Buljum 2016.6.3: Sungai-Sungai Surga di Dunia

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

فُجِّرَتْ أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ مِنَ الْجَنَّةِ: الْفُرَاتُ، وَالنِّيلُ، وَسَيْحَانُ، وَجَيْحَانُ

“Ada empat sungai yang dialirkan dari surga, yaitu sungai Efrat, Nil, Saihan dan Jaihan.” [HR. Ahmad]

Sungai adalah sebuah fitur geografis dan keindahan alam yang sangat penting bagi manusia di dunia. Di akhirat pun, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, suatu ciri khas dari surga yang sangat ditekankan adalah sungai-sungai yang mengalir dibawahnya (jannatin tajri min tahtihal anhar). Ada berbagai ayat di dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan mengenai ciri-ciri sungai di surga. Di antaranya, sungai yang mengalirkan berbagai kelezatan seperti susu, madu, dan khamr. Lanjut baca

Buljum 2016.4.29: Ajaibnya Doa

Sebagai manusia, tentu kita sering menghadapi berbagai macam permasalahan di dalam hidup kita. Bahkan mungkin pernah suatu permasalahan terasa amatlah besar, sampai-sampai kita merasa bahwa kita tidak punya daya dan upaya lagi untuk keluar darinya. Saudara-saudariku, jika kita mengalami hal seperti ini, ingatlah, sesungguhnya kita masih bisa membuka pintu langit dengan doa-doa kita. Ingatlah, sesungguhnya kita masih memiliki Rabb yang Maha Mampu untuk mengabulkan doa-doa kita tersebut. Lanjut baca

Buljum 2016.4.8: Pelajaran dari Mu’adz bin Jabal

Pada suatu hari di masa-masa akhir kehidupan Rasulullah ﷺ, beliau ﷺ berbicara dengan seorang pemuda yang hendak dikirim ke Yaman untuk menyebarkan dakwah islam. Dialog tersebut adalah mengenai salah satu dasar dalam penentuan tingkatan hukum islam yang berdasarkan pada Kitabullah Al-Quran, Sunnah Rasul dan Ijtihad Ulama Salafush-Shalih. Pemuda tersebut ialah Mu’adz Bin Jabal.

Lanjut baca

Buljum 2016.4.1: Pasangan yang Membawa Keberuntungan Pernikahan

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

تُنْكَحُ المَرْأةُ لأَرْبَعِ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وجَمَالِهَا ولِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذاتِ الدين تَرِبَتْ يَدَاك

“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, kau) termasuk orang yang merugi.” [HR. Bukhari 5/1958]

Lanjut baca

Buljum 2016.3.25: Masuk Islamnya Bangsa Turk

“Demi Allah, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur di medan perang di jalan Allah ). Kita itu tidak berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”  – Abdullah bin Rawahah di Perang Mu’tah, ketika Pasukan Muslim berhadapan dengan Pasukan Romawi yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Lanjut baca

Buljum 2016.1.8: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Biruni dan Ibnu Sina, serta Perannya Dalam Astronomi dan Astrologi

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas sedikit mengenai sejarah seorang ilmuwan Muslim zaman dahulu (Muhammad bin Musa Al Khwarizmi). Kali ini, insya Allah saya ingin membahas ilmuwan lain yang berasal dari daerah yang sama, tetapi dari zaman setelahnya, yaitu Abu Rayhan Biruni (ابوریحان بیرونی, biasa ‎‎disebut Al-Biruni, berarti “dari pinggiran kota”, yang dimaksud adalah kota Kats di Khwarazm) dan Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Al-Hasan bin Ali bin Sina (biasa disebut Ibnu Sina, keturunan Sina, atau Avicenna oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa abad pertengahan).

Al-Biruni lahir sekitar tahun 973 M, sementara Ibnu Sina lahir di 980 M. Keduanya berasal dari daerah yang sekarang termasuk di Negara Uzbekistan; Al-Biruni berasal dari daerah Khwarazm dan Ibnu Sina berasal dari daerah Bukhara. Pada masa mereka lahir, wilayah ini termasuk dalam kekuasaan Kekaisaran Samaniyah yang berbangsa Iran, tetapi beribukota di Asia Tengah – ketika Ibnu Sina lahir, ibukotanya di Bukhara. Pada masa itu, mayoritas Bangsa Iran masih menganut akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan mengakui kekhalifan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Lanjut baca

Buljum 2016.1.1: Mengingatkan dari Kekufuran

Perbuatan seperti apakah yang termasuk ke dalam kekufuran? Apakah aqidah yang salah berarti kufur? Seperti apakah aqidah yang benar? Aqidah umat Islam Sunni (ahlussunnah waljamaah) pun sangat luas variasinya. Satu hal yang menyatukan Sunni adalah ijma bahwa Sahabat adalah umat terbaik yang telah membawa Islam dan sunnah Rasulullah ﷺ kepada kita. (Yasir Qadhi)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya. Karena itu kita harus berhati-hati dalam mengkafirkan orang lain.

Lanjut baca

Buljum 2015.12.18: Korupsi pada Zaman Rasulullah

Tahukah kita bahwa setiap tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti-korupsi Sedunia atau International Anticorruption Day? Peringatan ini sebagai bentuk tindak lanjut dari mandat United Nations Convention Against Corruption yang di keluarkan pada tanggal 31 Oktober 2003. Tujuannya adalah sebagai kampanye untuk memerangi segala bentuk tindakan dan perilaku korupsi di seluruh dunia. Saat ini, kita bisa melihat sendiri terutama di Indonesia, praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) marak dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintahan, bahkan dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu. Dalam Islam, terdapat banyak istilah dimulai dari Ghulul (Penggelapan), Risywah (Penyuapan), Ghasab (Mengambil Paksa Hak/Harta Orang Lain), Khianat, Sariqah (Pencurian), Hirabah (Perampokan), Al-Maks (Pungutan Liar), Al-Ikhtilas (Pencopetan), dan Al-Ihtihab (Perampasan). Agama Islam melarang segala praktik korupsi, dan hukumnya adalah haram sesuai dengan aklamasi dan konsensus (ijma’) dari para ulama fiqih. Secara naluriah, kita tentu paham bahwa korupsi adalah perbuatan dosa yang dilaknat oleh Allah ﷻ sebagaimana firman-Nya dalam surat Ali-Imran ayat 161. Lanjut baca

Buljum 2015.12.4: Perjalanan Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran

Salman Al-Farisi adalah seorang laki-laki keturunan Persia dari Asfahan (daerah di Iran). Dia tinggal di sebuah kampung bernama Jayy bersama ayahnya. Salman sangat dicintai oleh ayahnya. Betapa sayangnya sang ayah pada Salman sampai-sampai Salman dikurung di dalam rumah untuk senantiasa duduk dekat dengan api dan membaktikan diri dalam agama Majusi, di mana dalam agama tersebut api perlu dijaga terus menerus agar tidak padam.

Ayah Salman memiliki kebun yang sangat besar. Suatu hari sang ayah sibuk bekerja di rumah dan dia memerintahkan Salman untuk keluar mengurus kebun tersebut. Dalam perjalanannya menuju kebun, Salman melalui satu gereja Nasrani dan dia mendengar suara mereka beribadah. Salman yang tidak pernah keluar rumah menjadi penasaran dan melihat apa yang mereka lakukan. Salman pun kagum dengan ibadah yang dilakukan oleh orang Nasrani dan merasa agama tersebut lebih benar dari agama Majusi yang dia anut. Kemudian dia bertanya pada orang Nasrani yang ia temui, “Di mana aku bisa belajar agama ini?” Mereka berkata “Di Syam.” Dia pun menceritakan kekagumannya akan agama Nasrani pada ayahnya. Ayahnya merasa khawatir sehingga mengikat Salman dengan rantai-rantai besi dan dikurung lagi di rumah.

Sampai suatu hari Salman mendapat kabar bahwa ada rombongan pedagang yang akan berangkat menuju Syam dari desanya. Rasa cinta Salman yang besar akan kebenaran mendorong dia untuk meninggalkan ayahnya. Salman pun melepaskan rantai-rantai besi pengikatnya dan bergabung dengan rombongan tersebut menuju Syam.

Lanjut baca