• Home
  • Ibadah
  • Shalat dalam kendaraan atau berhenti dulu di tempat terbuka
Ibadah Tanya KMIS

Shalat dalam kendaraan atau berhenti dulu di tempat terbuka

Manakah yang lebih baik, shalat di dalam kendaraan (mobil/bus/kereta/pesawat/kapal) atau berhenti dulu di tempat terbuka (keluar dari kendaraan) saat sedang dalam perjalanan?

Jawaban oleh Ustadz Fata Fahmi:

Bismillaah walhamdulillaah washshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah. Amma ba’du.

Mengenai shalat wajib di perjalanan atau saat safar, pada dasarnya seorang muslim tetap dituntut untuk mengerjakannya secara sempurna memenuhi syarat dan rukun shalat. Jika shalat wajib/fardlu (bukan shalat sunnah) di atas kendaraan dapat dilakukan dengan berdiri (bukan duduk), kemudian bisa rukuk dan sujud, serta menghadap kiblat, maka tidak ada masalah sedikit pun untuk shalat di kendaraan.

Namun, jika shalat secara sempurna (memenuhi syarat dan rukun shalat) di atas kendaraan tidak memungkinkan, maka tidak diperbolehkan shalat wajib di kendaraan kecuali terpenuhi dua syarat:

1. Khawatir keluar/habis waktu shalat sebelum sampai di tujuan.

2. Tidak mungkin baginya untuk menghentikan kendaraan sejenak untuk shalat (seperti dalam kendaraan umum, pesawat, kereta, dan semisalnya).

Dengan demikian, ada kelonggaran untuk tidak memenuhi syarat/rukun shalat semacam menghadap kiblat maupun berdiri ketika memang kita benar-benar terpaksa shalat wajib di atas kendaraan (karena kalau tidak begitu justru dikhawatirkan akan meninggalkan shalat wajib atau bahkan shalat di luar waktunya). Dalam kondisi tersebut, lakukanlah shalat wajib semampu kita di, atas kendaraan, semaksimal mungkin memenuhi rukun-rukun shalat (terlepas adanya rukun yang ditinggalkan akibat shalat di atas kendaraan).

Tips: Beberapa maskapai penerbangan memberi kelonggaran bagi penumpangnya untuk shalat sambil berdiri. Jika masuk waktu shalat wajib di atas pesawat sementara kita belum shalat, ada baiknya bertanya terlebih dahulu pada awak kabin apakah diizinkan untuk shalat di sela-sela ruang kosong pesawat yang memungkinkan badan kita shalat “nyaris sempurna” (meski tidak menghadap kiblat). Jika tidak diizinkan, barulah kita shalat sambil duduk di atas kursi pesawat.

Lihat juga: https://konsultasisyariah.com/14796-tata-cara-shalat-di-atas-kendaraan.html

*Ustadz Fata Fahmi merupakan Ketua Bidang Ibadah Keluarga Masyarakat Islam Indonesia sekaligus staf pengajar di Sekolah Republik Indonesia Tokyo

Related posts

Tanya KMIS: Bolehkah Shalat Jumat Hanya Dengan Dua Orang dan Tidak Dilaksanakan Di Masjid?

KMI Sendai

Tanya KMIS: Bolehkah memberikan makanan yang tidak halal kepada kawan non-muslim?

KMI Sendai

Shalat bagi wanita yang sedang menunggu proses kelahiran

KMI Sendai

Leave a Comment

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.