Buljum 2017.11.10: Mengaku Muslim Tetapi Tidak Shalat

Tidak diragukan lagi bahwa shalat merupakan perkara yang sangat penting dalam syariat Islam. Seorang muslim sudah diajari sejak kecil bahwa shalat merupakan tiang agama, amal yang paling pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat. Jika hisab shalatnya baik, akan baiklah seluruh amalnya, sedangkan jika shalatnya buruk, akan buruklah seluruh amalnya.

Bagi muslim yang tinggal di negeri minoritas muslim seperti di Jepang, tidak jarang mereka kesulitan melakukan shalat dengan baik dan benar. Misalnya bagi yang laki-laki, kita jarang shalat berjamaah dengan alasan tinggal jauh dari masjid. Atau bagi yang dalam perjalanan, kita sering kali susah menemukan tempat shalat yang menunjang. Karena pengaruh lingkungan, ada saja yang akhirnya malas-malasan atau bahkan meninggalkan shalat dengan sengaja (wal’iyadzubillah). Mari kita ulas secara ringkas masalah yang terakhir ini.

Para ulama sebetulnya sudah banyak membahas perincian apakah orang yang meninggalkan shalat masih muslim atau sudah keluar dari Islam. Di antara mereka terdapat beberapa perbedaan pendapat. Namun, jika seseorang mengingkari kewajiban shalat, para ulama sepakat akan kekafiran orang tersebut terlepas bagaimanapun ia mengaku sebagai muslim [1].

Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” [HR Ahmad 5/231, Tirmidzi 2616, An-Nasaai 11394, Ibnu Maajah 3973]

Beliau shallallaahu’alaihi wa sallam juga memperingatkan,

“Sesungguhnya batas di antara seseorang (muslim) dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [HR Muslim, Kitab Al-Iman (82)]

Ketika menjelaskan masalah ini, Syaikh Bin Baz rahimahullah menulis dalam Kitab Ad-Da’wah bahwa apabila orang-orang yang malas-malasan atau mengingkari kewajiban shalat itu berada dalam negeri muslim, penguasa kaum muslimin perlu untuk menyuruh mereka bertaubat. Jika enggan bertaubat, orang-orang yang meninggalkan shalat itu bisa diberikan hukuman yang sangat berat (diasingkan bahkan dihukum mati). Tentunya selama masa diperintahkan untuk bertaubat itu mereka dinasihati dengan baik, diajak pada kebenaran, serta diingatkan kembali pada akibat-akibat buruk karena meninggalkan shalat baik di dunia maupun di akhirat kelak [2].

Bagi kita yang tinggal di Jepang, mungkin kita pernah menemui teman-teman yang malas-malasan shalat ataupun meninggalkan shalat dengan sengaja. Posisi kita sebagai teman memang tidak bisa dan tidak boleh langsung menghakimi, malah ada baiknya kita bantu teman kita yang terjatuh dalam kondisi melalaikan shalat seperti itu agar kembali menegakkan keislamannya. Cara paling minimal membantunya bisa dengan rajin shalat berjamaah bersamanya, genggam tangannya dan rangkul erat penuh persaudaraan. Jika ia menolak, setidaknya kita telah terlepas dari kewajiban saling memberi nasihat di antara sesama muslim. Doakan hidayah bagi dirinya dan tentunya bagi kita sendiri agar istiqamah dalam ketaatan.

Ada satu nasihat yang sangat indah dari Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam kepada para sahabat.  Dari Anas bin Malik radhiyallaahu’anhu, ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Tolonglah saudaramu ketika ia sedang berbuat zalim ataupun ia sedang dizalimi. Spontan seorang lelaki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku (memahami maksud) menolongnya di saat ia dizalimi, lalu bagaimana caranya aku menolongnya di saat ia berbuat zalim?’ Beliau menjawab, ‘Engkau menghalanginya atau mencegahnya dari perbuatan zalimnya, itulah bentuk pertolongan kepadanya.’ ” (HR Bukhari 6952)

Melalaikan shalat merupakan salah satu bentuk kezaliman. Oleh karena itu, mencegah seseorang dari melalaikan shalat bisa menjadi suatu upaya untuk menolong orang itu. Mungkin ada di antara kita yang berpendapat, “Untuk apa sih repot-repot mengingatkan orang lain shalat, toh itu urusan pribadinya masing-masing dengan Allah di akhirat nanti.” Jika demikian, ada baiknya kita perhatikan kembali pembahasan dari para ulama, bahwa urusan shalat itu sangat erat dengan identitas keislaman seseorang, sementara dalam identitas keislaman itu terkandung nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

Coba kita perhatikan satu contoh kecil, jika ada seseorang yang mengaku muslim tetapi enggan shalat, ia beranggapan shalat adalah urusan pribadinya dan tidak boleh dicampuri teman-temannya, lalu ia meninggal dunia. Keluarga, kerabat, dan teman-teman muslim tentu harus “direpotkan” mengurus jenazahnya yang masih diakui sebagai “muslim” (KTP/dokumen) dengan memandikan, menyalatkan, hingga menguburkan. Bolehlah kita katakan, andaikata orang yang melalaikan shalat itu tidak mau disebut munafik atau kafir, sekurang-kurangnya ia sudah egois dan arogan, “Gak mau shalat tapi maunya dishalatkan (ketika sudah mati).” Terkait contoh ini, sebetulnya kaum muslimin yang mengetahui pengingkaran orang itu pada shalat boleh saja tidak menyalatkan ia saat matinya kelak [3].

Perlu kita ingat kembali, seseorang disebut muslim bukanlah hanya dengan meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Seorang muslim dengan keimanannya sudah seharusnya melakukan shalat sesuai tuntunan Alquran dan Assunnah karena iman bukanlah hanya dengan membenarkan, melainkan harus pula disertai dengan pelaksanaan oleh anggota badan. Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan. Namun, bukan hanya sekadar membenarkan (meyakini) tanpa melaksanakannya. Kalau iman hanyalah membenarkan saja, tentu iblis, Fir’aun, dll. yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman.” Al-Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun, iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.” [Ash-Shalah, 35-36]

Kesimpulannya sudah sangat jelas, shalat adalah identitas keislaman yang paling penting, pembatas seorang muslim dari kekafiran. Mari kita evaluasi kembali shalat kita, saling menasihati dengan keluarga dan teman-teman kita. Ajak dengan sebaik-baiknya dan penuh hikmah pada mereka yang masih malas-malasan shalat agar kembali menegakkan shalat. Semoga buah kebaikan dari saling menasihati itu kembali pada kita semua.

Wallahu a’lam.

Bahan bacaan:

[1] https://rumaysho.com/2278-pendapat-imam-syafii-mengenai-orang-yang-meninggalkan-shalat.html

[2] https://konsultasisyariah.com/1485-apa-hukum-meninggalkan-sholat-dengan-sengaja.html

[3] https://rumaysho.com/1273-mati-dalam-keadaan-tidak-pernah-shalat.html

Penulis: Ahmad Ridwan T. Nugraha, ditelaah oleh Ustadz Muhammad Azhari.

Buljum 2016.3.25: Masuk Islamnya Bangsa Turk

“Demi Allah, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur di medan perang di jalan Allah ). Kita itu tidak berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”  – Abdullah bin Rawahah di Perang Mu’tah, ketika Pasukan Muslim berhadapan dengan Pasukan Romawi yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Lanjut baca

Buljum 2016.3.18: Identitas Seorang Muslim

Apakah bedanya seorang muslim dengan manusia lainnya? Seorang manusia mendefinisikan dirinya dengan ras, kebangsaan, sebuah identitas yang seorang manusia dapatkan ketika dia lahir dan melekat hingga ajalnya. Seperti orang Jepang yang mendapatkan “identitas”-nya karena dilahirkan oleh orang tua yang berdarah Jepang atau seperti orang Amerika Serikat yang mendapatkan “identitas”-nya karena ia dilahirkan di dalam wilayah Negeri Paman Sam. Di sisi lain, seorang muslim mendefinisikan dirinya dengan sebuah jalan hidup yang telah ia pilih, yaitu Islam.

Lanjut baca

Buljum 2016.2.26: Islam, Cinta Tanah Air dan Nasionalisme

Secara umum, nasionalisme dapat diartikan sebagai suatu semangat kebersamaan yang didominasi karena adanya kesamaan latar belakang geografis dan budaya. Konsep nasionalisme muncul di negara-negara barat sekitar abad ke-18 sebagai respon atas kebutuhan identitas sebuah negara, khususnya sebagai sebuah kesatuan geografis yang mencakup wilayah-wilayah tertentu Lanjut baca

Buljum 2016.1.29: Islam Bukan Agama Prasmanan

Prasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal. Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan. Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”? Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan. Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Lanjut baca

Buljum 2016.1.22: Islam, Pembangunan, dan Bencana Akibat Ulah Manusia

Pada kesempatan kali ini, penulis tertarik untuk mengulas salah satu artikel ilmiah dalam sebuah jurnal yang berkaitan dengan tema riset penulis saat ini, yaitu mengenai konsep pembangunan dan kebencanaan. Menariknya, penulis artikel ini meninjau konsep industrialisasi dan bencana, khususnya bencana yang  diakibatkan oleh manusia, dengan konsep Islam. Sementara riset dalam bidang ilmu pembangunan maupun kebencanaan pada umumnya lebih mengacu kepada konsep teknis administratif. Judul asli artikel ini adalah, “Revisiting the Concept of Development, Disaster and Safety Management: The Quranic Perspective”. Paper ini ditulis Azizan Ramli, Mazlin Mokhtar dan Badhrulhisham Abdul Aziz dan diterbitkan di International Journal of Disaster Risk Reduction.

Lanjut baca

Buljum 2015.12.25: Berislam Secara Kafah

Mungkin kita sering memerhatikan segelintir dari kaum muslimin. Ada di antara mereka yang ketika diingatkan untuk menjalankan syariat tertentu seperti mendirikan shalat atau mengenakan jilbab (bagi muslimah), mereka enggan melakukannya dan malah menanggapi dengan dalih bahwa penampilan luar itu tidak penting selama hatinya bersih. Kita kemudian dihadapkan pada beberapa contoh saudari muslimah yang berjilbab ataupun saudara muslim yang rajin shalat berjamaah tepat waktu tetapi mereka juga berakhlak buruk, kerap berbohong, bergunjing, temperamen, dan perilaku buruk lainnya.

Namun, tentunya menjadi seorang muslim yang memiliki akhlak baik adalah hal yang sangat penting, seperti pentingnya selalu shalat tepat waktu, berpuasa, membayar zakat, dan ritual ibadah lainnya. Demikian pula mengenakan jilbab bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban yang perlu dilaksanakan dan disandingkan dengan ketakwaan serta rasa malu dalam hati mereka. Seluruh aspek ini adalah bagian dari agama kita, bagian dari Islam secara utuh. Jangan sampai kita meninggalkan, mengabaikan, atau menunda satu bagian dari Islam (apalagi yang wajib dilakukan) dengan alasan kita sedang berkonsentrasi pada bagian yang lain. Lanjut baca

BBQ 2015.11.15: Islam itu Rahmat

islamrahmat

Alhamdulillah pada hari Ahad, 15 November 2015, telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi ringkas dari Ustadz Ammi. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini. Jazaakallahu khairan kepada Sdr. Abdurro’uf yang kali ini telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjamu para peserta.

Pada sesi BBQ kali ini Ustadz Ammi mengangkat tema “Islam itu Rahmat”. Pembahasan ini berangkat dari kenyataan bahwa masih banyak di antara masyarakat awam yang menganggap Islam sebagai agama yang berat, pun bagi kaum muslimin sendiri. Padahal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala justru menurunkan syariat Islam sebagai rahmat kepada manusia melalui perantara Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Syariat Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan kita sehari-hari, mengatur Halal dan Haram, dan banyak lagi, yang semuanya tidaklah menyusahkan. Lanjut baca

BBQ 2014.12.28: Istiqomah

istiqamah

Alhamdulillah pada Ahad 28 Desember 2014 telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Sabtu atau Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi dari ustadz. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini.

Setelah di pertemuan sebelumnya Ustadz Ammi membahas proses menuntut ilmu syar’i yang bermanfaat, kali ini beliau membahas istiqomah dan kiat-kiat menggapai istiqomah. Seperti yang kita ketahui, istiqomah biasa dimaknai sebagai “komitmen”, atau konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah dikomitmenkan. Seperti apakah istiqomah dalam tuntunan syariat? Berikut ini rangkumannya.

Makna Istiqomah

Istiqomah secara bahasa bermakna al-i’tidal (lurus). Sementara itu menurut syariat, istiqâmah adalah meniti jalan lurus (agama yang lurus / Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqomah mencakup melakukan seluruh ketaatan, amalan wajib maupun amalan sunnah, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, serta meninggalkan seluruh yang dilarang.

Ada cukup banyak ayat di dalam Al-Quran yang memerintahkan istiqomah. Di antaranya dalam Surat Huud: 112,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَ مَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Maka istiqomahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Surat Huud: 112]

Lanjut baca

Catatan Kajian Mengenali dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia

Alhamdulillah pada hari Senin, 5 Mei 2014, bertepatan dengan salah satu hari libur dalam rangkaian Golden Week di Jepang, KMI-S dapat menyelenggarakan kajian spesial dengan tema “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia.” Kajian ini disampaikan langsung oleh salah satu Ketua harian MUI Pusat, Al-Ustadz (Prof. Dr.) Yunahar Ilyas, yang membidangi Divisi Kajian dan Penelitian MUI Pusat.

kmis-5mei2014

Lanjut baca