Buljum 2015.10.30: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Khwarizmi

Menurut sebuah hadits dari Anas radhiyallahu ’anhu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Perintah ini mendorong umat Islam di berbagai masa untuk menuntut berbagai macam ilmu (semoga ini menjadi pengingat bagi kita yang sedang merantau untuk menuntut ilmu, termasuk penulis, untuk meluruskan niat kita mencari ilmu). Sehingga pada zaman dahulu, dunia Islam pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia, dengan para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia datang berguru menuntut ilmu ke kota-kota umat Islam. Khususnya untuk ilmu-ilmu duniawi, banyak ahli sejarah memandang zaman Kekhalifahan Abbasiyah (abad ke-2–7 H / 8–13 M) sebagai puncaknya.

Lanjut baca

Buljum 2015.9.25: Mengambil Hikmah dari Sebuah Pengorbanan

Kamis, 24 September 2015, atau 10 Dzulhijjah 1436 H yang lalu kita telah sama-sama merayakan Idul Adha.  Hari dimana kita berkurban, berbondong-bondong menunjukkan ketaatan kita pada Allah ﷻ. Berbondong-bondong kita lepaskan ikatan dengan harta yang kita cintai demi ketaatan pada Allah ﷻ. Kita rela mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli hewan kurban, yang berlipat harganya dibanding hari-hari lainnya. Karena semua itu bukan karena uang, akan tetapi upaya untuk menunjukkan ketaatan pada-Nya, Sang Robb Semesta Alam.

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu  dan sembelihlah kurban.” [QS. Al-Kautsar: 1-2]

Lanjut baca

Buljum 2015.8.21: Pernikahan Nabi Musa ‘Alayhissalam

Banyak kisah mengenai kaum terdahulu tertulis dalam Al-Quran untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia, khususnya umat muslim. Bahkan Rasulullah ﷺ juga mendapat pelajaran dari kisah para nabi terdahulu “…Musa menderita lebih dari ini namun dia sabar” (HR Muslim 5: 2315). Kita sebagai bagian dari umat muslim juga harus mencari hikmah dari kisah-kisah nabi terdahulu yang Allah ceritakan dalam Quran. Salah satu dari sekian banyak ceritera tersebut adalah kisah pernikahan Nabi Musa as, yang terangkum dalam surah Al-Qasas ayat 14-28.

Lanjut baca

Buljum 2015.8.14: Semangat Sang Kakek dan Syiar Islam Melalui Shalat Berjamaah

Sendai, suatu pagi di musim dingin, alhamdulillah, Jepang diguyur salju lebat sejak semalam yang lalu. Hujan salju ini mungkin yang terlebat dalam beberapa belas/puluh tahun terakhir untuk beberapa kota besar. Saat itu dilaporkan di sebuah koran, di area Kanto ketebalan rata-rata salju bisa mencapai 20-30 cm, sedangkan di area Tohoku (Sendai termasuk di dalamnya) ketebalan salju bisa mencapai 40 cm, rekor tersendiri untuk area ini.

buljum-20150814-1

Sambil membaca informasi dari koran tersebut, sekitar pukul lima pagi, di tempat menunggu biasanya, si Fulan sudah pesimis bertemu dengan sang kakek. Maklum saja, salju setebal 40 cm di jalanan yang masih sepi belum tergerus arus lalu lintas pagi rasanya agak mustahil diterobos mobil sang kakek. Hampir saja Fulan kembali ke rumah, sambil berpikiran bahwa salju ini bisa menjadi udzur untuk tidak memenuhi panggilan Sang Khaliq di rumah-Nya. Entah sudah keberapakalinya si Fulan mencari-cari udzur untuk tidak turut berangkat bersama sang kakek.

Lanjut baca

Buljum 2015.8.7: Ekspedisi Ilmu Musa (2): Berburu Mutiara Hikmah

Terkadang pengetahuan dan hikmah tak dapat kita cerna dalam benak, sebagaimana mikroba tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Untuk melihat ilmu dalam berbagai konteks kehidupan, diperlukan kacamata khusus. Hal inilah yang dimiliki Khadir dan tidak dimiliki Musa Selama perjalanan, kedua nabi Allah berjalan menyusuri padang hikmah dan lautan ilmu.

 Mari kita berjalan mengiringi tapak mereka di kisah pertama.

Musa dan Khadir menumpang sebuah perahu orang miskin, yang tak meminta upah akomodasi.

فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khadir melobanginya.  Musa berkata, ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’” (QS. Al-Kahfi: 71)

Untuk pertama kalinya, Musa melanggar janjinya untuk tidak mempertanyakan tindak-tanduk Khadir.

Lanjut baca

Buljum 2015.7.31: Ekspedisi Ilmu Musa (1): Bertolak ke Pertemuan 2 Lautan

Ilmu merupakan anugerah bagi mereka yang meresapinya sampai hati. Sebaliknya, adalah petaka bagi mereka yang menjadi congkak karenanya. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khadir dalam surat Al-Kahfi merupakan lumbung hikmah, bagaimana seorang hamba menyikapi ilmu.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, disebutkan bahwa suatu ketika Nabi Musa ditanya oleh seorang Bani Israil mengenai siapa orang yang paling pintar di muka bumi. Tanpa ragu beliau menjawab, “Akulah manusia yang paling pandai.”

Jawaban tersebut masuk akal, mengingat beliau adalah pemimpin Bani Israil dan kepadanya diturunkan Kitab Taurat secara langsung dari Yang Maha Mengetahui. Pernyataan Musa tersebut membuahkan teguran dari Allah, dalam sebuah hadits qudsi, “Wahai Musa, Aku mempunyai seorang hamba yang saleh dan alim melebihi pengetahuan-pengetahuan yang ada padamu. Dia berada di suatu tempat pertemuan dua lautan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.’” (QS. Al-Kahfi : 60)

Lanjut baca

Hijrah, kaum Suffah, dan sifat dermawan

Ketika Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam tiba di Yatsrib (Madinah), beliau dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi karena sebagian besar muslim yang hijrah ke Madinah datang tanpa sedikit pun membawa harta mereka. Memang benar sebagian dari mereka adalah pedagang dengan kekayaan yang tidak sedikit, tetapi dalam keadaan yang tertekan oleh Quraisy mereka tidak dapat membawa serta harta mereka.

Untuk mengatasi persoalan ini, Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam mengambil beberapa langkah strategis. Pertama, kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Makkah menuju Madinah) akan dipersaudarakan dengan kaum Anshar (warga asli Madinah). Kaum Anshar kemudian memberikan kaum Muhajirin tempat bernaung dan makanan. Namun, jumlah kaum Muhajirin terus bertambah di luar kemampuan kaum Anshar memberikan akomodasi bagi saudaranya ini. Solusi lainnya dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Lanjut baca

Perspektif Jarum

Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa memarkir sebuah baju. Bukan karena usianya yang sudah usang, sebab menurut ukuran saya dia termasuk salah satu baju saya yang tergolong baru. Bukan juga karena sobek atau rusak. Ia masih bagus luar-dalam. Juga bukan karena ketinggalan mode. Ia masih pantas sekali, baik warna maupun modelnya. Hal kecil yang menyebabkan itu semua, yaitu ketika beberapa buah kancingnya lepas. Apa arti sebuah baju tanpa kancing bajunya alias benik? Tentu jadi bahan omongan orang, kalau tidak mau wirang (malu). Sebab pakai baju, tapi bledeh (terbuka dan kelihatan dadanya, karena tidak ada kancingnya).

Maka, acara saya selanjutnya adalah mencari cara untuk memasang kembali kancing-kancing yang terlepas itu. Teorinya mudah, tinggal cari benang, masukkan ke jarum dan menjahitnya kembali kancing – kancing yang lepas itu ke tempatnya. Itu teori. Masalahnya di rumah saya tidak ada jarum dan benang yang saya butuhkan. Oleh karenanya, target berikutnya adalah berburu benang dan jarum.

Tanpa sengaja saya berhasil menemukan seperangkat jarum dan benangnya di laci meja kantor saya. Aneh, kok ada di situ? Ingat – ingat, asesoris itu saya ambil ketika nginap di salah satu hotel bintang di bilangan Palembang, Sumatera Selatan. Iseng memang, tapi ternyata berguna. Setidaknya untuk saat ini, untuk memasang kembali benik baju saya. Selanjutnya saya persiapkan diri untuk segera memasangnya. Saya ambil jarum dan memilih benang yang sesuai dengan warna baju saya. Ada beberapa benang yang tersedia di situ, dan benang hitam menjadi pilihan utama. Lanjut baca

Awas keledai!

keledaiNasi sudah menjadi bubur, entah mengapa hewan yang satu ini identik dengan sebuah kedunguan. Orang sering menyebut namanya, sekedar untuk mengatakan sebuah kebodohan. Orang sering memakai namanya untuk melampiaskan ketololan. Banyak kesalahan dan kejelekan yang tidak ia perbuat, tetapi dialamatkan kepadanya. Dasar keledai! Begitulah yang sering telinga kita dengar selama ini, walau banyak juga di antara kita yang belum melihat seperti apa hewan ini.

Mungkin dari rupanya yang imut, tubuhnya yang tidak gede-gede amat, tinggi semampai – semeter tak sampai, dan polahnya yang lamban-gemulai, itulah yang mendorong menjadikannya sasaran tembak. Orang seenaknya berprasangka, padahal dia punya peran besar dalam perjalanan sejarah umat manusia, sebagaimana tersebut di dalam Kitabullah:

Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
[QS An-Nahl: 7-8]

Juga sejak kapan label itu disematkan kepadanya, tak tercatat dalam sejarah. Sebut saja kisah Nasrudin, tokoh sufi di zamannya, ketika bertemu dengan Timur Lenk. Ksatria Mongol yang meluluhlantakkan dinasti Islam itu menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Tanpa bermaksud menggurui, apalagi tersinggung, Nasrudin menerimanya dengan senang hati hadiah keledai tersebut sekalipun dengan tugas yang berat karena Timur Lenk berkata, “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali kemari, dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah binatang dungu ini bisa membaca?” Lanjut baca

Satu lagi remaja Jepang masuk Islam

Namanya Miura-san, asli orang Sendai. Pertama kali penulis berkenalan dengannya tiga bulan yang lalu. Saya kaget karena umurnya masih 18 tahun. Umur yang sangat ideal untuk berfoya-foya. Namun, pencari kebenaran ini haus sekali akan informasi tentang Islam. Dia datang ke masjid berjalan kaki dengan masih memakai seragam SMA. Saya tanya bagaimana kamu menemukan Masjid Sendai?

Saya berbincang-bincang dengannya seputar mengapa dia tertarik masuk Islam. Sejak duduk di TK dia sudah tertarik dengan cerita tentang sejarah, ya sejarah apa saja. Setelah masuk SD, mulailah dia mengenal pelajaran sejarah lebih terperinci. Begitu masuk SMP dia mulai tertarik dengan sejarah Islam. Demikian juga setelah masuk SMA dia tekuni pelajaran tersebut. Lanjut baca