• Home
  • Fiqih
  • Shalat bagi wanita yang sedang menunggu proses kelahiran
Fiqih Tanya KMIS

Shalat bagi wanita yang sedang menunggu proses kelahiran

A contestant of the Muslimah World pageant holds a copy of the Koran (C) while they prepare backstage for the grand final of the contest in Jakarta on September 18, 2013. The finale of a beauty pageant exclusively for Muslim women will take place in the Indonesian capital on September 18, in a riposte to the Miss World contest in Bali that has drawn fierce opposition from Islamic radicals. AFP PHOTO / ADEK BERRYADEK BERRY/AFP/Getty Images

Bagaimana hukum maupun teknis shalat bagi wanita yang sedang menunggu proses kelahiran (detik-detik ketika bukaan)? Apakah sebaiknya dijamak, qadha, atau boleh shalat sambil berbaring?

Jawaban oleh Ustadz Fata Fahmi:

Bismillaah walhamdulillaah washshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah. Amma ba’du.

Syaikh Khalid Al-Musyaiqih hafizhahullah pernah ditanya dalam permasalahan yang mirip. Kami kutipkan terjemahannya berikut ini. Beliau hafizhahullaah ditanya:
“Jika sudah masuk waktu shalat, sedangkan seorang wanita hamil sudah mulai pembukaan atau sudah melahirkan. Apa yang mesti ia lakukan?”

Jawab:
“Jika sudah masuk waktu shalat, dan ia sudah mulai pembukaan, maka ia tetap shalat sesuai dengan keadaannya (red: kemampuannya). Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“bertaqwalah kepada Allah semampu kalian” (QS. At Taghabun: 16)

Ukuran sesuai keadaan/kemampuan ini adalah, ketika masih bisa berdiri, silakan shalat berdiri. Jika tidak bisa lagi berdiri, silakan shalat sambil duduk. Jika tidak memungkinkan juga, silakan shalat sambil berbaring.

Namun, perlu diperhatikan jika sudah keluar darah, dan umumnya wanita hamil yang sudah pembukaan pasti akan keluar darah mendekati waktu melahirkan, saat itu pula sudah terhitung nifas dan gugur kewajiban shalat baginya. Hanya saja shalat yang belum sempat dilakukan ketika datangnya nifas itu wajib diqadha segera setelah suci.

Seputar kemungkinan menjamak atau qashar shalat saat menjelang melahirkan, maka ini permasalahan yang lain. Pada dasarnya qashar shalat itu spesial hanya bagi musafir sehingga secara umum ibu hamil yang akan melahirkan (maupun pihak-pihak lain yang bukan musafir) tidak mendapat keringanan qashar. Namun untuk jamak shalat itu boleh dilakukan seorang yang mukim (termasuk ibu hamil) ketika ada kebutuhannya, tidak terbatas pada kondisi safar.

Wallahu A’lam.

Video fatwa Syaikh Khalid Al-Musyaiqih:
https://youtu.be/Q06BfkHqLwY
Beliau adalah doktor spesialisasi fiqh di Fakultas Syari’ah Universitas Al-Qassim (Qassim University / جامعة القصيم), Arab Saudi.

Lihat juga:
https://muslimah.or.id/4776-shalat-seorang-wanita-ketika-akan-melahirkan.html
https://konsultasisyariah.com/61-shalat-jamak.html
https://konsultasisyariah.com/3894-tentang-menjamak-qashar-shalat.html

 

*Ustadz Fata Fahmi merupakan Ketua Bidang Ibadah Keluarga Masyarakat Islam Indonesia sekaligus staf pengajar di Sekolah Republik Indonesia Tokyo

Related posts

Tanya KMIS: Menyumbangkan Mushaf Al-Qur’an Yang Sudah Tak Terpakai

KMI Sendai

Tanya KMIS: Bolehkah Shalat Jumat Hanya Dengan Dua Orang dan Tidak Dilaksanakan Di Masjid?

KMI Sendai

Tanya KMIS: Bagaimana jika terlanjur memberikan makanan yang tidak halal kepada kawan?

KMI Sendai

Leave a Comment

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.