Bab 1: Kategori Tauhid

Secara harfiah, tauhid berarti “penyatuan” atau “penegasan akan keesaan”. Tauhid berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab, wahhada, yang berarti menyatukan atau mengesakan. Secara khusus, ketika tauhid digunakan merujuk pada Allah, maknanya adalah menyadari dan menjaga keesaan Allah yang berbeda dari perbuatan-perbuatan manusia, baik itu yang secara langsung berhubungan atau tidak berhubungan dengan Allah.

Penggunaan istilah tauhid dalam ilmu keislaman berawal dari peristiwa dikirimnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ke Yaman pada tahun 9 H. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam berkata pada Mu’adz, “Engkau akan berangkat menuju (negerinya) kaum Nasrani dan Yahudi (Ahlul Kitab), maka hal pertama yang harus engkau ajak dari mereka adalah penegasan akan keesaan Allah Ta’ala (yuwahhiduu Allah).” [HR Bukhari No. 469] Dari hadits ini, istilah “tauhid” (yang merupakan kata benda) diturunkan berdasarkan kata kerja “yuwahhidu“.

Tauhid merupakan keyakinan bahwa Allah adalah Esa, tanpa sekutu dalam kekuasaan-Nya (Rububiyah), tanpa kesamaan dari siapapun dalam nama maupun sifat-sifat-Nya (Asma was-Shifat), dan tanpa sekutu dalam keilahian maupun dalam peribadatan (Uluhiyah/Ibadah). Ketiga aspek ini tak terpisahkan satu sama lainnya dan pengabaian terhadap salah satunya dapat berdampak pada penyimpangan dalam keimanan serta peribadatan. Penyimpangan dari tauhid dikenal dengan istilah “syirik” (penyekutuan), yaitu menambah-nambahkan pihak lain untuk disembah ataupun diyakini sebagai kekuatan yang agung yang mempengaruhi kondisi manusia dan alam semesta.

Kategorisasi tauhid yang disepakati mayoritas ulama mencakup:

  1. Tauhid ar-Rububiyah (secara harfiah berarti “mengesakan Allah dalam kekuasaan-Nya”), yaitu menegaskan bahwa Allah adalah Esa, tanpa sekutu dalam menciptakan alam semesta.
  2. Tauhid al-Asma was-Shifat (secara harfiah berarti “mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya”), yaitu menegaskan bahwa nama-nama serta sifat-sifat Allah itu sangat khusus dan tidak ada yang dapat menyerupai-Nya.
  3. Tauhid al-Ibadah/Uluhiyah (secara harfiah berarti “mengesakan Allah dalam peribadatan”), yaitu menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Perlu diketahui bahwa seperti halnya ilmu hadits, ilmu fiqh, dan ilmu semacamnya yang belum ada pada masa Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Pembagian tauhid ini merupakan upaya dari para ulama terdahulu untuk memudahkan umat Islam memahami keesaan Allah dan menguraikan konsep keimanan dalam Islam secara lebih jelas.

Pembagian ini juga memudahkan dalam mengenali berbagai penyimpangan atau kesesatan dari aqidah yang lurus, yang biasanya dapat diklasifikasikan sebagai penyimpangan dalam salah satu dari ketiga aspek tersebut. Tentunya, pembagian tauhid ke dalam tiga aspek yang telah disebutkan di sini semuanya berlandaskan pada dalil-dalil yang shahih dan tidak mengada-ada, yang insya Allah akan dibahas dalam pelajaran lebih lanjut.

Tinjauan Sejarah

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi para ulama merumuskan tauhid ke dalam konsep-konsep yang spesifik. Pada masa Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, kita tidak membutuhkan klasifikasi ini secara spesifik karena setiap permasalahan yang ada dapat langsung dikonsultasikan kepada beliau. Orang-orang mukmin dan kafir dapat dikenali langsung oleh beliau melalui wahyu. Perbuatan-perbuatan serta keyakinan-keyakinan yang menyalahi syariat Islam akan langsung diluruskan.

Seiring wafatnya Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam dan menyebarnya Islam ke daerah-daerah yang sebelumnya menganut berbagai macam kepercayaan dan budaya (seperti Mesir, Romawi, Persia, dan India), merupakan hal yang alamiah akan terjadinya penyerapan kepercayaan ataupun budaya lokal oleh penduduk setempat yang bercampur dengan Islam. Konsep Islam yang murni dengan demikian perlu dijaga dan dibedakan dengan kepercayaan-kepercayaan serta budaya-budaya lain yang dimiliki oleh orang-orang yang baru masuk Islam.

Ada pula orang-orang yang memang sengaja mencampuradukkan Islam dengan ajaran lain yang kemudian mempengaruhi sebagian dari umat Islam dan menimbulkan kebingungan akan mana konsep Islam yang murni. Tidak jarang, ide-ide yang sesat dianggap sebagai kebenaran, sementara kebenaran itu sendiri dianggap sebagai kesesatan. Sebagai contohnya adalah dalam persoalan takdir, ada sebagian muslim yang tidak meyakini qadar Allah dan mereka menganggap setiap nasib ataupun perbuatan manusia itu pengetahuan Allah. Pemahaman seperti ini merupakan pemahaman yang sesat yang berawal dari penyusupan ideologi Nasrani yang menghendaki manusia memiliki kebebasan dalam berbuat.

Merujuk pada beberapa sejarawan (misalnya dalam Tahdzib at-Tahdzib oleh Ibnu Hajar), disebutkan bahwa “muslim” pertama yang terang-terangan menyatakan tidak ada faktor takdir dalam kehidupan adalah mualaf dari Nasrani bernama Sausan, yang tinggal di Irak pada masa awal Dinasti Bani Umayyah. Sausan sebenarnya kembali lagi menjadi seorang Nasrani, tetapi ia sempat menyebarkan pemahaman sesatnya itu melalui muridnya yang bernama Ma’bad bin Khalid al-Juhani dari Basrah. Ma’bad menyebarkan ajaran tersebut hingga ia akhirnya ditangkap dan dieksekusi oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705) pada tahun 700 M.

Pada masa tersebut ada generasi shahabat yang masih hidup, yaitu Abdullah ibnu Umar (meninggal 694 M) dan Abdullah ibnu Abi Aufa (meninggal 705 M) radhiyallahu’anhum, yang sempat menasihati masyarakat agar tidak bergaul dengan orang-orang yang menolak takdir. Kedua shahabat ini bahkan menyatakan haramnya menyalatkan orang-orang tersebut, yang dengan kata lain juga menyatakan mereka sebagai kafir. Sayangnya, pemahaman sesat ini terlanjur menyebar dan mendapatkan beberapa pendukung.

Tokoh sesat lainnya yang cukup terkenal pada masa Dinasti Bani Umayyah adalah Al-Ja’d bin Dirham. Ia tidak hanya mendukung filsafat kebebasan manusia (menolak takdir), tetapi juga mencoba menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang terkait sifat-sifat Allah dengan menggunakan filsafat Yunani (Plato). Dalam salah satu kuliahnya di Damaskus, Al-Ja’d secara terang-terangan menyatakan bahwa ia tidak meyakini beberapa nama Allah seperti Maha Melihat, Maha Mendengar, dst, hingga akhirnya gubernur Damaskus mengusirnya. Al-Ja’d kemudian pindah ke Kufah dan melanjutkan penyebaran paham sesatnya. Gubernur Khalid bin Abdullah akhirnya mengeksekusi Al-Ja’d pada 736 M.

Salah satu murid Al-Ja’d yang bernama Jahm bin Safwan masih dapat melanjutkan pengajaran filsafat sesat dengan beberapa variasi lain di daerah Tirmidz dan Balakh. Jahm bin Safwan merupakan pencetus ajaran yang dikenal dengan nama “Jahmiyyah”. Paham Jahmiyyah dapat dikatakan sebagai induk dari berbagai paham sesat lainnya yang menyebar cukup luas, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyyah, dan Qadariyyah.

Jahmiyyah dalam masalah tauhid menolak sifat-sifat Allah, sedangkan dalam masalah takdir menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Selain itu, dalam masalah keimanan mereka menyatakan bahwa iman cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Konsekuensi dari pendapat ini adalah bahwa pelaku dosa besar justru merupakan seorang mukmin yang sempurna imannya. Seiring disadarinya kesesatan pemahaman ini oleh masyarakat, Gubernur Nasr bin Sayyar kemudian mengeksekusi Jahm pada 743 M.

Dapat kita lihat bahwa para khalifah generasi awal dan kaum muslimin saat itu masih sangat dekat dengan prinsip-prinsip Islam yang murni. Kesadaran masyarakat akan bahayanya pemahaman-pemahaman sesat yang datang dari agama lain maupun budaya luar sangatlah tinggi. Kesadaran ini didukung pula dengan adanya beberapa shahabat dan murid-muridnya (Tabi’in) yang masih hidup. Eksekusi terhadap tokoh-tokoh sesat bahkan dilakukan oleh petinggi negara. Namun, semakin jauh jarak masyarakat dengan masa generasi shahabat dan murid-muridnya, semakin rendah pula kesadaran akan paham-paham sesat yang menyusup ke dalam Islam. Semakin banyak orang yang masuk Islam dari berbagai wilayah dunia, semakin rentan pula kondisi masyarakat saat itu untuk menerima keyakinan-keyakinan yang tidak pernah ada dalam ajaran Islam yang murni.

Berangkat dari kondisi tersebut, para ulama sebagai “pewaris para nabi” tidak tinggal diam untuk menjaga umat Islam agar tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam sesuai apa yang telah diajarkan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam dan apa yang dipahami oleh para shahabat radhiyallahu’anhum. Karena para penyebar kesesatan mencoba menipu umat dengan cara yang seolah “ilmiah” atau “intelek”, selayaknya para ulama pun menangkalnya dengan metode-metode keilmuan yang mumpuni dan sistematis.

Dari sinilah, ilmu tauhid muncul dengan berbagai perinciannya (begitu pula dengan cabang ilmu Islam lainnya) yang tentunya diuraikan berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah. Penguasaan ilmu tauhid, pemahaman yang benar terhadapnya, dan aplikasinya dalam kehidupan kita sehari-hari, insya Allah akan membawa kita pada kebaikan di dunia dan di akhirat.

Tauhid ar-Rububiyah

Aspek tauhid ini berlandaskan pada konsep mendasar bahwa hanya Allah-lah yang menyebabkan segala hal muncul dari ketiadaan. Dia-lah yang menjaga dan memelihara makhluk-Nya tanpa keterbutuhan terhadap makhluk. Dia-lah satu-satunya penguasa alam semesta dan seluruh isinya tanpa ada yang dapat menyamai-Nya.

Dalam bahasa Arab, kedudukan pencipta dan pemelihara yang melekat pada Allah dikenal dengan istilah “Rububiyah”, yang diturunkan dari akar kata “Rabb” (dalam bahasa Indonesia secara kasar dapat diterjemahkan menjadi: Tuhan, Raja, Penguasa). Berdasarkan aspek tauhid ar-Rububiyah ini, Allah adalah satu-satunya kekuatan yang memungkinkan untuk terciptanya alam semesta beserta isinya.

Memahami tauhid ar-Rububiyah berarti mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa yang mampu mengendalikan dan berkehendak atas segala ciptaan-Nya. Tidak ada segala sesuatu pun dapat tercipta dan dapat terjadi kecuali jika Allah mengizinkannya. Terkait hal ini, Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam kerap mengucapkan kalimat, “Laa haula walaa quwwata illaa billaah,” yang bermakna tidak ada daya dan kekuatan selain dengan kehendak Allah.

Dalam Al-Quran, aspek tauhid ar-Rububiyah disebutkan dalam banyak ayat. Di antaranya:

اللَّـهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” [Q.S. Az-Zumar: 62]

وَاللَّـهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Allah-lah yang menciptakan kamu semua dan apa yang kamu perbuat.” [Q.S. Ash-Shoffaat: 96]

… مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah…” [Q.S. Ath-Thaghabun: 11]

Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam lebih lanjut menjabarkan, “Sadarilah, bahwa jika seluruh manusia bergabung untuk melakukan sesuatu yang dapat menolongmu, mereka akan mampu melakukannya hanya dalam hal yang Allah sudah tetapkan bagimu. Demikian pula, jika seluruh manusia bergabung untuk membahayakanmu, mereka hanya mampu melakukannya dalam hal yang Allah sudah tetapkan bagimu.” [HR. Tirmidzi, dimasukkan juga oleh Imam Nawawi dalam Hadits Arba’in No. 19]

Dengan demikian, apa yang manusia anggap sebagai keberuntungan atau ketidakberuntungan sebenarnya merupakan kejadian yang telah Allah tetapkan sebagai bagian dari ujian kehidupan. Setiap peristiwa akan selalu mengikuti pola dan ketetapan dari Allah.

Allah Subhanaahu wa Ta’ala berfirman,

… يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُ‌وهُمْ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya pada istri-istrimu dan anak-anakmu terdapat musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” [Q.S. Ath-Thaghabun: 14]

Maksud dari ayat ini yaitu bahwa dalam hal-hal baik yang ada di dunia terdapat ujian-ujian keimanan untuk setiap orang. Dan tentu saja, dalam hal-hal yang tampak buruk bagi manusia pun terdapat ujian keimanan, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَ‌اتِ ۗ وَبَشِّرِ‌ الصَّابِرِ‌ينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” [Q.S. Al-Baqarah: 155]

Kadang kala, pola dari setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini dapat dikenali, yaitu untuk kejadian-kejadian yang melibatkan hubungan sebab akibat. Namun, kadang-kadang polanya tidak bisa ditebak. Misalnya, pada kejadian yang menghasilkan hal-hal baik walaupun dari niat yang buruk, atau sebaliknya kejadian yang tampak buruk walaupun dengan niat yang baik.

Allah telah menjelaskan bahwa kebijaksanaan di balik kehendak-kehendak-Nya adalah di luar jangkauan nalar manusia yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan manusia.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَ‌هُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ‌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ‌ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ …

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Q.S. Al-Baqarah: 216]

Jadi, jangkauan pengaruh kekuatan manusia dalam menentukan hasil dari setiap perbuatan itu adalah terbatas pada kemampuannya “memilih” upaya yang dapat dilakukannya, dan bukan “memilih” hasil yang diinginkannya. Dengan kata lain, “Manusia berupaya, Allah yang menentukan hasilnya.”

Apa yang tampak sebagai “keberuntungan” dan “ketidakberuntungan” pada dasarnya sama-sama ketetapan Allah dan bukan disebabkan oleh (misalnya) jimat-jimat atau pertanda tertentu. Bahkan, keyakinan terhadap jimat dan pertanda tertentu merupakan dosa besar yang masuk ke dalam syirik (penyekutuan) kepada Allah.

Uqbah radhiyallah’anhu, salah seorang shahabat, menceritakan bahwa suatu ketika sekelompok laki-laki (10 orang) mendekati Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam untuk menyatakan kesetiaan mereka pada beliau. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam menerima sumpah sembilan dari mereka tetapi menolak sumpah satu orang lagi.

Ketika mereka bertanya mengapa beliau menolak sumpah satu orang itu, beliau menjawab, “Sesungguhnya dia mengenakan jimat penangkal bala.” Orang yang mengenakan jimat itu lantas membuang jimatnya, menghancurkannya, dan mengulang sumpahnya. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam kemudian menerima sumpahnya dan berkata, “Barangsiapa yang mengenakan jimat penangkal bala sesungguhnya ia telah berbuat syirik.” [HR. Ahmad]

Sementara itu, terkait kebiasaan sebagian dari kaum muslimin yang menggunakan Al-Quran untuk membawa keberuntungan dan menghindarkan dari keburukan dengan cara tertentu yang tidak diajarkan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, maka kita ingat sabda beliau, “Barangsiapa yang menambah-nambahkan ke dalam agama (Islam) sesuatu yang tidak ada landasannya, maka amalnya akan tertolak.” [HR. Bukhari No. 861, HR. Muslim No. 4266]

Sebagai contoh, penggunaan Al-Quran untuk keperluan seperti mengusir jin pun harus mengikuti ketentuan yang telah diajarkan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Dalam sebuah peristiwa ketika Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam terkena mantra oleh seorang penyihir, beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu membaca Surat Al-Falaq dan An-Naas untuknya. Demikian pula ketika beliau sakit, beliau cukup membaca kedua surat itu (rujukan: HR. Bukhari No. 535 dan HR Muslim No. 5439).

Jadi, fungsi Al-Quran sebagai perlindungan bukanlah dengan cara mengalungkannya pada badan kita, atau menempelkannya di dinding. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam tidak mengajarkan yang demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)