Kajian Spesial KMI-S Golden Week 2014: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah

Alhamdulillah, pertemuan dwi-bulanan KMI-Sendai insya Allah akan kembali diadakan pada hari Senin, 5 Mei 2014 (masa liburan Golden Week), pukul 12:00 – 17:00 JST, bertempat di Tohoku University International House 2 Sanjomachi, Sendai. Pertemuan kali ini sangat spesial dengan pemateri Ustadz Prof. Yunahar Ilyas, salah satu pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Insya Allah beliau akan memaparkan materi berkenaan dengan penyimpangan-penyimpangan syi’ah (khususnya di Indonesia) dan cara menyikapinya.

kmis-gw2014

Lanjut baca

Kesuksesan Pemuda Muslim

successKesuksesan merupakan impian semua orang. Kebanyakan orang berpikir sukses dapat ditempuh saat sudah tua atau cukup umur. Namun, anggapan tersebut salah besar. Kesuksesan dapat kita rengkuh kapan saja bahkan saat usia muda. Kesuksesan bukan hanya sekadar sukses dunia, melainkan juga sukses akhirat.

Kesuksesan bukan dilihat dari berapa banyak materi, melainkan proses kesuksesan yang benar dan kebermanfaatan kesuksesan kita bagi dunia luar. Sukses yang hakiki yaitu sukses dengan jalan yang benar dan bukan mengambil segala cara untuk mencapai kesuksesan. Potret pemuda muslim zaman sekarang yang semakin rusak moralnya pasti menghambat untuk mencapai kesuksesan. Padahal, kunci kesuksesan adalah bekerja keras dan berpegang teguh pada Al-Quran serta As-Sunnah. Lanjut baca

Wahai Pemuda nan Himmah, Engkau Dirindukan

Niatku: Taat kepada perintah Allah, “Dan hendaklah kalian berjihad di jalan-Nya” [Q.S. Al-Maaidah: 35]

Semangatku: Berupaya dalam kesungguhan dalam melayani agamaku, agama Allah

Tekadku: Aku akan tekuk lututkan orang-orang kafir dengan tentaraku, tentara Allah

Pikiranku: Terpusat pada pembebasan, atas kemenangan dan kejayaan, dengan kelembutan Allah

Jihadku: Dengan jiwa dan harta dan apa yang tersisa di dunia setelah ketaatan pada perintah Allah

Kerinduanku: Perang dan perang, ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah

Harapanku: pertolongan dan kemenangan dari Allah, dan ketinggian Negara ini atas musuh-musuh Allah

Syair yang mewakili suatu himmah atau kemauan kuat untuk menggapai yang dicitakan, terpatri dalam jiwa seorang pemuda dengan seizin Allah Ta’ala. Siapa yang tidak bergetar hatinya ketika mendengar sosok pemuda yang semenjak usia belia 6 tahun, sudah begitu merindukan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam. Merindu untuk menyaksikan kabar gembira yang Allah Turunkan kepada ummatnya melalui lisan Rasulullah bahwa salah satu kota peradaban besar manusia, Konstantinopel yang bergelar “The Gates of The East and West” atau “The City with Perfect Defense (kini Istanbul)” akan dibebaskan oleh kaum muslimin. Lanjut baca

Paths under the Shade

In the following hadith, the messenger of Allah may peace be upon him narrated the seven categories of Muslim that will be given shelter by Allah The Most Merciful.

There are seven whom Allah will shade in His Shade on the Day when there is no shade except His Shade: a just ruler; a youth who grew up in the worship of Allah, The Mighty and Majestic; a man whose heart is attached to the mosques; two men who love each other for Allah’s sake, meeting for that and parting upon that; a man who is called by a woman of beauty and position [for illegal intercourse], but be says: ’I fear Allah’; a man who gives in charity and hides it, such that his left hand does not know what his right hand gives in charity; and a man who remembered Allah in private and so his eyes shed tears. [Narrated by Abu Hurairah, collected in Sahih al-Bukhari and Sahih Muslim]

The importance of young generation is shown in the Arab spring. We can see that youth incomprehension of international world has become an unprecedented mobilization. Unlike in many Western countries in general, Muslim youth are not looked as a problem population, they are the future of Islam. It is not surprising that Allah The Perfectly Wise gives preferences to righteous young as equal to a just ruler. The impact that can be created by Muslim youth can shake the establishment. [M. A. Bamyeh, Contemporary Sociology: A Journal of Reviews January 2012 vol. 41 no. 1 85-87] Lanjut baca

Qiyamu Al-Lail (Bangun Malam)

Pada perang Salib, Sultan Sallahuddin Al-Ayyubi memilih mereka yang bangun malam sebagai barisan mujahidin garda depan. Orang-orang yang rajin bangun malam itu berhadapan langsung dengan musuh. Hasilnya pasukan muslimin memperoleh kemenangan gemilang mengalahkan pasukan salib. Kemudian kedamaian datang bersamanya.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia berkata: “Bagaimana mata ini dapat tertutup rapat dan tenteram sedangkan ia tak tahu di mana kelak ia akan kembali di antara dua tempat.” Setiap malam, ia bangun bertahajud kepadaNya dan menyendiri denganNya sehingga basah tempat sujudnya oleh air mata. Kegigihan sholat malamnya tiada tara, hasilnya masa kekhalifahannya yang cuma 2,5 tahun, membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan mencari orang yang berhak menerima zakat pun susah ditemukan kala itu. Dua setengah tahun yang sempurna, serasa 25 tahun lamanya.

Sekarang, banyak kalangan merasa umat islam tengah terpuruk. Padahal, dulu islam pernah berjaya, baik di kancah ilmu pengetahuan maupun peradaban. Banyak yang bertanya, kenapa hal ini bisa terjadi? Dan berbagai usaha pun dilakukan oleh berbagai kalangan untuk meraih kembali kejayaan itu. Ada yang menggebu dengan ide kekhalifahan. Ada yang berseru dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Ada pula yang berusaha menguasai jalur – jalur ekonomi dan informasi. Namun, semua itu serasa menemui jalan buntu. Satu hal yang banyak mereka lupakan dalam memperoleh kembali kehormatan dan kemuliaan itu, yaitu tidak menegakkan kembali bangun malam seperti yang dipesankan Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam. Lanjut baca

Kriteria Calon Pasangan

“Lelaki yang terencana tahu persis wanita seperti apa yang dia perlukan, karenanya tak perlu pacaran dengan alasan perkenalan” -Ust. Felix Siauw-

Awalnya adalah Kriteria

Seperti disebutkan dalam kutipan di atas, juga dibahas dalam buku-buku yang memaparkan tentang pernikahan dalam Islam, menyiapkan kriteria calon pasangan adalah termasuk dalam persiapan yang mula-mula. Idealnya, setiap pribadi muslim terutama yang telah baligh dan siap menikah, sudah memiliki visi tentang hidupnya, tentang jalan apa yang akan ia pilih dalam peran menjadi khalifah-Nya. Jadi ilmuwan misalnya, atau pebisnis, atau da’i di pedalaman, atau apa saja yang berada dalam ridha-Nya.

Setelah visi tentang diri mantap terencana, yang ditetapkan selanjutnya adalah visi pernikahan, menentukan tujuan apa yang ingin dicapai bersama pasangan. Dalam pemenuhan tujuan inilah, penetapan kriteria menjadi penting. Analoginya seperti akan membeli komputer misalnya, mengetahui dengan jelas spesifikasi yang dibutuhkan akan membantu kita untuk menghemat waktu dalam memilih produk, juga mencegah kita dari jebakan promosi produk yang tidak diperlukan. Dalam hal mencari calon pasangan, memulainya dengan fokus pada kriteria yang dibutuhkan juga diharapkan akan membantu untuk lebih menjaga kebersihan hati; dibandingkan dengan memulai dengan fokus pada satu sosok yang belum tentu menjadi jodohnya nanti. Lanjut baca

Ilmu

Ilmu, Penting(?)

Kawan-kawan, pernahkah kita berpikir tentang pendidikan yang selama ini sudah kita tempuh? Dalam pendidikan formal, khususnya di Indonesia, kita mengenal jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA, hingga universitas. Sebagian dari kita mungkin sedang menempuh salah satu jenjang pendidikan tersebut. Sebagian lagi bahkan mungkin sudah menyelesaikan jenjang pendidikan hingga mendapat gelar yang bermacam-macam entah doktor, profesor, dan sebagainya. Namun, dari semua pendidikan yang kita tempuh selama ini ilmu apa saja yang sudah kita dapat?

Sebagai seorang muslim, kita mengetahui bahwa menuntut ilmu merupakan suatu keharusan. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” [HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dll]. Tidak hanya itu, menuntut ilmu bahkan dapat dikatakan sebagai jihad bagi seorang muslim seperti difirmankan dalam surat At-Taubah ayat 122:

وَما كانَ المُؤمِنونَ لِيَنفِروا كافَّةً ۚ فَلَولا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرقَةٍ مِنهُم طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهوا فِى الدّينِ وَلِيُنذِروا قَومَهُم إِذا رَجَعوا إِلَيهِم لَعَلَّهُم يَحذَرونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Hal ini juga diperkuat dengan sabda Rasulullah, “Barang siapa keluar dalam rangka thalabul ‘ilmi (mencari ilmu), maka dia berada dalam jalan Allah (fii sabilillah) hingga kembali.” [HR. Tirmizi]

Ilmu Agama? Lanjut baca

Asal bukan babi?

Bismillahirrahmanirrahim,

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[Q.S. Al-Baqarah: 172-173]

Makanan merupakan hal sederhana yang bisa menjadi sangat kompleks ketika kita menyederhanakannya (baca: menyepelekannya), kenapa? Berikut ini kami uraikan secara ringkas agar menjadi pengingat bagi kita semua. :) Lanjut baca

Pergerakan Islam dan “Creative Minority”

Untuk rekan-rekan KMI-S yang insyaAllah mendambakan kejayaan dan kemajuan Islam, mendambakan semakin mendominasinya kebaikan /al-Haq diatas kebathilan, dalam tulisan ini akan diberikan beberapa kutipan dari buku Dr. Umar Chapra yang bisa dikunjungi pada laman Muslim Civilization: Causes of Decline and the Need for Reform. Kita coba ambil juga pelajaran yang sesuai dengan kondisi kita saat ini.

Di bab terakhir berjudul “The Need for Reform” beliau memberikan subjudul “The Role of Islamic Movements”. Singkatnya dalam poin-poin berikut ini:

Their first and foremost priority needs be to educate people about the high moral standards that Islam expects from its followers.

This is the stepping-stone for the Islamization of their societies, without this, the light that they wish to project to their societies will not have the lustre that is needed. (lustre = kilau)

The Islamic state they wish to establish is not possible without the minimum level of moral uplift that Islam envisages.

If they can succeed in changing the character of a sufficient minority, the rest will tend to follow.

– The Qur`an states: “How often has a small group overcome, by the will of God, a large one” / (wa kam min fi-atin qoliilatin gholabat fi-atan katsiratan bi-idznillah) [QS Al Baqarah ayat 249]

– Toynbee has also asserted that: “All growth originates with creative individuals or small minorities of individuals, and their tasks is… the conversion of the society to this new way of life.” (dari buku Toynbee, Arnold J. (1957), A Study of History, abridgement by D.C. Somervell (London: Oxford Univ. Press).

Once the creative minority has shown its worth, the rest of the people will find it worthwile to follow them.

The immediate task of the Islamic movements is, therefore, to establish their worthiness, and to gain respect and regard for themselves among not only their own masses but also around the world. Lanjut baca

Sikap muslim dalam bekerja dan berusaha

Dalam bekerja dan berusaha, apapun profesinya dilarang menyulitkan dan membuat masalah kepada orang lain. Alasannya adalah dampak kedzaliman yang terjadi dalam bekerja dan berusaha dapat merugikan orang banyak secara umum maupun merugikan individu.

Salah satu contoh yang termasuk dzalim yang potensial merugikan orang banyak adalah penimbunan bahan makanan, “Siapa saja yang menimbun makanan selama 40 hari, lalu menjualnya dengan harga mahal, sungguh ia telah mendurhakai Allah dan Allah pasti akan murka padanya.” Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Manshur ad-Dailami dlm musnad al-firdaus dari Ali bn Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Lanjut baca