• Home
  • Tanya KMIS
  • Tanya KMIS: Menyumbangkan Mushaf Al-Qur’an Yang Sudah Tak Terpakai
Tanya KMIS

Tanya KMIS: Menyumbangkan Mushaf Al-Qur’an Yang Sudah Tak Terpakai

Bulan September (dan Maret) adalah musim wisuda, sekaligus musim kepulangan bagi banyak mahasiswa Indonesia di Jepang. Memasuki bulan-bulan ini, banyak Muslim yang “menyumbangkan” mushaf Alquran dan sajadah ke masjid. Saya beri tanda kutip karena sebetulnya lebih terkesan untuk memindah tangankan barang yang tidak muat di koper dan bisa dicari yang baru lagi sepulang ke Indonesia. Bagaimana baiknya menyikapi hal ini sebagai jamaah masjid yang tidak ikut melakukannya? Dan bagaimana seharusnya menyikapi mushaf Alquran yang sudah tidak terpakai (tidak bisa dibawa lagi di koper karena terlalu penuh dengan barang lain) dan tidak ada yang mau menerimanya?

Jawaban:

Bismillaah, Alhamdulillaah wash sholaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah.

Alhamdulillah dengan bertambahnya jumlah warga indonesia terdidik hingga sarjana baik jenjang master bahkan doktor, semoga ilmu yang didapat menjadi ilmu yang bermanfaat baginya dan kaum muslimin di dunia ini maupun di akhirat.

Mengenai memberikan sumbangan dalam bentuk barang ke masjid tentu adalah kebaikan dan dapat termasuk ke dalam sedekah secara umum yang berarti segala bentuk amal baik yang berguna bagi orang lain atau bahkan bagi diri sendiri.

Dalam hal ini perlu memperhatikan agar sedekahnya bernilai ibadah untuk menghindari kesalahan berikut ini:
– Bersedekahnya tidak ikhlas, hanya untuk riya (agar dilihat) dan sum’ah (agar didengar), atau menumbuhkan sikap ujub (merasa bangga diri).
– Bersedekah hanya mengharapkan ganti dunia
– Mengungkit-ungkit sedekahnya dan menyakiti penerimanya
– Tidak merahasiakan sedekah
– Tidak bersedekah saat badan sehat dan merasa sayang dengan hartanya

Dengan itu hendaknya pemberi sedekah / sumbangan memerhatikan kondisi dirinya sendiri dulu dalam niatan memberikan sedekah / sumbangannya dalam bentuk barang dan atau uang, apalagi untuk masjid.

Selanjutnya juga mempertimbangkan kebutuhan yang akan menerima sumbangannya apakah pihak penerima benar-benar memerlukan sumbangan yang akan kita berikan sehingga sumbangan ini tepat sasaran. Dan sebaiknya sesuatu yang kita sumbangkan adalah sesuatu yang paling kita cintai, yang kita merasa sayang dengan barang itu sebagaimana firman Allah pada Surat Al Imran ayat ke 92 :

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Sebaliknya untuk pihak penerima, jika sebagai lembaga, dapat saja membuat ketentuan standar sumbangan yang diterima untuk lembaga tersebut baik kriteria jumlah maupun spesifikasinya. Adakalanya sesuatu yang akan disumbangkan kepada lembaga tersebut di luar kebutuhan lembaga sehingga lembaga ini bisa saja menolak pemberian mengacu pada standar yang dibuat.

Terkait pemberian Al Qur’an dan Sajadah ataupun sejenisnya ke Masjid dapat mengacu pada batasan-batasan di atas. Apakah pihak pemberi benar-benar sudah memahami kebutuhan masjid terhadap barang-barang tersebut, apakah barang-barang tersebut memenuhi standar untuk diberikan. Begitupun pihak masjid dapat saja menolak pemberian jika yang diberikan adalah sesuatu yang tidak diperlukan masjid mengacu pada standar yang sudah dibuatnya

Fakta lainnya di kita, terkadang kondisi Masjid mengalami kelebihan stok Al Qur’an atau sebaliknya Al Qur’an yang ada di Masjid kondisinya sudah tidak layak, rusak, atau robek hilang beberapa halamannya.
Ketika ada pihak yang ingin memberikan Al Qur’an kepada Masjid, maka pihak Masjid bisa melihat apakah Al Qur’an yang diberikan dapat memenuhi kebutuhan masjid, atau apakah Al Qur’an yang akan diberikan sesuai dengan standar yang ditetapkan masjid sehingga terpenuhi kebutuhannya.

Bila yang terjadi adalah ketidaksesuaian antara kebutuhan dan penawaran lalu bagaimana dengan Al Qur’an tersebut apakah dapat dimusnahkan? Jika memang kondisinya mengharuskan Al Qur’an tadi dimusnahkan maka dapat dilakukan pilihan dari dua cara yang ada dalam hal memusnahkan Al Qur’an namun tetap menjaga kemuliaannya yaitu dengan cara dikubur dalam tanah sebagaimana keterangan mazhab hanafi dan hambali, atau dengan cara dibakar sesuai pendapat malikiyah dan syafiiyah mengikuti yang pernah dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan.

Wal Hamdulillaah. Wafaqaniyallah wa iyyakum.

Bacaan lebih lanjut:

Kesalahan dalam Bersedekah (1)

Kesalahan dalam Bersedekah (2)

Beda Zakat, Sedekah, Infak, Hibah, dan Hadiah

Cara Membuang Mushaf Alquran yang Tidak Terpakai

Dijawab oleh Ustadz Fata Fahmi (Ketua Bidang Ibadah Keluarga Masyarakat Islam Indonesia)

Related posts

Tanya KMIS: Bolehkah Shalat Jumat Hanya Dengan Dua Orang dan Tidak Dilaksanakan Di Masjid?

KMI Sendai

Tanya KMIS: Bolehkah memberikan makanan yang tidak halal kepada kawan non-muslim?

KMI Sendai

Tanya KMIS: Bagaimana jika terlanjur memberikan makanan yang tidak halal kepada kawan?

KMI Sendai

Leave a Comment

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.