusi yang dia anut. Kemudian dia bertanya pada orang Nasrani yang ia temui, “Di mana aku bisa belajar agama ini?” Mereka berkata “Di Syam.” Dia pun menceritakan kekagumannya akan agama Nasrani pada ayahnya. Ayahnya merasa khawatir sehingga mengikat Salman dengan rantai-rantai besi dan dikurung lagi di rumah.

Sampai suatu hari Salman mendapat kabar bahwa ada rombongan pedagang yang akan berangkat menuju Syam dari desanya. Rasa cinta Salman yang besar akan kebenaran mendorong dia untuk meninggalkan ayahnya. Salman pun melepaskan rantai-rantai besi pengikatnya dan bergabung dengan rombongan tersebut menuju Syam.

Lanjut baca

BBQ 2015.11.15: Islam itu Rahmat

islamrahmat

Alhamdulillah pada hari Ahad, 15 November 2015, telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi ringkas dari Ustadz Ammi. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini. Jazaakallahu khairan kepada Sdr. Abdurro’uf yang kali ini telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjamu para peserta.

Pada sesi BBQ kali ini Ustadz Ammi mengangkat tema “Islam itu Rahmat”. Pembahasan ini berangkat dari kenyataan bahwa masih banyak di antara masyarakat awam yang menganggap Islam sebagai agama yang berat, pun bagi kaum muslimin sendiri. Padahal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala justru menurunkan syariat Islam sebagai rahmat kepada manusia melalui perantara Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Syariat Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan kita sehari-hari, mengatur Halal dan Haram, dan banyak lagi, yang semuanya tidaklah menyusahkan. Lanjut baca

BBQ 2015.11.01: Tafsir Surat At-Tiin

at-tiin

Alhamdulillah pada Ahad 1 November 2015 telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi ringkas dari Ustadz Ammi. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini. Jazaakallahu khairan kepada Sdr. Angga Hermawan yang kali ini telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjamu para peserta.

Pada sesi BBQ kali ini Ustadz Ammi membahas tafsir Surat At-Tiin. Surat At-Tiin digolongkan sebagai surat Makkiyyah. Perlu dicatat bahwa pembagian ini bukan berdasarkan tempat, melainkan berdasarkan periode kenabian. Jika dibagi menurut tempat turunnya surat tersebut, pembagian Makkiyyah dan Madaniyyah saja belum cukup karena ada beberapa surat dan ayat yang diturunkan ketika Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam berada di luar kota Makkah dan Madinah. Surat ini terdiri dari 8 ayat yang ringkas dan padat makna. Lanjut baca

Buljum 2015.10.30: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Khwarizmi

Menurut sebuah hadits dari Anas radhiyallahu ’anhu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Perintah ini mendorong umat Islam di berbagai masa untuk menuntut berbagai macam ilmu (semoga ini menjadi pengingat bagi kita yang sedang merantau untuk menuntut ilmu, termasuk penulis, untuk meluruskan niat kita mencari ilmu). Sehingga pada zaman dahulu, dunia Islam pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia, dengan para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia datang berguru menuntut ilmu ke kota-kota umat Islam. Khususnya untuk ilmu-ilmu duniawi, banyak ahli sejarah memandang zaman Kekhalifahan Abbasiyah (abad ke-2–7 H / 8–13 M) sebagai puncaknya.

Lanjut baca

Buljum 2015.10.23: Mempelajari Bahasa Asing

اقرَأ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذي خَلَقَ خَلَقَ الإِنسانَ مِن عَلَقٍ اقرَأ وَرَبُّكَ الأَكرَمُ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” [QS. Al-‘Alaq : 1-3]

Iqro!” adalah kata-kata pertama diturunkan pada Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa iqro yang pertama merujuk pada ilmu agama dan iqro yang kedua merujuk kepada ilmu duniawi. Ilmu agama menjaga kita dari berbagai ujian kehidupan untuk mengantarkan kita kepada kesuksesan di akhirat yang kekal nantinya. Ilmu adalah satu hal yang Allah perintahkan Rasul-Nya ﷺ untuk senantiasa meminta untuk ditambahkan oleh-Nya. Lanjut baca

Buljum 2015.8.28: Menuntut Ilmu Sebagai Mahasiswa di Jepang

Cukup banyak anggota komunitas Muslim di Sendai adalah mahasiswa di Tohoku University, termasuk penulis. Tulisan ini hanyalah sebagai catatan dan pengingat untuk para penuntut ilmu, khususnya untuk penulis sendiri, mengenai proses menuntut ilmu sebagai mahasiswa di Jepang.

Setiap orang mempunyai tujuannya masing-masing dalam menuntut ilmu. Ada yang menuntut ilmu untuk mencari ijazah demi mendapatkan kesempatan meraih penghasilan yang lebih tinggi di masa depan. Ada yang menuntut ilmu untuk memuaskan rasa ingin tahu, mencari jawaban untuk berbagai persoalan hidup. Ada juga yang berniat untuk memajukan negara dengan ilmunya. Atau ada juga yang sekedar mengikuti arus orang-orang di sekelilingnya. Dan bermacam tujuan-tujuan lainnya.

Apapun tujuan kita mencari ilmu, perlu diperhatikan bahwa dalam Islam, hukum mencari ilmu adalah wajib, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits terkenal dari Anas bin Malik dan beberapa sahabat lainnya.

عن أنس بن مالك , قال : قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : طلب العلم فريضة على كلّ مسلم

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 223. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Karena itu, bagi seorang muslim, mencari ilmu bisa menjadi suatu bentuk ibadah, dan inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama kita dalam mencari ilmu, sebelum tujuan-tujuan lainnya.

Lanjut baca

Buljum 2015.8.7: Ekspedisi Ilmu Musa (2): Berburu Mutiara Hikmah

Terkadang pengetahuan dan hikmah tak dapat kita cerna dalam benak, sebagaimana mikroba tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Untuk melihat ilmu dalam berbagai konteks kehidupan, diperlukan kacamata khusus. Hal inilah yang dimiliki Khadir dan tidak dimiliki Musa Selama perjalanan, kedua nabi Allah berjalan menyusuri padang hikmah dan lautan ilmu.

 Mari kita berjalan mengiringi tapak mereka di kisah pertama.

Musa dan Khadir menumpang sebuah perahu orang miskin, yang tak meminta upah akomodasi.

فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khadir melobanginya.  Musa berkata, ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’” (QS. Al-Kahfi: 71)

Untuk pertama kalinya, Musa melanggar janjinya untuk tidak mempertanyakan tindak-tanduk Khadir.

Lanjut baca